Ditulis oleh: Mochammad Faizin, Wakabid Politik DPC GMNI Jember

Carpak ? Raut Gusar Warga Kulon Pasar Tanjung Jember

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Keterangan Gambar: Mochamad Faizin
Keterangan Gambar: Mochamad Faizin

Jember, JatimUpdate.id -  “CARPAK!!!” Sebuah kata kultural yang terucap dari Gus Fawait, Bupati Jember, dalam pertemuan dengan pedagang dan warga di Pasar Tanjung.

Kata itu tampaknya menjadi perenungan etimologis Gus Fawait untuk mempertanggungjawabkan ucapan dan moralnya sebagai pejabat publik yang mengaku kader Presiden Prabowo Subianto.

Fawait mampu mengadaptasi penyebutan “Omon-omon” ala Prabowo menjadi kata “Carpak” yang lebih lekat dengan masyarakat berbudaya Jawa-Madura di Jember.

“Kalau saya ngomong beres, beres, beres, CARPAK!!!” ucap Fawait pada 16 September 2026 di hadapan para pedagang dan warga sekitar Pasar Tanjung.

Berkaca dari kalimat itu, perlu ada cermin keinsafan untuk menyingkap realitas yang belum sepenuhnya mencuat ke permukaan.

Permasalahan di Pasar Tanjung sudah terlalu mengakar hingga puluhan tahun. Kini akan muncul sebuah momentum berupa pertimbangan kebijaksanaan yang menakar seberapa berpihak seorang pemimpin terhadap nasib rakyatnya.

Keluhan atas buruknya tata kelola pasar dan semrawutnya fungsi jalan tidak hanya menggema dari jeritan pedagang.

Di sekitar Pasar Tanjung, terdapat ratusan warga yang terhimpun dalam beberapa RW dan puluhan RT. Artinya, urusan tata kelola pasar dan jalan tidak hanya berdampak pada para pedagang.

Warga sekitar Pasar Tanjung yang tergabung dalam Forum Warga Kulon Pasar mengeluhkan sejumlah persoalan terkait disfungsi jalan.

Hal paling krusial yang dikeluhkan warga adalah masalah ketika kondisi darurat terjadi. Sering kali ketika warga membutuhkan solusi atas masalah kelistrikan dan kondisi darurat di wilayahnya, yang terjadi justru pertanyaan balik dari ambulans dan kendaraan PLN.

Bagaimana tidak, dengan kondisi jalan sekitar pasar yang begitu macet, ambulans dan kendaraan PLN justru balik bertanya dengan kebingungan tentang lokasi yang akan mereka tempati untuk parkir.

Akibatnya fatal. Kondisi darurat yang memerlukan penanganan sesegera mungkin harus berhadapan dengan semrawutnya kondisi jalan dan minimnya akses parkir.

Ada pula warga yang mengeluhkan masalah kebersihan di sekitar jalan dan pertokoan Jl. Samahudi. Pada pagi hari, tidak jarang pemilik pertokoan harus menyediakan cairan pembersih lantai untuk membersihkan tokonya dari bekas dan bau pesing orang yang tidak bertanggung jawab.

Pedagang yang berjajar di bahu jalan Pasar Tanjung membuat kondisi itu menjadi wajar. Lokasi toilet yang minim—hanya ada di dalam bangunan pasar, dan kondisinya belum tentu layak—menjadikan situasi pesing pada pagi hari yang tumpah ruah di lantai pertokoan di samping jalan seolah sesuatu yang lumrah.

Tidak hanya soal sampah pagi dari pedagang bahu jalan yang harus dibersihkan secara mandiri oleh pemilik pertokoan. Warga sekitar juga mengeluhkan sulitnya akses parkir di sekitar jalan Pasar Tanjung. Pertokoan di samping jalan tidak dapat menyediakan akses parkir untuk pembeli karena lokasinya sudah lebih dulu terhalang oleh pedagang yang berjualan di bahu jalan.

Warga kesulitan keluar-masuk dengan kendaraan pribadi. Bahkan tidak sedikit yang mengeluhkan mobil pribadinya sering terserempet mobil pedagang atau mobil pick-up. Ban motor dan mobil warga tidak jarang tiba-tiba digembosi secara diam-diam oleh pihak yang tidak bertanggung jawab karena dianggap menghalangi lokasi berdagang di bahu jalan. Terkadang, spion mobil warga pun dijadikan cantolan dagangan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Warga juga menceritakan betapa sulitnya akses keluar-masuk kendaraan ketika hendak mengantarkan anak ke sekolah. Akses jalan yang tertutup macet sering kali membuat anak mereka telat sekolah.

Rangkaian masalah itulah yang memunculkan kesimpulan di benak warga bahwa jalan di Kulon Pasar Tanjung harus segera ditata dan dikembalikan sesuai fungsinya.

Jl. Samahudi akan lebih menghidupkan ekonomi pasar dan mempermudah akses warga apabila arus lalu lintasnya dikembalikan dari selatan ke utara seperti sepuluh tahun lalu.

Atas rangkaian permasalahan dan keluhan warga di sekitar Pasar Tanjung tersebut, sudah selayaknya Gus Bupati mendengar dan mempertanggungjawabkan kalimat heroiknya.

“Kasih waktu saya seminggu. Saya yang akan mengundang panjenengan ke pendopo untuk membicarakan skenario penanganan masalah-masalah pedagang yang ada di jalan,” kata Fawait di Pasar Tanjung, Rabu, 16 September 2026.

Momentum inilah yang akan menguji kebijaksanaan seorang pemimpin dalam menghasilkan solusi yang berkeadilan bagi pedagang, pekerja, kuli, dan warga Pasar Tanjung.

Ke depan, Pasar Tanjung harus ditata dan dijamin ketertibannya setiap saat, agar tidak ada lagi celetukan warga yang menyaksikan peristiwa pungli dan premanisme.

Skenario penanganan masalah di Pasar Tanjung harus menghasilkan solusi tata kelola pasar yang berkeadilan dan konsisten. Demi keselamatan bersama, jalan pasar harus dikembalikan sesuai fungsinya.

Tumbuh suburnya Pasar Tanjung adalah teropong awal untuk mewujudkan visi “Jember Baru, Jember Maju”. (#)