Ketua AWS Soroti Dampak Sosial Mudik Lebaran: Antara Tradisi dan Tantangan

Reporter : -
Ketua AWS Soroti Dampak Sosial Mudik Lebaran: Antara Tradisi dan Tantangan
ilustrasi mudik

Surabaya,JatimUPdate.id – Tradisi mudik Lebaran menjadi momen yang dinanti masyarakat Indonesia. Namun, di balik euforia tersebut, terdapat berbagai dampak sosial yang perlu dicermati.

Ketua Aliansi Wartawan Surabaya (AWS), Kiki Kurniawan, menilai mudik membawa dampak positif sekaligus negatif yang berpengaruh pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Ketua AWS: Ucapan Wali Kota Soal Curanmor dari Luar Kota Bisa Pecah Hubungan Antardaerah

"Di sisi positif, mudik menjadi momen penting untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkuat hubungan keluarga. Ini adalah kesempatan langka bagi banyak orang untuk berkumpul bersama keluarga besar," ujar Kiki Kurniawan, Jumat (28/3).

Menurutnya, tradisi saling berkunjung, bermaaf-maafan, dan berbagi rezeki saat mudik turut meningkatkan solidaritas sosial. Bahkan, dampak ekonomi lokal pun terasa, utamanya bagi pedagang kecil dan usaha transportasi yang mendapat berkah dari arus pemudik.

"Selain itu, mudik juga berperan dalam pelestarian budaya. Tradisi ini menjadi ajang untuk mempertahankan adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun," tambahnya.
Namun, di balik manfaat tersebut, Kiki Kurniawan mengingatkan adanya dampak negatif yang tidak bisa diabaikan.

"Kemacetan parah dan lonjakan jumlah penduduk sementara di kampung halaman sering menjadi persoalan utama saat musim mudik," jelasnya.

Baca Juga: Kabinet Surabaya Berkah, Ketua Aliansi Wartawan Surabaya: Panggung Partai Politik atau Ruang Publik?

Tak hanya itu, ia menyoroti potensi meningkatnya tindak kriminalitas yang kerap terjadi selama musim mudik, seperti pencurian rumah kosong dan aksi penipuan di perjalanan.

"Tekanan sosial dan ekonomi juga muncul. Banyak orang merasa terbebani secara finansial karena biaya besar yang harus dikeluarkan untuk perjalanan, oleh-oleh, hingga kebutuhan lainnya," imbuh Kiki.

Ia menambahkan, yang lebih krusial risiko penyebaran penyakit akibat tingginya mobilitas pemudik.

Baca Juga: Masa Angkutan Lebaran 2025, KAI Daop 8 Surabaya Layani 968.214 Pelanggan

Ia menyoroti kasus pandemi COVID-19 sebagai contoh nyata bagaimana aktivitas mudik berkontribusi pada lonjakan penularan virus. Kendati begitu, Kiki menegaskan mudik tetap menjadi tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.

"Karena itu, mudik harus dipikirkan secara bijak, baik dari sisi keuangan, mental, maupun kesehatan. Pandai-pandailah mengatur segala sesuatunya agar momen bahagia ini tidak berujung masalah. Tradisi ini sangat berharga, tapi jangan sampai kita abai terhadap potensi dampak negatifnya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengantisipasinya agar mudik tetap berjalan aman dan nyaman," demikian Kiki Kurniawan. (roy)

Editor : Miftahul Rachman