Oleh :
Anggit Satriyo Nugroho
Baca juga: Permendag Terbitkan Penerapan Aturan Baru,Tepung Terigu Bakal Langka dan Harga Melambung Naik
Dosen Unmuh Sidoarjo
Sidoarjo, JatimUPdate.id : DEMONSTRASI besar-besaran petani di Lampung membuat trenyuh sekaligus prihatin.
Mereka menuntut agar pabrik tepung tapioka mau menyerap singkong lokal. Singkong yang ditanam petani setempat. Namun demikian, pabrik hanya mau menerima bila sesuai standar harga mereka : di bawah seribu rupiah perkilogram.
Bagi para petani tentu hal tersebut "menyakitkan". Betapa tidak, untuk memanen singkong, ia harus bersabar menunggu berbulan-bulan lamanya.
Saat berkebun ia harus merawatnya. Menyiangi hama dan tetap memastikan pertumbuhan singkong sesuai dengan yang diharapkan.
Namun, begitu masa panen tiba, mereka terpaksa murung. Harga singkong tak sesuai yang diharapkan.
Mungkin dalam bahasa para petani, harga penawaran pabrik tidak bisa mengimbangi dengan harga tanam mereka. Enggak nyucuk dalam bahasa petani kita.
Belakangan barulah ketahuan, bahwa harga Singkong hancur lantaran suatu sebab : singkong impor.
Di masyarakat, singkong lokal harus bertarung dengan singkong impor. Jumlahnya pun begitu banyaknya. Bahkan, konon singkong asing bisa mencukupi kebutuhan nasional kita.
Jangan heran bila kemudian Menteri Pertanian Amran Sulaiman marah besar. Ia menganggap para pengimpor singkong tidak punya patriotisme. Dia tidak pro kehidupan petani tanah air.
Tentu amarah Amran tak boleh sekadar basa basi belaka. Ia harus menindaklanjutinya dengan kebijakan yang pro petani lokal.
Kurangi impor singkong atau awasi impor singkong jangan sampai mengalahkan petani lokal. Kita lihat saja, seperti apa langkah Amran yang selama ini dikenal tegas dan membela petani.
Soal singkong impor ini tentu banyak pertanyaan yang mengemuka? Bukankah Indonesia ini negeri singkong ? Lihat saja di desa-desa itu.
Baca juga: Wujudkan Budaya Kerja Pasti, Imigrasi Perak Hadirkan BNI Dan BKN
Masih banyak tanaman singkong dimana-mana. Bahkan, sebagian penduduk kita masih menyantap singkong sebagai makanan pokoknya.
Daerah mana di Indonesia yang tidak tumbuh bila ditanami singkong? Rasa-rasanya hampir tak ada.
Tentu impor singkong ini menjadi ironi kehidupan negeri singkong.
Bukankah di masyarakat kita yang lekat dengan singkong, tanaman ini menjadi penanda kelas sosial.
Mereka yang lekat dengan kehidupan arus bawah kerap menyebut dirinya sebagai anak singkong.
Di era 90 an, produksi singkong kita luar biasa besarnya. Total lahan singkong masih 1,4 juta hektare luasnya. Bahkan, di era itu, kita masih bisa ekspor singkong.
Namun, perlahan dari tahun ke tahun, lahan singkong menyusut tajam. Data terakhir sekitar 600 ribu hektare. Bisa jadi karena banyak faktor, mulai peralihan fungsi lahan hingga peralihan jenis tanaman karena menganggap bahwa singkong bukan lagi komoditas yang menguntungkan.
Baca juga: Impor Di Stop Petani Jagung Tuban Masuki Masa Panen Raya
Saya sempat mendiskusikannya dengan kawan saya yang tinggal di pelosok desa di Ngawi. Sebuah daerah yang dulunya dimana-mana ditanam singkong.
"Pernah satu kali petani nggak mau memanennya. Singkong diumbar di kebun. Rugi, nggak ada harganya," kata kawan tadi.
Menurut kawan tadi, petani ogah-ogahan karena tidak ada proteksi pemerintah kepada para penanam singkong. Perlindungan harga juga tidak ada.
Presiden Prabowo Subianto sebenarnya membuat gebrakan dan mengajak Indonesia sebagai negeri mandiri. Pada 2024, ketika masih menjabat Menteri Pertahanan, dia menginginkan bahwa singkong bisa menjadi bahan baku energi alternatif, yakni bioetanol.
Namun, tentu tak mudah karena kebutuhan singkong nasional masih dicukupi dengan impor.
Petani lokal tentu harus menyambut antusias kebijakan presiden dengan produksi singkong sebanyak-banyaknya. Kemampuan lahan menghasilkan singkong harus dipacu.
Lahan-lahan tidur harus dimanfaatkan untuk bertanam singkong sehingga kita bisa bersama-sama mewujudkan kemandirian sebagaimana keinginan presiden. Semuanya diniatkan agar singkong tak menjadi ironi di negeri anak singkong. (im/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat