Mahasiswa Kritik Trias Politica, Prof Halkis: Indonesia Tak Menganut Sistem Murni
Kediri, JatimUPdate.id – Guru Besar Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (Unsurya), Prof. Dr. Mhd. Halkis, M.H., meluruskan pandangan kritis mahasiswa yang menilai sistem kekuasaan Indonesia saling menyandera.
Baca Juga: Kasus Lahan Tol Bandara Dhoho Kediri Tetap Diproses, Jaksa Tegaskan Masuk Pidana Umum
Menurutnya, sistem negara Indonesia sejatinya telah ideal berlandaskan Asas Integralistik, sementara persoalan muncul karena aktor-aktor negara tidak menjalankan prinsip ideal tersebut.
Penegasan itu ia sampaikan dalam Workshop Pemberdayaan SEMA dan DEMA UIN Syech Wasil Kediri 2025 bertema “Pendidikan Politik Pemilihan Umum di Indonesia”.
Pernyataan Prof. Halkis muncul setelah Ketua Umum Senat Mahasiswa UIN Syech Wasil Kediri, Ahmad Muchibbudin Mawardi, melontarkan kritik keras terkait praktik pembagian kekuasaan di Indonesia.
Mawardi menilai bahwa sistem Trias Politica tidak berjalan sebagaimana mestinya.
"Secara historis, kita mengadopsi Trias Politica untuk menghindari kekuasaan yang absolut. Tapi faktanya, tiga lembaga ini baik Yudikatif, Legislatif, dan Eksekutif saling menyandera," ujar Mawardi, Kamis (20/11/2025).
Ia mencontohkan dugaan interogasi terhadap calon Hakim Agung atau Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) saat uji kelayakan di DPR. Kondisi itu, menurutnya, membuat hakim merasa tertekan padahal seharusnya netral.
Dari kritik itu, Mawardi meminta pandangan Prof. Halkis terkait sistem negara yang paling ideal untuk diterapkan di Indonesia.
Prof. Halkis menegaskan bahwa Indonesia tidak menganut Trias Politica murni sebagaimana digagas Montesquieu.
"Indonesia tidak menganut Trias Politica dalam bentuk murni," tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa yang diterapkan Indonesia adalah distribution of powers atau pembagian kekuasaan, di mana lembaga negara bekerja secara kooperatif, bukan terpisah secara absolut.
Fondasinya adalah Asas Integralistik gagasan Soepomo, di mana negara berada di atas kepentingan golongan mana pun.
Baca Juga: Tergugat Mangkir, Sidang Gugatan Nenek 72 Tahun Ditunda
"Sistem negara Indonesia sudah ideal," ujarnya. Prof. Halkis menyebut fenomena “saling sandera” yang disebut mahasiswa merupakan ekspresi dari mekanisme checks and balances yang normal dalam sistem tersebut.
Problematika muncul karena aktor negara tidak menjalankan peran sesuai prinsip konstitusional.
"Ia menganalogikannya dengan sebuah alat yang sudah ideal, namun digunakan oleh orang yang tidak ideal," ujarnya.
Selain isu ketatanegaraan, Mawardi juga mengeluhkan degradasi organisasi mahasiswa, di mana mahasiswa, menurutnya, "tidak terlalu paham betul mengenai kebijakan publik, kebijakan kampus, dan perumusan undang-undang."
Menjawab itu, Prof. Halkis menekankan pentingnya pendidikan politik sejak dini agar mahasiswa tidak mudah terjebak retorika tanpa pemahaman substantif.
" Saya menekankan bahwa mahasiswa harus kritis, namun sifat kritis tersebut harus konstruktif dan berbasis data," tegas Prof. Halkis.
Ia memberi contoh, mahasiswa seharusnya mampu membaca dan mengkritisi anggaran kementerian, termasuk anggaran TNI yang mencapai ratusan triliun.
Baca Juga: Persik Kediri Siap Tempur Lawan Persib, Reina Sesalkan Stadion Tak Bisa Penuh
Tanpa pengetahuan dasar, kritik mahasiswa, menurutnya, hanya akan dianggap wacana kosong.
Ia mendorong mahasiswa fokus pada isu fundamental seperti Bela Negara dan Ancaman Negara, baik ancaman militer maupun non-militer seperti cyber warfare, bencana alam, hingga ancaman ekonomi.
Sebagai bentuk dukungan, Prof. Halkis membuka pintu kolaborasi akademik.
"Kami menyambut baik tawaran kolaborasi dan mengundang secara resmi mahasiswa UIN Syech Wasil Kediri untuk datang ke Unhan," paparnya.
Ia menegaskan komitmennya untuk segera mengirim surat resmi kepada Rektor UIN Syech Wasil Kediri guna memfasilitasi rencana kerja sama tersebut.
Sebelum mengakhiri pertemuan, Prof. Halkis menyampaikan pesan penutup. Ia berharap organisasi mahasiswa di Kediri semakin solid, berpengetahuan, dan memiliki daya tawar kuat dalam dinamika kebijakan nasional.
“Saya berharap agar mahasiswa melakukan konsolidasi internal di Kediri terlebih dahulu, baik di Senat Mahasiswa maupun BEM,” ungkapnya.(mam/yh))
Editor : Yuris. T. Hidayat