Catatan Agus M Maksum
Membaca Blueprint Indonesia: Dari Program Pemerintah Menjadi Gerakan Saudagar
Oleh Agus M Maksum
Surabaya, JatimUPdate.id -
ISMI–Bappenas: menyatukan blueprint pembangunan dengan kekuatan saudagar Muslim, menggerakkan hilirisasi pangan dari desa hingga pasar, menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan kemandirian ekonomi Indonesia.
Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak dari hiruk-pikuk berita, lalu melihat Indonesia dari jarak yang sedikit lebih jauh.
Sebab kalau kita hanya melihat potongan berita, pembangunan negara mudah sekali terlihat sebagai kumpulan program yang berdiri sendiri.
MBG menjadi soal makanan.
Koperasi Desa Merah Putih menjadi soal koperasi.
Hilirisasi menjadi soal pabrik.
Kemudian muncul kritik tentang anggaran, pelaksanaan, distribusi, kualitas, dan berbagai persoalan di lapangan.
Semua kritik itu penting.
Tetapi sebagai orang yang mencoba berpikir seperti perencana pembangunan nasional, saya kira ada pertanyaan yang lebih mendasar:
Sebenarnya ke mana semua program itu sedang diarahkan?
Pertanyaan itu menjadi menarik ketika membaca paparan Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy yang diberitakan Kompas pada 10 Juni 2026.
Menurut Rachmat, Indonesia sudah sekitar 33 tahun terjebak dalam middle income trap. Kita sudah keluar dari kelompok negara berpendapatan rendah, tetapi belum berhasil menjadi negara berpendapatan tinggi. Karena itu, Indonesia membutuhkan pertumbuhan yang lebih tinggi sekaligus penguatan kapasitas produksi, peningkatan pendapatan per kapita, penciptaan lapangan kerja dan penguatan daya saing industri.
Nah, dari sini saya melihat sebuah blueprint.
Bappenas menempatkan 60 program dalam delapan klaster: pangan, energi dan air, pendidikan, kesehatan, hilirisasi dan industrialisasi, infrastruktur, ekonomi kerakyatan dan pembangunan desa, serta penurunan kemiskinan. Yang menarik bukan hanya delapan klaster itu, tetapi hubungan di antara semuanya.
Pangan berhubungan dengan gizi.
Gizi berhubungan dengan pendidikan.
Pendidikan menghasilkan produktivitas.
Produktivitas menguatkan industri.
Industri menciptakan pekerjaan.
Pekerjaan meningkatkan pendapatan.
Dan akhirnya kemiskinan turun.
Ini bukan lagi cara berpikir sebuah program. Ini cara berpikir sebuah ekosistem.
Dan di sinilah saya kira para saudagar Muslim yang berhimpun dalam ISMI perlu mulai menangkap gambar besarnya.
ISMI bukan sekadar tempat berkumpulnya pengusaha. KIBAR ISMI sendiri dirancang sebagai ruang kolaborasi lintas wilayah dan sektor, dengan orientasi dari connect, match, meet sampai deal dan grow.
Maka apa yang sedang dilakukan ISMI di Surabaya seharusnya kita baca dalam perspektif itu.
Bukan seremoni.
Bukan sekadar Rakornas.
Bukan sekadar Expo.
Bukan sekadar saudagar datang, bertemu, berfoto, kemudian pulang.
Surabaya harus menjadi titik awal sebuah tema gerakan.
Gerakan untuk menangkap blueprint pembangunan itu, lalu menerjemahkannya ke dalam kegiatan ekonomi nyata.
Misalnya pangan.
MBG jangan hanya kita lihat sebagai makanan yang sampai ke meja anak sekolah. Kita perlu melihat rantai di belakangnya: petani, peternak, koperasi, pengolah, industri, logistik, standardisasi, pembiayaan dan pasar.
Begitu pula Koperasi Desa Merah Putih. Bappenas sendiri menekankan bahwa koperasi tidak cukup dibentuk secara administratif. Ia membutuhkan digitalisasi, data, pembiayaan, rantai nilai, sarana produksi, pelatihan dan tata kelola.
Maka para saudagar tidak perlu hanya bertanya, “Apa program pemerintah?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Di mana posisi kami dalam rantai nilai itu?”
Di situlah hilirisasi pangan menjadi pintu masuk.
Kopi dari petani tidak berhenti sebagai biji.
Susu tidak berhenti sebagai susu segar.
Singkong tidak berhenti sebagai hasil panen.
Ikan tidak berhenti sebagai komoditas.
Kita dorong menjadi produk yang mempunyai standar, teknologi, kemasan, merek, traceability, pasar domestik dan pasar ekspor.
Dan di situlah KIBAR dan Expo ISMI mempunyai makna.
Kita mempertemukan petani dengan koperasi. Koperasi dengan industri. Industri dengan buyer. UMKM dengan pembiayaan. Teknologi dengan produk. Perguruan tinggi dengan dunia usaha.
Kita mencoba membuat rantai yang selama ini terpisah menjadi tersambung.
Bukan sempurna.
Tetapi mulai tersambung.
Karena blueprint yang bagus tidak akan berarti kalau tidak ada yang mengerjakannya.
Bappenas menyebut RKP 2027 sebagai ekosistem pembangunan, bukan kumpulan proyek kementerian. Bahkan pembangunan kawasan pangan diarahkan untuk menghubungkan produksi, standar mutu, pendampingan petani, produktivitas dan infrastruktur lintas lembaga.
Saya kira di sinilah saudagar Muslim Indonesia mempunyai ruang sejarahnya.
ISMI, dengan jejaring saudagar dari berbagai lingkungan organisasi dan komunitas Islam—termasuk jejaring NU, Muhammadiyah, ICMI dan MUI—dapat menjadikan Surabaya bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi tempat mengubah gagasan menjadi transaksi, kemitraan, produk dan industri.
Kita tidak perlu datang untuk mengatakan bahwa semua program pemerintah sudah benar.
Juga tidak perlu datang hanya untuk mengatakan bahwa semuanya salah.
Kita datang dengan posisi yang lebih dewasa:
Ini blueprint-nya.
Ini kondisi lapangannya.
Ini yang sudah berjalan.
Ini yang belum tersambung.
Ini yang perlu diperbaiki.
Dan kemudian kita ikut mengerjakannya.
Sebab kritik yang paling berguna bukan kritik yang berhenti pada keluhan.
Kritik yang berguna adalah kritik yang menemukan mata rantai yang putus, lalu ikut menyambungkannya.
Maka KIBAR, Rakornas dan Expo Hilirisasi Pangan ISMI di Surabaya kita dorong menjadi awal dari gerakan itu.
Dari network menjadi value.
Dari silaturahmi menjadi kolaborasi.
Dari produk menjadi industri.
Dari komoditas menjadi nilai tambah.
Dan dari sebuah acara menjadi gerakan ekonomi saudagar yang ikut mengisi blueprint pembangunan Indonesia.
Surabaya jangan hanya menjadi tempat kita berbicara tentang masa depan.
Surabaya harus menjadi tempat kita mulai mengerjakannya.
Editor : Redaksi