Sidoarjo, JatimUPdate.id - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo terus berupaya mencari solusi yang inovatif dalam pengelolaan sampah.
Baca juga: Jalan Embong Kali Krian Sidoarjo Rusak dan Berlubang
Salah satu langkah yang tengah dijajaki adalah kerja sama dengan perusahaan China Water Industry (CWI) Group Limited asal Tiongkok, Kamis (7/3).
Pemkab Sidoarjo menggelar pertemuan dengan pihak CWI di Delta Wicaksana, Setda Kabupaten Sidoarjo, guna membahas pemanfaatan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Griyo Mulyo, Jabon, dengan pendekatan teknologi modern berbasis Landfill Gas (LFG).
Bupati Sidoarjo, Subandi, menegaskan bahwa masalah pengelolaan sampah di wilayahnya harus segera diatasi dengan serius.
TPA Griyo Mulyo Jabon sendiri menerima sekitar 500 hingga 600 ton sampah setiap harinya, sementara jumlah timbulan sampah di seluruh Kabupaten Sidoarjo mencapai sekitar 1.340 ton per hari. Sayangnya, sebagian besar sampah tersebut masih berakhir di TPA tanpa pemanfaatan yang optimal.
"Permasalahan sampah ini perlu mendapat perhatian khusus, karena jumlahnya semakin meningkat setiap hari,” ujar Subandi.
Lebih lanjut, Subandi menambahkan bahwa selain menangani dampak lingkungan dari penimbunan sampah, Pemkab Sidoarjo juga berupaya menjadikan pengelolaan sampah sebagai peluang untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
"Tentunya ini menjadi tantangan baru bagi kami," ucapnya.
Baca juga: Pemkab Sidoarjo Siapkan Gerakan Pangan Murah, Tekan Kenaikan Harga Jelang Ramadan
Dalam pertemuan tersebut, CWI mempresentasikan tawaran kerja sama yang mencakup teknologi pengelolaan sampah berbasis Landfill Gas (LFG). Teknologi ini memanfaatkan gas metana yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah untuk dikonversi menjadi energi listrik.
Salah satu keunggulan teknologi ini adalah kemampuannya mengurangi dampak negatif penimbunan sampah, di antaranya dengan menutup lapisan sampah menggunakan membran dan memasang pipa berlubang untuk menangkap gas emisi.
Proses ini dapat mengurangi polusi bau, mempercepat degradasi limbah, serta mengoptimalkan pemanfaatan ruang di TPA.
"Kami melihat potensi besar dari pengolahan sampah ini, tidak hanya dalam hal mengurangi dampak lingkungan tetapi juga dari segi ekonomi. Jika sistem ini berjalan dengan baik, bukan tidak mungkin ini menjadi sumber PAD baru bagi Kabupaten Sidoarjo," ujarnya.
Baca juga: Pemkab Sidoarjo Renovasi 400 Warung Rakyat pada 2026, Anggaran Naik Jadi Rp10 Juta per Unit
TPA Griyo Mulyo, yang memiliki luas sekitar 13,6 hektare, dipilih sebagai lokasi utama untuk pengelolaan sampah ini.
Dengan volume sampah yang terus meningkat seiring dengan populasi Sidoarjo yang terus berkembang, sistem pengelolaan yang lebih efisien sangat dibutuhkan.
Subandi berharap kerja sama dengan CWI segera terwujud, sehingga permasalahan sampah di Sidoarjo dapat diatasi dengan pendekatan yang lebih modern.
"Harapan kami, kolaborasi ini bisa berjalan dengan baik, sehingga sampah yang selama ini menjadi beban justru bisa diubah menjadi energi yang bermanfaat dan mendukung pendapatan daerah," kata Subandi mengakhiri. (ih/yh).
Editor : Yuris. T. Hidayat