Merdeka dalam Tauhid
Oleh: Ponirin Mika
Jurnalis JatimUPdate.id, Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo.
Baca Juga: Daftar Guru dan Tenaga Kependidikan Inspiratif 2022 Dari Jawa Tmur
Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id : Manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan merdeka. Kemerdekaan itu bukan hanya dalam arti fisik, tetapi yang paling mendasar adalah kebebasan spiritual dan eksistensial—yakni ketika manusia tidak bergantung pada selain Allah.
Ketika seorang hamba menggantungkan seluruh hidup, harapan, dan kekhawatirannya hanya kepada Allah, maka ia sejatinya telah mencapai puncak dari kemerdekaan itu sendiri.
Sebaliknya, manusia yang bergantung pada sesama makhluk sejatinya sedang memperbudak dirinya sendiri. Ia telah kehilangan otonominya sebagai makhluk yang diberi kehendak dan kebebasan oleh Tuhan.
Ketika seseorang lebih takut pada manusia daripada kepada Tuhan, maka pada saat itu pula ia telah meruntuhkan martabat keimanannya.
Dalam sejarah pemikiran Islam, banyak tokoh yang menegaskan pentingnya kebebasan yang berlandaskan tauhid. Imam Al-Ghazali misalnya, menegaskan bahwa "Ketergantungan pada makhluk adalah bentuk keterasingan dari Tuhan."
Dalam Ihya’ Ulumuddin, ia menjelaskan bahwa jiwa yang bersandar pada selain Allah akan mengalami kehampaan dan penderitaan batin.
Ibn Taymiyyah berkata, “Orang yang paling merdeka adalah orang yang paling kuat tawakkalnya kepada Allah.”
Pandangan ini menunjukkan bahwa kemerdekaan sejati bukanlah terbebas dari aturan, tetapi bebas dari dominasi hawa nafsu dan kekuasaan manusia lain, karena jiwanya sepenuhnya percaya pada kehendak Allah.
Sementara itu, Rumi, penyair sufi besar dari Persia, menyatakan, “Lepaskan dirimu dari segala sesuatu kecuali Allah, maka kamu akan terbang bebas.”
Dalam puisinya, ia sering menggambarkan bahwa keterikatan kepada dunia adalah belenggu yang merantai jiwa manusia, sedangkan cinta kepada Allah adalah jalan menuju pembebasan.
Buya Hamka, ulama dan cendekiawan besar Indonesia, dalam Tafsir Al-Azhar, menulis: “Orang yang merasa kuat dengan kekuatan manusia lain, akan selalu merasa lemah.
Tetapi orang yang bersandar kepada Allah, walau seluruh dunia memusuhinya, dia tetap kuat.” Hamka mengajarkan bahwa iman adalah fondasi utama untuk menegakkan harga diri manusia.
Malik bin Nabi, pemikir Islam dari Aljazair, dalam bukunya The Conditions of the Renaissance, menyatakan bahwa
“Kehinaan umat terjadi ketika mereka menggantungkan kebangkitan pada kekuatan luar, bukan pada daya ruhani dan spiritualitas mereka sendiri.”
Artinya, ketika umat Islam lupa bahwa kemerdekaan sejati datang dari dalam diri dan dari Allah, maka mereka akan terus terjajah, meskipun secara fisik tampak merdeka.
Kemerdekaan dalam Islam bukanlah kebebasan absolut tanpa batas. Ia adalah kebebasan yang bertanggung jawab, kebebasan yang tetap tunduk kepada nilai-nilai Ilahiyah.
Manusia bebas untuk memilih, namun kebebasannya itu harus diarahkan untuk mengabdi kepada Allah, bukan menjadi budak hawa nafsu atau sistem yang menindas.
Dalam konteks sosial, orang yang merdeka adalah orang yang mampu menolak tekanan untuk melakukan kebatilan. Ia tidak mudah dibeli, tidak mudah diintimidasi.
Ia sadar bahwa harga dirinya sebagai hamba Allah jauh lebih tinggi dari dunia dan seisinya. Inilah bentuk kemerdekaan sejati yang diimpikan oleh para nabi dan ulama pewarisnya.
