Waspadai Permainan Harga Pangan, Pemkot Surabaya Diminta Perkuat Kerjasama Antarkota

Reporter : Ibrahim
Agoeng Prasodjo, dok Jatimupdate.id/roy

Surabaya, JatimUPdate.id – Anggota Komisi B DPRD Surabaya, Agoeng Prasodjo, mengingatkan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mewaspadai potensi permainan harga di pasar meski stok pangan dinyatakan aman tiga bulan ke depan.

Menurutnya, Pemkot perlu memperkuat sinergi dengan daerah penghasil pangan agar distribusi berjalan lancar tanpa campur tangan pihak ketiga.

Baca juga: KBS Resmi Jadi Perumda, Manajemen Kebun Binatang Surabaya Siap Benahi Legalitas

"Meskipun stok kita aman, kolaborasi antar kota dan kabupaten tetap harus dijaga. Surabaya ini bukan kota agraris, kita bergantung pada pasokan dari daerah lain. Contohnya cabai, nggak mungkin kita stok cabai sendiri, pasti ambil dari kota lain," kata Agoeng, Rabu (5/2).

Ia menekankan, kerjasama antar pemerintah harus dilakukan langsung dari dinas perdagangan Surabaya ke dinas perdagangan di kota atau kabupaten penghasil pangan. 

Agoeng juga mencontohkan situasi di lapangan terkait komoditas pertanian yang seringkali sudah dikulak atau diijon oleh tengkulak sebelum panen tiba.

"Kalau lewat pihak ketiga atau swasta, pasti ada keuntungan di sana. Itu yang harus dihindari karena bisa membuka celah permainan harga. Banyak petani yang sudah menjual hasil panennya jauh-jauh hari. Akibatnya, harga di pasar bisa melonjak karena sudah dikuasai tengkulak," terangnya.

Selain mengandalkan kerjasama antar daerah, Agoeng mendorong Pemkot Surabaya untuk mengembangkan urban farming di lahan-lahan kosong milik pemerintah. 

Menurutnya, potensi ini belum dimaksimalkan, padahal bisa menjadi salah satu solusi memperkuat ketahanan pangan di kota Pahlawan.

Baca juga: Apresiasi Purabaya-Kenpark Lewat Tol, Eri Irawan Dukung Kembali Pakai Bus

"Surabaya punya ribuan lahan kosong yang bisa dimanfaatkan. Kalau belum dipakai, kenapa tidak diberikan kepada petani urban? Hasilnya nanti bisa dibeli untuk memenuhi kebutuhan pangan kita sendiri," ujarnya.

Ia menyebut beberapa tanaman yang cocok dibudidayakan di kota, seperti tomat, sawi, kangkung, dan pisang. 

"Tanaman-tanaman ini mudah tumbuh di mana saja, bahkan bisa hidup tanpa perawatan khusus," katanya.

Agoeng juga menyoroti pentingnya memberikan ruang bagi padat karya di sektor pertanian dan perikanan sebagai langkah nyata mendukung ketahanan pangan. 

Baca juga: BPJS Nonaktif Tanpa Pemberitahuan, Warga Miskin Terancam Gagal Operasi

"Dinas terkait bisa memfasilitasi, misalnya memberikan benih gratis kepada petani kota atau pelaku usaha perikanan kecil. Ini bisa jadi program padat karya yang hasilnya benar-benar berdampak bagi masyarakat Surabaya," demikian Agoeng Prasodjo.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (BPSDA) Surabaya, Vykka Anggradevi Kusuma mengatakan, berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi (monev) Indeks Kecukupan Pangan (IKP) di Kota Surabaya sampai dengan Desember 2024, sangat mencukupi dengan indeks 3,8. 

“Dengan indeks sebesar 3,8 artinya kecukupan pangan di Kota Pahlawan mencukupi sampai dengan 3 bulan ke depan,” kata Vykka sapaan lekatnya, Jumat (31/1). (Roy)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru