APG-LP3ES Jalin Kerjasama, Hajriyanto: Politik Kekaryaan Butuh Tradisi Intelektual

avatar Shofa
  • URL berhasil dicopy
Akademi Partai Golkar-LP3ES
Akademi Partai Golkar-LP3ES

Jakarta, JatimUPdate.id - Akademi Partai Golkar (APG) dan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) menjalin kerja sama untuk memperkuat tradisi intelektual di lingkungan Partai Golkar. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk mendukung pengembangan kader yang tidak hanya aktif dalam politik, tetapi juga memiliki kemampuan membaca, berpikir, dan menghasilkan gagasan.

Direktur Akademi Partai Golkar Hajriyanto Y. Thohari mengatakan penguatan tradisi intelektual memiliki hubungan erat dengan konsep politik kekaryaan yang menjadi bagian dari identitas Partai Golkar.

“Golkar adalah partai karya. Maka politik kekaryaan harus memiliki fondasi intelektual yang kuat. Kader bukan hanya dituntut mampu bekerja dalam politik, tetapi juga membaca, berpikir, menulis, dan menghasilkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Hajriyanto di Sekretariat DPP Partai Golkar, Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Politik Kekaryaan Perlu Fondasi Pengetahuan

Menurut Hajriyanto, aktivitas politik tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan organisasi. Kader juga membutuhkan kapasitas intelektual agar dapat memahami perubahan sosial dan persoalan masyarakat.

Tradisi membaca, meneliti, berdiskusi, dan menulis dinilai menjadi bagian penting dalam membangun kapasitas tersebut.

Karena itu, APG ingin memperkuat peran pendidikan politik sekaligus menciptakan ruang produksi pengetahuan bagi kader. Kerja sama APG dan LP3ES diarahkan untuk membangun ekosistem yang mempertemukan kaderisasi politik dengan penelitian dan pengembangan gagasan.

Sejumlah agenda yang disiapkan mencakup penelitian kolaboratif, penerbitan buku dan jurnal, Sekolah Kebangsaan, serta program lain yang disepakati bersama. Hajriyanto berharap kolaborasi tersebut dapat memperkuat tradisi intelektual di lingkungan Partai Golkar secara berkelanjutan.

Hajriyanto menekankan bahwa kader partai perlu memiliki kemampuan untuk membaca persoalan secara lebih mendalam.

Menurutnya, kader yang bekerja di lembaga legislatif, eksekutif maupun ruang publik membutuhkan perspektif akademik agar mampu menghasilkan gagasan yang relevan.

Karena itu, APG tidak ingin hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan dan kaderisasi, tetapi juga sebagai ruang produksi pengetahuan. Hajriyanto juga menilai proses politik perlu semakin dekat dengan ilmu pengetahuan dan hasil penelitian.

“Politik harus semakin dekat dengan ilmu pengetahuan. Keputusan-keputusan penting bagi masyarakat perlu dibangun di atas data, riset, dan pembacaan yang mendalam terhadap persoalan. Inilah salah satu tradisi yang ingin kita perkuat melalui Akademi Partai Golkar,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan berbasis pengetahuan dapat membantu memperkaya proses perumusan gagasan dan kebijakan.

LP3ES Bawa Tradisi Penelitian dan Publikasi

Ketua Dewan Pengurus LP3ES Abdul Hamid menyambut kerja sama tersebut sebagai momentum untuk mempertemukan kembali dunia politik dengan tradisi intelektual.

LP3ES memiliki pengalaman panjang dalam penelitian, pendidikan, penerbitan, dan diskursus kebijakan publik di Indonesia. Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal dalam pengembangan kerja sama dengan APG.

Abdul Hamid menilai partai politik perlu menjadi institusi yang terus belajar dan membaca perubahan masyarakat.

“Demokrasi yang sehat membutuhkan partai politik yang memiliki kapasitas pengetahuan. Partai politik tidak semestinya hanya hadir menjelang pemilu, tetapi juga menjadi institusi yang terus belajar, melakukan kaderisasi, membaca perubahan masyarakat, dan menghasilkan gagasan bagi masa depan Indonesia,” ujar Abdul Hamid.

Menurutnya, tradisi intelektual perlu dilembagakan melalui kegiatan yang konkret dan berkelanjutan.

Kerja Sama Tak Berhenti pada Dokumen

Abdul Hamid berharap kolaborasi APG dan LP3ES tidak berhenti pada penandatanganan atau kesepakatan formal.

“Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti pada penandatanganan dokumen. Yang jauh lebih penting adalah membangun ekosistem: ada penelitian, ada publikasi, ada sekolah kebangsaan, ada ruang diskusi, dan pada akhirnya lahir pengetahuan yang dapat memberikan kontribusi terhadap kualitas demokrasi dan kebijakan publik,” lanjutnya.

Kerja sama tersebut juga diarahkan untuk memperkuat budaya membaca, meneliti, berdiskusi, dan menulis di lingkungan Partai Golkar.

APG berencana mengembangkan jurnal yang dapat menjadi ruang pertemuan pemikiran antara politisi, akademisi, peneliti, masyarakat sipil, dan generasi muda.

Produk pengetahuan yang dihasilkan diharapkan dapat menjangkau kader dan anggota legislatif Partai Golkar di tingkat pusat maupun daerah.

Melalui kerja sama APG dan LP3ES, tradisi politik kekaryaan diharapkan tidak hanya diterjemahkan dalam aktivitas politik praktis, tetapi juga melalui kemampuan menghasilkan gagasan dan pengetahuan.

Dengan mempertemukan kaderisasi, riset, literasi, dan publikasi, kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas intelektual kader sekaligus membuka ruang kontribusi terhadap diskursus kebijakan publik (*)