Oleh: Mochammad Faizin, Wakil Bidang Politik DPC GMNI Jember
Revitalisasi Pasar Tanjung Jember Picu Penolakan, Pedagang Tuntut Kepastian dan Kompensasi
Jember, JatimUpdate.id — Rencana revitalisasi Pasar Tanjung Jember memicu gelombang penolakan dari sejumlah pedagang. Mereka menuntut kepastian lokasi relokasi, jadwal pembangunan, keamanan berdagang, luas kios, dan kompensasi selama proyek berlangsung.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember berencana membongkar dan membangun ulang Pasar Tanjung. Pasar yang berada di jantung Kabupaten Jember itu telah berdiri sejak 1973. Pemkab Jember mengajukan dana Rp250 miliar ke Pemerintah Pusat untuk merealisasikan proyek revitalisasi.
Sebelum revitalisasi, Pemkab Jember menempuh solusi jangka pendek. Pemkab mengatur jam operasional pedagang dan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pasar Tanjung. Pemkab beralasan keterbatasan kios membuat pedagang berjualan di trotoar dan bahu jalan. Karena itu, Pemkab mengklaim revitalisasi menjadi solusi jangka panjang.
Bupati Sebut Pedagang Setuju, Sepekan Kemudian Muncul Penolakan
Pada 16 September 2026, Bupati Jember Gus Fawait turun langsung dan bermusyawarah dengan pedagang Pasar Tanjung. Ia menyatakan seluruh perwakilan pedagang setuju terhadap rencana revitalisasi. Ia juga menyebut pengerjaan fisik akan dimulai pascaidulfitri.
Seminggu kemudian, sejumlah pedagang justru menyatakan penolakan dalam pertemuan bersama jajaran Pemkab Jember di Pendopo. Sebagian pedagang memilih merenovasi pasar tanpa membongkar penuh bangunan. Sebagian lain menolak revitalisasi sepenuhnya.
Sarasehan GMNI Jember Ungkap Ketakutan Pedagang
Permasalahan revitalisasi Pasar Tanjung mulai terurai dalam forum Sarasehan antar-pedagang. GMNI Jember menggelar forum itu di gedung kosong Pasar Tanjung pada 7 Oktober 2026. Musyawarah tersebut memunculkan ketidaksetujuan, ketakutan, dan harapan pedagang terhadap proyek revitalisasi.
Seorang pedagang perempuan di lantai dua Pasar Tanjung menyampaikan kekhawatirannya. Ia cemas proses relokasi membutuhkan biaya tambahan untuk memindahkan barang dagangan. Ia juga khawatir tempat baru lebih sepi pengunjung, omzet menurun, keamanan minim, dan waktu pembangunan tidak pasti.
“Iya kalau Gus Fawait masih menjabat. Kalau tidak cukup dan Bupatinya sudah ganti bagaimana? Kalau pembangunan pasarnya tidak dilanjutkan bagaimana? Siapa yang menjamin?” ujarnya dalam forum Sarasehan GMNI Jember, 7 Oktober 2026.
Petisi 500 Pedagang Menolak Revitalisasi
Salah satu paguyuban pedagang Pasar Tanjung menyatakan telah menghimpun petisi penolakan proyek revitalisasi. Petisi itu memuat tanda tangan lebih dari 500 pedagang.
Pasar Tanjung menampung berbagai jenis pedagang. Ada pedagang kecil yang berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada pula pedagang besar yang mempekerjakan sejumlah pekerja.
Perbedaan itu membuat relokasi tidak sederhana. Pedagang harus memastikan tempat penampungan sementara memiliki luas dan kelayakan yang pasti. Mereka juga harus menjaga keberlangsungan jualan dan nasib para pekerjanya.
Pedagang barang kering, seperti kain dan logam, menghadapi risiko tersendiri. Lokasi penampungan sementara harus aman dari pencurian dan terlindungi dari cuaca buruk.
Tuntutan Pedagang: Kios Tetap, Relokasi Jelas, Ada Kompensasi
Pedagang juga mengkhawatirkan ketidakpastian luas kios pascarevitalisasi. Mereka menuntut luas kios tetap sama seperti sebelum revitalisasi, tanpa pengurangan.
Proses pemindahan barang dagangan ke tempat penampungan sementara membutuhkan tenaga, waktu, dan biaya. Karena itu, pedagang meminta Pemkab Jember memberikan kompensasi. Kompensasi itu untuk meringankan beban biaya dan kerugian selama proyek revitalisasi berlangsung.
Pada intinya, pedagang membutuhkan rincian kepastian dari proyek revitalisasi Pasar Tanjung. Mereka mendesak Pemkab Jember segera memberi kepastian tentang lokasi penampungan sementara, waktu pembangunan, dan keamanan perdagangan.
Minimnya sosialisasi mengenai rincian proses revitalisasi membuat perdebatan di kalangan pedagang berkembang tanpa kejelasan. Jika Pemkab Jember tidak segera membuka informasi dan berdialog, gelombang penolakan terhadap proyek revitalisasi Pasar Tanjung berpotensi membesar. (#)
Editor : Redaksi