Mahasiswa UNG Raih Dua Gelar di International Student Summit Malaysia, Inovasi AI Siswa Surabaya Turut Bersinar

avatar Imam Hambali
  • URL berhasil dicopy
Foto-foto para juara.
Foto-foto para juara.

 

Gorontalo, JatimUPdate.id - Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menorehkan prestasi di tingkat internasional.

Dua mahasiswa Program Studi Teknik Industri UNG berhasil membawa pulang dua gelar juara dalam ajang 3rd International Student Summit (ISS) 2026 – Chapter Malaysia.

Moh. Aditya Maulana Daud berhasil meraih Gold Medal, sedangkan Ni Kadek Lia Sanjiwani menyabet 1st Runner Up atau juara kedua. Kompetisi tersebut berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 12-13 September 2026.

3rd International Student Summit merupakan kompetisi esai dan presentasi internasional yang diselenggarakan oleh Sentosa Foundation. Pada edisi tahun ini, kompetisi mengusung tema “Youth Action for Sustainable Development: Transforming Challenges into Opportunities”.

Sejumlah subtema yang dipertandingkan mencakup lingkungan, teknologi, pendidikan, kesehatan, pertanian, sosial, hingga ekonomi.

Aditya mengikuti kategori Lingkungan, sementara Lia Sanjiwani berkompetisi pada kategori Umum. Pada tahap final, peserta mempresentasikan karya melalui poster yang kemudian dinilai berdasarkan sejumlah aspek, antara lain kesesuaian dengan tema, inovasi, kekuatan argumentasi, serta penggunaan sumber yang kredibel.

Keikutsertaan kedua mahasiswa tersebut merupakan bagian dari delegasi resmi UNG. Berdasarkan surat tugas universitas, Aditya dan Lia ditugaskan mengikuti 3rd ISS 2026 di Malaysia pada 11-14 September 2026.

Keduanya didampingi Andi Maga Umara, dosen Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik UNG.

Prestasi tersebut menjadi capaian penting bagi mahasiswa Teknik Industri UNG. Keberhasilan itu sekaligus menunjukkan bahwa proses pembelajaran di perguruan tinggi tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman berkompetisi dan menguji gagasan di forum internasional.

Melalui kompetisi tersebut, mahasiswa dituntut mampu berpikir kritis, menyusun argumentasi, menghadirkan inovasi, sekaligus mengomunikasikan solusi terhadap persoalan aktual.

Dua gelar dari Malaysia itu diharapkan menjadi pemantik bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan karya dan membawa inovasi dari Gorontalo ke tingkat nasional maupun internasional.

Mahasiswa FKTP UNG Raih Juara 3 KKMN 2026

Prestasi mahasiswa UNG di tingkat nasional juga datang dari Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP).

Tim mahasiswa FKTP UNG yang terdiri dari Muhammad Alfarisi Khaddafi, Aditiya Saputra Y. Mohamad, dan Sitti Anysa Wulansari B berhasil meraih Juara 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah dalam Kompetisi Kemaritiman Mahasiswa Nasional (KKMN) 2026.

Kompetisi tersebut digelar di Universitas Hasanuddin, Makassar, pada 5-6 September 2026. KKMN tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-14 sejak pertama kali digelar pada 2012.

Mengusung tema “Blue Innovation for Global Resilience: Menguatkan Peran Generasi Muda dalam Ekonomi Biru dan Keberlanjutan Maritim Dunia”, kompetisi mempertandingkan empat cabang, yakni Karya Tulis Ilmiah, Poster, Videografer, dan Debat.

Sebanyak 260 tim dari 52 universitas mengikuti kompetisi tersebut. Setelah melalui proses seleksi, 206 tim dari 49 universitas lolos tahap pertama, sedangkan 54 tim dari 19 universitas melaju ke babak final.

Tim FKTP UNG meraih posisi ketiga melalui karya berjudul “Digital Maritime Lore: Pengembangan Pocketbook Interaktif Berbasis Audio-Naratif sebagai Media Transfer Pengetahuan Tradisional Nelayan untuk Mendukung Keberlanjutan Maritim”.

Karya tersebut mengangkat pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung transfer pengetahuan tradisional nelayan sekaligus memperkuat keberlanjutan sektor maritim.

Dalam kompetisi itu, tim mahasiswa FKTP UNG mendapat pendampingan dari Sitty Ainsyah Habibie, M.Sc., selaku dosen pembimbing.

Siswa Surabaya Bawa Inovasi AI ke Panggung Internasional

Selain mahasiswa UNG, inovasi dari Indonesia juga hadir melalui kolaborasi tiga siswa SMA asal Surabaya dalam 3rd International Student Summit 2026 Chapter Malaysia.

Camira Ayesha Noor dari SMA Negeri 5 Surabaya, Queensha Meiko Aurelyta dari SMAN 4 Surabaya, dan Talita Salsabila Fahruddin dari SMAN 2 Surabaya membawa gagasan berjudul “TEMU: Unlocking Hidden Human Capital through AI-Powered Skill Discovery for Inclusive MSME Growth”.

TEMU menawarkan konsep pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk menemukan potensi dan keterampilan tenaga kerja yang belum terlihat dalam sistem rekrutmen konvensional, kemudian menghubungkannya dengan peluang kerja di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Gagasan tersebut berangkat dari sejumlah persoalan ketenagakerjaan, seperti ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri atau skill mismatch, kesenjangan proses rekrutmen, serta potensi tenaga kerja yang tidak terdeteksi hanya melalui ijazah, CV, maupun pengalaman kerja formal.

TEMU dirancang melalui lima konsep utama, yakni Discover, Assess, Match, Upskill, dan Update.

Pada tahap Discover, sistem berupaya mengidentifikasi keterampilan dan potensi tersembunyi. Selanjutnya, tahap Assess menghasilkan Adaptive Economic Skill Score (ESS) untuk mengukur kompetensi berdasarkan kebutuhan pekerjaan.

Tahap Match kemudian mempertemukan talenta dengan peluang yang sesuai di sektor UMKM. Jika masih terdapat kesenjangan kompetensi, sistem menyediakan rekomendasi pembelajaran yang dipersonalisasi melalui tahap Upskill.

Sementara tahap Update memungkinkan profil pengguna terus diperbarui berdasarkan perkembangan keterampilan, pengalaman, sertifikasi, dan kompetensi.

Kelompok yang menjadi sasaran TEMU tidak hanya pencari kerja dengan pengalaman formal, tetapi juga lulusan baru, pekerja informal, perempuan yang kembali ke dunia kerja, hingga penyandang disabilitas.

Gagasan tersebut diharapkan dapat membantu menciptakan proses pencocokan tenaga kerja yang lebih inklusif, mengurangi kesalahan dalam perekrutan, sekaligus meningkatkan produktivitas UMKM.

Keikutsertaan pelajar dan mahasiswa Indonesia dalam berbagai kompetisi tersebut menunjukkan semakin luasnya ruang bagi generasi muda untuk menguji gagasan dan inovasi mereka di tingkat internasional.

Prestasi itu sekaligus menjadi bukti bahwa karya yang lahir dari lingkungan pendidikan di berbagai daerah Indonesia memiliki peluang untuk bersaing dan mendapatkan pengakuan di panggung yang lebih luas.(ih/yh)