PA GMNI Jatim, Kongres Persatuan: Akhiri Perpecahan, Satu GMNI, Satu Indonesia

Reporter : -
PA GMNI Jatim, Kongres Persatuan: Akhiri Perpecahan, Satu GMNI, Satu Indonesia
Saifudin Zuhri, dok istimewa

Surabaya, JatimUPdate.id - Sekretaris Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Jawa Timur Saifudin Zuhri, mendukung pembentukan Badan Pekerja Kongres Nasional GMNI XXII untuk mengakhiri dualisme kepemimpinan Imanuel Cahyadi-Soejahri Somar dan Arjuna Putra Aldino-M. Ageng Dendy Setiawan. 

Sebab, beber anggota DPRD Jatim tersebut, GMNI merupakan organisasi berideologi Marhaenisme, lahir dari semangat perjuangan Bung Karno untuk membangun bangsa yang merdeka, dan berdaulat.

Baca Juga: Analisis Kritis atas Polarisasi, Hilangnya Fungsi Ideologis, dan Transformasi menjadi Tangga Karier

"Kami menyambut hangat inisiatif strategis dengan pembentukan Badan Pekerja Kongres Nasional XXII Tahun 2025. GMNI sebagai organisasi yang berideologi Marhaenisme, lahir dari semangat perjuangan Bung Karno untuk membangun bangsa yang bersatu, merdeka, dan berdaulat," tutur Saifudin, Sabtu (5/7).

Menurut eks Sekretatis Cabang DPC GMNI Malang itu, dengan semangat perjuangan Bung Karno Kongres Persatuan GMNI menjadi momen penting dan bersejarah.

Pun diharapkan mengembalikan GMNI ke rumah besar perjuangan, dan tidak terjadi perpecahan lagi.

"Dalam semangat itulah, Kongres Persatuan GMNI menjadi momen yang amat penting dan bersejarah: mengembalikan GMNI ke rumah besar perjuangan yang satu, tak terbagi, dan tak terpecah." ujar dia.

Saifudin menegaskan jika GMNI masih larut dalam perpecahan, ia menganggap GMNI telah menyisihkan ajaran Sang Proklamator.

Baca Juga: HMI dan GMNI: Survival dalam Gerak Zaman, Melawan “Serakahnomics” sebagai Musuh Baru Republik 

Pasalnya sebut dia, organisasi yang mengaku berpijak pada ajaran Bung Karno anti perpecahan. 

"Maka ketika hari ini GMNI justru terpecah, kita harus bertanya: di mana ajaran Bung Karno yang kita amalkan? Organisasi yang mengaku berpijak pada ajaran Bung Karno tidak mungkin menormalisasi perpecahan. Persatuan bukan hanya jargon, tapi roh dari ideologi Marhaenisme itu sendiri." bebernya.

Saifudin menegaskan, Bung Karno tak hanya mengajarkan revolusi, tapi juga menanamkan gotong royong, toleransi, dan semangat kebersamaan dalam membangun bangsa.

Baca Juga: Perkuat Karakter Kader GMNI Fisip UNTAG Surabaya Gelar KTD

"Kongres Persatuan GMNI adalah titik balik untuk keluar dari kebuntuan sejarah. Bukan soal siapa yang benar dan siapa yang salah, tapi bagaimana generasi muda yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia bisa bersatu kembali dalam satu barisan ideologis, satu garis juang, dan satu suara untuk Indonesia Raya." urainya.

Maka dari itu, Saifudin mengajak kader dan alumni membuka lembaran baru, mengakhiri perpecahan, dan kembali berpijak kepada ajaran Bung Karno

"Mari kita buka lembaran baru, kita akhiri perpecahan, kembali kepada Bung Karno, kepada Marhaen, kepada rakyat. Satu GMNI, Satu Marhaenisme, satu Indonesia," demikian Saifudin Zuhri. (Roy)

Editor : Miftahul Rachman