Ray Rangkuti: Kriminalisasi Aktivis Meningkat, Demokrasi Indonesia Dalam Ancaman
Jakarta, JatimUPdate.id - Gelombang kekhawatiran terhadap kondisi demokrasi di Indonesia semakin menguat. Aktivis politik Ray Rangkuti menyoroti meningkatnya kriminalisasi terhadap aktivis sebagai indikasi serius melemahnya kebebasan sipil.
Dalam pernyataannya di forum Komunitas Ciputat, Ray menegaskan bahwa tren pelaporan terhadap aktivis yang kritis terhadap pemerintah tidak bisa dianggap sebagai hal biasa dalam negara demokrasi.
“Hentikan kriminalisasi terhadap para aktivis. Sudah ada lebih dari seribuan anak muda yang menghadapi proses hukum karena sikap kritis mereka,” ujar Ray, Kamis (16/4/2026).
Ia mengingatkan bahwa penegakan hukum yang diarahkan kepada kelompok kritis justru berpotensi mengaburkan prinsip keadilan. Bahkan, menurutnya, kondisi tersebut dapat memicu siklus konflik hukum yang tidak berujung.
Pernyataan ini juga dikaitkan dengan sikap pemerintah, termasuk pernyataan Prabowo Subianto yang sempat menyinggung soal “penertiban” terhadap pengamat. Ray menilai narasi tersebut dapat memperkuat persepsi bahwa kritik dipandang sebagai ancaman.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa demokrasi hanya dapat tumbuh dalam ruang yang bebas dari rasa takut. Ketika kritik dibatasi, maka yang terjadi bukan stabilitas, melainkan pembungkaman.
“Demokrasi hidup dari kritik dan perbedaan. Ketika itu dianggap ancaman, maka yang dijaga bukan negara, tetapi kekuasaan,” tegasnya.
Selain itu, aktivis lain seperti Ridwan Darmawan juga menilai bahwa ruang publik saat ini menghadapi tekanan yang semakin besar. Ia menekankan pentingnya menjaga keberanian masyarakat dalam menyampaikan pendapat sebagai bagian dari kontrol terhadap kekuasaan.
Komunitas Ciputat dalam pernyataannya menilai, kondisi ini diperparah dengan melemahnya fungsi pengawasan lembaga negara, sehingga kekuasaan eksekutif dinilai berjalan tanpa penyeimbang yang kuat.
Dalam situasi tersebut, masyarakat sipil disebut menjadi pilar terakhir dalam menjaga kualitas demokrasi. Namun, jika tekanan terhadap kelompok ini terus meningkat, maka risiko kemunduran demokrasi dinilai semakin nyata.
Sebagai langkah konkret, mereka mendesak penghentian segala bentuk intimidasi terhadap aktivis, serta meminta pemerintah membuka ruang dialog yang sehat dengan masyarakat.
“Demokrasi tidak boleh berjalan dalam ketakutan. Kritik adalah bagian dari solusi, bukan ancaman,” tutup Ray (*)
Editor : Redaksi