DKJT dan GMNI Surabaya Dorong Kebudayaan Jadi Fondasi Kemandirian Bangsa di Era Digital

Reporter : -
DKJT dan GMNI Surabaya Dorong Kebudayaan Jadi Fondasi Kemandirian Bangsa di Era Digital
GMNI Surabaya Raya dan DKJT

Surabaya,JatimUPdate.id - Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) bersama Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Surabaya Raya menggelar diskusi kebudayaan bertajuk “Kebudayaan sebagai Fondasi Kemandirian Bangsa di Era Digital dan Tantangan Globalisasi”, di Balai Pemuda Surabaya.

Ketua DPC GMNI Surabaya Raya, Ni Kadek Ayu Wardani, berharap diskusi ini menjadi bentuk kesadaran kolektif generasi muda dalam memperkuat basis ideologis dan kultural di tengah derasnya arus globalisasi dan kapitalisme digital.

Baca Juga: Spionase Seks Senjata Kuno yang Tetap Ampuh di Era Digital

“Kebudayaan bukan sekadar warisan, tetapi modal perjuangan bangsa untuk berdiri tegak secara mandiri. Generasi muda harus mewarisi semangat Trisakti Bung Karno — berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan,” kata Kadek, melalui keterangannya, Kamis (23/10).

Sekretaris DPC GMNI Surabaya Raya, Alief Susilo Yusuf Hadiwijoyo, menambahkan literasi menjadi benteng utama rakyat di era keterbukaan informasi digital.

“Rakyat harus kuat dalam literasi agar tidak terjebak dalam arus informasi palsu dan ideologi pasar yang menyesatkan. Penguatan karakter bangsa dimulai dari kebudayaan dan pendidikan kritis,” ujarnya.

Ketua DKJT Jawa Timur, Chrisman Hadi, menegaskan tantangan generasi muda masa kini adalah kemampuan memanfaatkan peluang industri kreatif di era digital secara maksimal. 

Ia menyoroti kesenjangan antara kelompok kaum urban terdidik dan kaum proletar sektor riil yang semakin melebar di tengah kemajuan teknologi dan liberalisasi ekonomi global.

Baca Juga: Analisis Kritis atas Polarisasi, Hilangnya Fungsi Ideologis, dan Transformasi menjadi Tangga Karier

“Mahasiswa saat ini hidup dalam kemegahan fasilitas digital, sementara kaum pekerja sektor riil menjadi penyangga sistem ekonomi. Ketika negara mengalami liberalisasi, kritik mendasar terhadap kapitalisme dari liberalisasi. Ketimpangan ini harus dijembatani dengan kesadaran dan gagasan untuk memastikan kesinambungan antara sektor digital dan sektor riil,” ujar Chrisman.

Ia menilai liberalisasi ekonomi dunia sejatinya merupakan pertarungan modal antara negara-negara besar di Timur dan Barat.

Maka dari itu, generasi muda perlu memahami peta geopolitik dan ekonomi global secara objektif dan kritis, tidak dengan pandangan hitam-putih.

"Sebab, selalu ada wilayah abu-abu dalam setiap dinamika global." tukas dia.

Baca Juga: HMI dan GMNI: Survival dalam Gerak Zaman, Melawan “Serakahnomics” sebagai Musuh Baru Republik 

Chrisman menegaskan, kebudayaan menjadi kunci utama jika Indonesia ingin mengejar ketertinggalan di bidang industri dan teknologi.

Ia menyebut, sejumlah peneliti memperkirakan Indonesia membutuhkan waktu 20 hingga 25 tahun untuk benar-benar menunjukkan hasil dari upaya pembangunan yang dijalankan saat ini.

“Keunggulan kita adalah kebudayaan. Tidak ada bangsa yang memiliki keragaman etnik dan varian budaya seperti Nusantara. Namun untuk menjadi bangsa maju, kita harus membuka diri terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri,” tambahnya. (*/Roy)

Editor : Yuris. T. Hidayat