Luluk Maknuniah Sarmuji : Ukhuwah Harus Melahirkan Kepedulian dan Konstribusi Nyata
Jakarta, JatimUPdate.id - Dewan Penasehat DPP Pengajian Al-Hidayah Luluk Maknuniah Sarmuji menegaskan bahwa ukhuwah tidak boleh berhenti sebagai hubungan antaranggota organisasi, tetapi harus diwujudkan melalui kepedulian dan kontribusi nyata kepada masyarakat.
Menurut Luluk, kebersamaan menjadi salah satu kekuatan penting bagi Pengajian Al-Hidayah untuk mempertahankan keberlanjutan organisasi sekaligus memperluas manfaat pengabdian kepada umat.
Pesan tersebut disampaikan Luluk dalam resepsi puncak Milad ke-47 Pengajian Al-Hidayah yang berlangsung di Aula Lantai 1 DPP Partai Golkar, Jakarta, pada 4 Oktober 2026.
Milad ke-47 Pengajian Al-Hidayah mengusung tema “Bersatu dalam Ukhuwah, Berkhidmat untuk Umat, Berkarya untuk Indonesia.”
Luluk: Kebersamaan Harus Diwujudkan dalam Kerja Bersama
Luluk mengatakan ukhuwah memiliki posisi penting dalam menjaga keberlangsungan organisasi. Namun, menurutnya, ukhuwah tidak cukup hanya dimaknai sebagai hubungan baik antara pengurus dan anggota.
Ia menilai persaudaraan harus diterjemahkan melalui sikap saling peduli, kemauan bekerja bersama, serta kesediaan memberikan kontribusi bagi masyarakat.
“Ukhuwah menjadi salah satu kekuatan penting dalam menjaga keberlanjutan organisasi. Kebersamaan tidak hanya dimaknai sebagai hubungan antar pengurus dan anggota, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian, kerja bersama, serta kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujar Luluk.
Menurut Luluk, cara pandang tersebut penting agar organisasi tidak hanya kuat secara internal, tetapi juga memiliki keberadaan yang dirasakan oleh masyarakat.
Kebersamaan, kata dia, dapat menjadi energi untuk menjalankan berbagai program yang menyentuh kebutuhan umat. Dengan demikian, hubungan antarpengurus dan anggota tidak berhenti pada aktivitas organisasi, tetapi berkembang menjadi gerakan pengabdian.
Luluk menilai semangat tersebut semakin relevan ketika masyarakat menghadapi kebutuhan dan tantangan yang terus berubah.
Pengajian Al-Hidayah, menurutnya, perlu mempertahankan jati diri organisasi sekaligus mampu menyesuaikan berbagai program dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, momentum Milad ke-47 menjadi kesempatan untuk kembali memperkuat komitmen tersebut.
Perjalanan organisasi selama hampir setengah abad dinilai menjadi modal pengalaman yang harus diteruskan dengan semangat kebersamaan dan kerja nyata.
Senam dan UMKM Jadi Contoh Pengabdian
Implementasi semangat tersebut terlihat dalam rangkaian kegiatan Milad ke-47 Pengajian Al-Hidayah.
Salah satunya melalui Senam Sehat Lansia yang sekaligus menjadi momentum peluncuran Senam Pengajian Al-Hidayah oleh Ketua Umum Pengajian Al-Hidayah Hetifah Sjaifudian.
Kegiatan tersebut digelar pada Minggu, 4 Oktober 2026, di Lapangan DPP Partai Golkar, Anggrek Neli Murni, kawasan Slipi, Jakarta Barat.
Senam Pengajian Al-Hidayah yang diluncurkan dalam kegiatan tersebut nantinya menjadi panduan bagi Pengajian Al-Hidayah di seluruh Indonesia.
Kegiatan olahraga bersama itu tidak hanya diarahkan untuk menjaga kebugaran. Pertemuan tersebut juga menjadi ruang silaturahmi dan memperkuat ukhuwah di antara anggota serta peserta.
Bagi Luluk, kegiatan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat seperti perhatian terhadap kesehatan dapat menjadi bagian dari bentuk pengabdian organisasi.
Rangkaian Milad juga diisi dengan Bazar UMKM. Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa ruang pengabdian organisasi dapat diwujudkan melalui berbagai bidang yang bersentuhan dengan kehidupan masyarakat.
Selain kegiatan di tingkat pusat, Ketua Panitia Milad ke-47 Endah Cahya Immawati menyampaikan bahwa kegiatan Pengajian Al-Hidayah juga dilaksanakan secara menyeluruh hingga tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, bahkan pelosok desa.
Perluasan kegiatan tersebut menunjukkan bahwa semangat pengabdian tidak hanya terpusat pada satu lokasi, tetapi diupayakan menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Luluk berharap semangat kebersamaan tersebut terus dijaga seiring bertambahnya usia organisasi.
Menurutnya, semakin kuat ukhuwah yang dibangun, semakin besar pula peluang organisasi untuk menjalankan kerja bersama dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Tema “Bersatu dalam Ukhuwah, Berkhidmat untuk Umat, Berkarya untuk Indonesia” pun menjadi pijakan dalam perjalanan Pengajian Al-Hidayah memasuki usia ke-47.
Bersatu dalam ukhuwah menjadi fondasi kebersamaan. Berkhidmat untuk umat menjadi bentuk kepedulian terhadap masyarakat, sementara berkarya untuk Indonesia menjadi dorongan agar organisasi terus menghadirkan kontribusi yang relevan.
Dengan semangat tersebut, Luluk menilai perjalanan 47 tahun Pengajian Al-Hidayah harus dilanjutkan melalui kerja nyata.
Ia berharap organisasi mampu menjaga nilai-nilai yang telah menjadi fondasi sejak berdiri pada 5 Oktober 1979, sekaligus terus memperluas ruang pengabdian sesuai kebutuhan masyarakat.
Pada akhirnya, ukhuwah yang dibangun Pengajian Al-Hidayah diharapkan tidak hanya memperkuat organisasi dari dalam, tetapi juga melahirkan semakin banyak kepedulian dan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan negara (red)
Editor : Redaksi