Catatan dari Warkop Langganan Karmen Surabaya, 28 September 2026
Sarung, Kopiah, dan Ghirah yang Tak Pernah Surut
Oleh Dr. Agus Andi Subroto, STP., M.M.
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Ketua DPD AFEBSI Jatim
Pengurus MW KAHMI JATIM
Surabaya, JatimUPdate.id - Ada orang yang kehadirannya tidak selalu ditandai oleh panggung megah, pidato berapi-api, atau jabatan tinggi. Ia justru dikenali dari sesuatu yang sangat bersahaja: ia selalu ada ketika organisasi membutuhkan tenaganya.
Di tengah dinamika HMI dan KAHMI Jawa Timur, sosok Kang Ali Tsabit memiliki ciri yang mudah dikenali. Sarung, kopiah, dan langkah tenang yang seolah tidak pernah jauh dari denyut organisasi. Penampilan sederhana itu bukan sekadar gaya, melainkan cerminan dari karakternya: bersahaja, namun menyimpan ghirah (semangat) yang menyala.
Bagi sebagian orang, sarung mungkin sekadar pakaian harian. Kopiah mungkin hanya pelengkap penampilan. Tetapi pada diri seorang kader, simbol-simbol sederhana itu sering kali menyimpan pesan tentang tradisi, akar kultural, dan cara seseorang menempatkan diri di tengah masyarakat.
Perjalanan Kang Tsabit bukanlah kisah tentang manusia sempurna, melainkan tentang ketekunan yang konsisten.
Jejaknya bermula dari HMI STAIN Malang—sebuah era ketika pergulatan intelektual dan perkaderan di Malang menjadi dapur kawah candradimuka bagi banyak anak muda.
Dari ruang-ruang diskusi dan pengkaderan itulah ia kemudian diamanahi sebagai Ketua HMI Cabang Malang pada era 1990-an.
Menjadi ketua cabang pada masanya tentu bukan sekadar memegang mandat struktural. Ada proses panjang penempaan mental, pergulatan gagasan, dan ujian kesabaran dalam merajut komunikasi.
Namun, sebagaimana hukum alam organisasi, jabatan memiliki batas waktu. Kepengurusan selesai, palu sidang diketok, dan masanya pun usai.
Yang menarik justru apa yang terjadi setelah masa jabatan itu berakhir.
Banyak orang yang surut langkahnya begitu posisinya tanggal. Namun tidak bagi Kang Tsabit. Dari HMI, jejak pengabdian itu berlanjut ke MW KAHMI Jawa Timur.
Di ruang alumni inilah pengabdian menemukan bentuk yang lebih dewasa: bukan lagi mengelola tensi organisasi mahasiswa, melainkan ikut merawat silaturahmi, menjembatani lintas generasi, dan hadir dalam setiap denyut aktivitas KAHMI.
Muswil VI KAHMI Jawa Timur di Trawas, Mojokerto (25-27 September 2026), sekali lagi mengingatkan kita pada makna kehadiran ini.
Sebuah Muswil tentu memiliki agenda formal: laporan pertanggungjawaban, perdebatan sidang, hingga suksesi kepemimpinan.
Namun, di balik semua hiruk-pikuk prosedural itu, substansi terpenting dari sebuah Muswil adalah perjumpaan para "pemimpi" lintas generasi yang disatukan oleh sejarah perjuangan yang sama.
Di sinilah peran figur-figur seperti Kang Tsabit menjadi relevan. Bukan karena ia harus selalu berada di depan mikrofon, dan bukan pula karena ia harus memegang jabatan strategis.
Kehadirannya penting karena organisasi butuh dirawat oleh ingatan dan ketulusan.
Generasi boleh berganti. Konstelasi zaman pasti berubah. Cara pandang anak muda hari ini tentu tidak sama dengan cara pandang kader era 90-an. Namun, nilai-nilai dasar perjuangan semestinya tidak ikut tanggal bersama pergantian musim.
Pengalaman panjang membersamai organisasi semestinya tidak membuat seseorang merasa paling tahu atau paling benar.
Sebaliknya, waktu yang dihabiskan di dalam organisasi seharusnya melahirkan kebijaksanaan: kesadaran bahwa organisasi bukanlah milik satu generasi, melainkan rumah bersama yang harus dijaga bersama-sama.
Inilah pelajaran paling sunyi namun berharga dari perjalanan seorang Kang Tsabit.
Amanah struktural memang memiliki batas waktu, tetapi kontribusi dan manfaat tidak boleh mengenal kadaluwarsa. Ada masa ketika seorang kader menjadi motor penggerak.
Ada masa ketika ia menjadi jembatan penghubung. Dan ada masa ketika ia cukup duduk di sudut ruangan, menjadi penyemangat bagi kader-kader muda yang sedang berproses. Semua peran itu mulia, selama dikerjakan dengan ketulusan.
Di tengah zaman yang serba cepat hari ini—di mana orang mudah viral karena unggahan di media sosial, lalu lekas dilupakan karena kemunculan figur baru—konsistensi adalah barang yang sangat mahal.
Popularitas bergerak secepat kilat, tetapi rekam jejak pengabdian menuntut kesabaran bertahun-tahun.
Maka, ukuran kedewasaan seorang kader tidak lagi dilihat dari seberapa sering namanya disebut di atas mimbar, melainkan dari berapa lama ia tetap hadir ketika sorotan lampu telah berpindah ke orang lain.
Di titik inilah sarung dan kopiah Kang Tsabit menjelma menjadi metafora: bahwa untuk mencintai umat dan negeri ini, kita tidak selalu butuh simbol-simbol yang rumit. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah kerendahan hati untuk terus datang, menyapa, mendengarkan, dan bergerak ketika tenaga kita masih diandalkan.
HMI telah mewariskan tradisi intelektual, keislaman, dan keindonesiaan. KAHMI hadir sebagai laboratorium lanjutan di medan pengabdian yang lebih luas. Maka, tugas kader sejati tidak pernah benar-benar selesai hanya dengan menanggalkan jaket hijau hitam.
Ujian yang sebenarnya justru dimulai ketika kita terjun ke tengah realitas sosial: apakah ilmu kita memberi solusi? Apakah jejaring kita merajut persaudaraan? Dan apakah pengalaman kita menjadi jalan bagi lahirnya generasi penerus yang lebih hebat?
Kang Tsabit, dengan caranya yang bersahaja, mengingatkan kita bahwa pengabdian tidak selalu tentang menjadi pusat semesta. Ia bisa sesederhana tetap hadir, tetap peduli, dan tidak pernah kehilangan ghirah untuk berbuat baik.
Muswil telah usai. Estafet kepemimpinan berganti tangan. Generasi baru kini melangkah dengan cara mereka sendiri.
Namun, esensi dari perjuangan itu tetap sama: kader boleh silih berganti, kepengurusan boleh usai dalam hitungan periode, tetapi semangat untuk menebar manfaat bagi umat dan negeri tidak boleh pernah surut.
Editor : Redaksi