Merdeka secara spiritual berarti mampu berkata “cukup” pada dunia dan berkata “iya” pada perintah Allah.
Orang yang merdeka hatinya akan mudah menerima kebenaran, tidak terbelenggu oleh ego, dan tidak terseret oleh opini mayoritas yang menyesatkan. Ia hidup dengan kompas nilai yang kokoh.
Dalam pendidikan, anak-anak harus diajarkan sejak dini bahwa ketergantungan pada manusia itu melemahkan, sementara ketergantungan kepada Allah itu menguatkan.
Mereka harus dibiasakan percaya diri, berani mengambil keputusan berdasarkan prinsip, dan tidak mudah goyah oleh tekanan sosial.
Di tengah dunia yang serba materialistik ini, godaan untuk bergantung pada jabatan, uang, atau kekuasaan sangatlah kuat.
Maka menjaga hati agar tetap bergantung kepada Allah adalah jihad tersendiri. Itulah sebabnya dzikir dan doa menjadi makanan ruhani yang tidak boleh ditinggalkan.
Islam tidak mengajarkan ketakutan terhadap sesama makhluk. Seorang Muslim sejati tidak akan tunduk kepada intimidasi manusia, karena hatinya hanya takut kepada Allah.
Seperti Bilal bin Rabah yang terus mengucapkan “Ahad… Ahad…” meski disiksa, itulah simbol tertinggi kemerdekaan spiritual.
Kemerdekaan juga berarti kejujuran dalam bersikap. Tidak ada kemerdekaan dalam kepalsuan.
Orang yang menyembunyikan kebenaran demi keuntungan pribadi atau takut kepada tekanan sosial sejatinya telah memenjarakan dirinya sendiri.
Kita juga harus memahami bahwa penjajahan zaman ini tidak selalu berwujud fisik, tapi juga mental dan spiritual.
Orang yang hidup dalam ketakutan, ketergantungan, dan kemunafikan telah terjajah jiwanya. Maka membebaskan diri dari itu semua adalah misi besar setiap insan beriman.
Merdeka dari belenggu dosa juga bagian dari kemerdekaan hakiki. Karena dosa membuat hati gelap, jiwa sempit, dan akal tumpul.
Taubat adalah pintu kebebasan yang dibuka oleh Allah bagi siapa pun yang ingin kembali kepada fitrahnya sebagai makhluk yang merdeka.
Maka penting bagi setiap Muslim untuk terus mengevaluasi: kepada siapa ia bergantung?
Apakah ia telah membebaskan jiwanya dari belenggu dunia? Apakah keputusannya sehari-hari lebih didikte oleh manusia atau oleh petunjuk Allah?
Ulama terdahulu sangat keras dalam menjaga kemerdekaan ini. Mereka lebih memilih miskin daripada menerima harta dari penguasa zalim.
Mereka lebih memilih dipenjara daripada menyetujui kezaliman. Mereka benar-benar merdeka, karena hati mereka hanya tertambat kepada Allah.
Dalam hidup berbangsa, makna kemerdekaan ini pun harus ditegakkan.
Negara yang merdeka secara politik tetapi warganya masih takut menyuarakan kebenaran sejatinya belum benar-benar merdeka.
Maka ruh tauhid harus menjadi fondasi dalam membangun masyarakat merdeka.
Kemerdekaan yang diberikan Allah ini harus dirawat, sebagaimana anugerah lainnya. Ia bisa rusak jika kita menjadi lalai, lemah, dan terlalu cinta dunia.
Maka dzikir, ilmu, dan keberanian harus dijaga agar kemerdekaan ruhani ini tetap kokoh.
Penutup dari opini ini adalah seruan kepada semua hati yang ingin merdeka: gantungkanlah harapanmu hanya kepada Allah.
Jangan biarkan dunia, kekuasaan, atau manusia mencuri kemerdekaanmu. Karena hanya dengan itu, engkau akan menemukan jati dirimu yang sejati sebagai hamba yang bebas. (pm/yh).
Editor : Yuris. T. Hidayat