Kunker atau Rekreasi Berjemaah? (Bagian 2)

Reporter : Yuris. T. Hidayat
Ilustrasi

Surabaya,Jatim update.id - Kunjungan kerja yang semula dimaksudkan sebagai upaya meningkatkan kapasitas dan memperkaya wawasan pembangunan, perlahan berubah fungsi. Kini, kunker sering kali lebih menyerupai aktivitas industri, lengkap dengan ekosistem bisnisnya. Salah satu aktor yang paling diuntungkan adalah biro perjalanan.

Biro-biro travel yang berafiliasi dengan kelompok tertentu menawarkan paket perjalanan dinas 'siap saji', mulai dari tiket pesawat kelas bisnis, hotel berbintang, konsumsi mewah, hingga bonus kunjungan ke tempat wisata. Kemasan perjalanan dibuat seolah-olah resmi, meskipun orientasi utamanya bukan lagi penguatan kapasitas, melainkan kenyamanan dan hiburan.

Baca juga: Kunker atau Rekreasi Berjemaah? (Bagian 1)

Yang lebih mencemaskan, seringkali jadwal kunker disusun berdasarkan tawaran travel agent, bukan berdasarkan kebutuhan atau urgensi daerah. Alur penyusunan agenda kunker menjadi terbalik: bukannya kebutuhan yang membentuk perjalanan, tapi perjalanan yang mencari-cari kebutuhan.

Tak berhenti di situ, praktik mark-up anggaran juga terjadi secara sistematis. Harga tiket pesawat, sewa hotel, konsumsi, hingga sewa kendaraan dinaikkan dari harga riil. Selisih biaya tersebut menjadi ruang gelap yang rawan dikorupsi, baik oleh pihak biro perjalanan maupun pihak yang berwenang mengatur kunker.

Dalam banyak kasus, travel agent menjadi lebih berpengaruh daripada pejabat daerah sendiri. Mereka yang menguasai jaringan travel seolah memegang kunci siapa saja yang berhak menikmati perjalanan dinas, dan siapa yang harus menunggu giliran.

Baca juga: Kunker ke Madiun, