Desa Terrak dan Kramat Kec.Tlanakan Adakan Rembuk Desa, Sinergikan BUMDesa dan Koperasi Desa MP

Reporter : Ibrahim
Prosesi penyerahan buku hasil riset dan buku 10 Tahun koperasi di tanah air (1930-1940)

Pamekasan, JatimUPdate.id : Dua Kades Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan yaitu Desa Terrak dan Desa Kramat bersama Tenaga Pendamping Profesional (TPP) serta warga desa mengadakan Rembug Ketahanan Pangan Desa dengan tema Sinergi dan Kolaborasi BUMDesa dan Koperasi Desa Merah Putih guna Swasembada Pangan dan Suksesnya Program Makan Bergizi Gratis di Pamekasan.

Acara Rembug Desa itu diadakan di rumah Kades Terrak Kec. Tlanakan dengan suasana khas pedesaan sekaligus berbuka puasa itu juga disisipin tema Menapaki Jejak Sejarah Pengabdian dan Perjuangan RM Margono Djojohadikusumo Dalam Pengembangan Koperasi Di Tanah Air.

Baca juga: Owner PR. Cahaya Pro: Tidak Ada Pengusaha yang Mau Melawan Negara!

Kegiatan yang diinisiasi TPP Kecamatan Tlanakan itu digelar pada Jumat, (21/03/2025).

Moh. Bukhari, Pendamping Desa Kecamatan Tlanakan selaku panitia kecil menyatakan acara ini digagas guna memberikan informasi dan mendiskusikan terkait fenomena terkini yang sedang ramai jadi wacana publik yaitu relasi BUMDesa dengan Koperasi Desa Merah Putih sehingga para pihak di Desa Terrak dan Desa Kramat bisa memiliki pemahaman atas program pemerintah yang akan segera diimplementasikan itu.

"Dengan terjadinya transfer pengetahuan dan pemahaman khususnya terkait Ketahanan Pangan Desa, Prioritas Dana Desa 2025, BUMDesa yang dihubungkan kelak dengan keberadaan Koperasi Desa, maka publik desa akan semakin tahu sehingga siap mendukung program pemerintah," kata Bukhari didampingi rekan Pendamping Desa lainnya Akbar Affandi saat mengawali acara.

Muhammad Saleh, Kades Terrak, Kec Tlanakan, Kab. Pamekasan yang sekaligus tuan rumah menyatakan apresiasinya atas inisiatif yang dilakukan tim pendamping desa untuk mengadakan acara Rembug Desa sehingga menjadi wahana tukar pikiran warga dan narasumber termasuk mendiskusikan ketahanan pangan desa, program makan bergizi gratis dan terbaru isu tentang koperasi desa merah putih.

"Harapan kami BUMDesa dan Koperasi desa ini bisa bersinergi seperti tema rembug desa ini, karena keduanya mesti secara ideal menjadi motor penggerak perekonomian desa kedepannya, apalagi kalau DD [dana desa] jadi naik, harus berdampak bagi kesejahteraan warga desa," kata Saleh dalam sambutannya.

Seperti diketahui dalam acara Rembug Desa ini hadir Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Pamekasan yaitu
Muhammad Zainul Umam dan Erenika Dhenyarto yang bertindak sebagai narasumber.

Narasumber lainnya adalah Yuristiarso Hidayat, pemerhati Koperasi dan TA PM Kab Gresik yang juga tengah meneliti jejak sejarah RM Margono Djojohadikusumo.

Selanjutnya, Robbi Sugara, Kades Kramat menyatakan pihaknya menjadi semakin tertarik setelah mendengarkan penjelasan tentang koperasi desa khususnya tentang tapak sejarah koperasi di era kolonial.

Baca juga: Ulfatur Riski, Juara Lomba Menulis Esai HPN 2026 & HUT ke-80 PWI Kabupaten Pamekasan

"Asli ini informasi baru yang saya terima, karena selama ini publik tahunya tokoh koperasi adalah Bung Hatta [Moh. Hatta], tapi dengan penjelasan Mas Yuris [Yuristiarso/ TAPM Gresik/peneliti Sygma Research and Consulting] bahwa ada sosok lain yang berjasa mengembangkan koperasi di desa-desa era Belanda bernama Eyang RM Margono. Ini ditunjang bukti adanya buku 10 Tahun Koperasi 1930-1940 karya beliau, terbitan Balai Pustaka 1941," kata Robbi sambil menunjukkan buku hasil riset Sygma dan buku 10 Tahun Koperasi 1930-1940 itu.

Disisi lain, dua TA PM Pamekasan Umam dan Dheni bergantian memberikan materi khususnya tentang ketahanan pangan dalam hubungannya dengan dana desa dan BUMDesa serta MBG.

"Dari hasil diskusi sebelum acara, ada hal menarik atas ide Mas Yuris terkait pentingnya perencanaan ketahananan pangan desa di Pamekasan dengan melibatkan sejumlah stageholder terkait. Ini agar alokasi 20% DD itu bisa terencana sehingga secara sistemik dan multiyears bisa berdampak dalam mengupayakan ketahanan pangan komoditas menuju kemandirian pangan dan kedaulatan pangan. Endingnya Swasembada Pangan sehingga Pamekasan bisa jadi lumbung pangan nasional," ungkap Umam.

Yuristiarso Hidayat, TA PM Gresik menyatakan bahwa ada dua institusi yang diakui peneliti sejak era pergerakan kemerdekaan sebagai wadah perlawanan dan konsolidasi kaum pribumi.

"Dua institusi ini sangat berjasa menuju Indonesia Merdeka yaitu Pondok Pesantren dan Koperasi. Dalam buku 10 Tahun Koperasi, RM Margono menceritakan upaya para pihak menghimpun warga pribumi untuk bergerak di sektor ekonomi melawan hegomoni asing. Era kini harapannya Koperasi Desa kembali berperan bersama BUMDesa secara berkolaborasi demi kemandirian dan kesejahteraan desa dan warganya," kata Yuris.

Baca juga: Jam Sekolah Selama Ramadan 1447 H/2026: Begini Aturannya dan Kegiatan yang Dianjurkan

Bisa jadi, kata Yuris, sejumlah program Presiden Prabowo ini sangat terinspirasi para pendiri bangsa baik soal koperasi desa dari ide Bung Hatta dan Kakeknya RM Margono, serta Sekolah Rakyat adalah ide tokoh pergerakan Tan Malaka.

"Yang jelas pemerintah saat ini semakin serius dalam menjadikan desa sebagai ujung tombak pembangunan terbukti dengan adanya Asta Cita no 6 yang khusus terkait Desa," ungkapnya.

Secara khusus Yuris menyampaikan agar para pihak menunggu regulasi resmi terkait koperasi desa yang saat ini sedang digodok pemerintah pusat.

"UU Desa sifatnya Lex Specialist yang jadi dasar regulasi BUMDesa sehingga posisinya sangat kuat. Dari PP 11 2021 jelas tertera koperasi bisa jadi unit usaha BUMdesa. Namun semua mesti menunggu regulasi pastinya. Infonya bentuk koperasi desa adalah Koperasi Multistageholder," terangnya. (ries/yh)

Editor : Yoyok Ajar

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru