DPRD Surabaya Godok Strategi Revitalisasi Budaya dan Kepahlawanan

Reporter : Ibrahim
rapat lanjutan Raperda Pemajuan Kebudayaan dan Pembinaan Nilai-Nilai Kepahlawanan

Surabaya,JatimUPdate.id  – Komisi D DPRD Surabaya menggelar rapat lanjutan Raperda Pemajuan Kebudayaan dan Pembinaan Nilai-Nilai Kepahlawanan, Senin (17/3).

Ketua rapat, Zuhrotul Mar’ah, menegaskan  Surabaya sebagai Kota Pahlawan tak boleh kehilangan identitas budaya dan nilai kejuangannya.

Baca juga: Apresiasi Purabaya-Kenpark Lewat Tol, Eri Irawan Dukung Kembali Pakai Bus

“Kita ini Kota Pahlawan, jangan sampai hanya jadi slogan. Nilai kepahlawanan harus terus diwariskan, tidak hanya dalam sejarah, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan budaya,” kata Zuhro

Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem budaya yang lebih hidup. Salah satunya dengan menyelenggarakan event tahunan dan memperkuat kolaborasi lintas sektoral.

Bahkan Zuhro mencontohkan Yogyakarta dan Bali yang mampu menghidupkan sejarah dan tradisi dalam keseharian masyarakat.

“Jogja punya gedung-gedung bersejarah yang tetap nyaman dikunjungi dan menjadi sarana belajar. Surabaya juga harus bisa. Bangunan bersejarah bisa diaktifkan kembali, dan kesenian seperti tari remo harus lebih dikenalkan ke publik,” tambahnya.

Senada, Ketua Puri Aksara Rajapatni, Nanang Purwono, menyoroti pemajuan budaya bukan hanya melestarikan, tetapi juga memahami makna di baliknya.

Pun menekankan pentingnya membedakan konsep kejuangan dan kepahlawanan.

Baca juga: BPJS Nonaktif Tanpa Pemberitahuan, Warga Miskin Terancam Gagal Operasi

“Pahlawan itu hasil, kejuangan itu proses. Kalau kita ingin melestarikan kepahlawanan, kita harus menjaga semangat kejuangan itu tetap ada,” jelasnya.

Nanang juga menyoroti ancaman terhadap aksara Jawa yang semakin terpinggirkan. Banyak prasasti di situs bersejarah Surabaya yang belum banyak dipahami masyarakat, termasuk inskripsi di kompleks Sunan Ampel dan makam para bupati.

Camat Genteng, Muhammad Aries Hilmi, mengusulkan pendekatan berbasis pendampingan agar revitalisasi budaya tidak hanya sekadar program seremonial.

Ia mencontohkan model pendampingan Bank Indonesia dalam program Desa Wisata yang berlangsung lima tahun, memberikan ruang bagi komunitas budaya untuk berkembang secara berkelanjutan.

Baca juga: DPRD Surabaya Soroti Dinamika Normalisasi Sungai Kalianak Tahap II

“Kita bisa belajar dari Kampung Peneleh yang mendapat dukungan dalam pengembangan wisata sejarah. Dengan pendampingan yang lebih panjang, komunitas bisa lebih mandiri dan budaya kita tetap hidup,” ujarnya.

Di sisi lain, anggota Komisi D, Imam Syafii, menekankan pemajuan kebudayaan harus punya dampak nyata, bukan cuma jargon.

Ia mencontohkan bagaimana di Banyuwangi, pemerintah daerah rutin menggelar pentas budaya di alun-alun setiap akhir pekan, memberi ruang bagi seniman sekaligus meningkatkan daya tarik wisata.

“Pemajuan itu harus bergerak. Kalau hanya bicara soal pelestarian tanpa ada aksi nyata, hasilnya nol,” demikian Imam Syafi'i. (Roy)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru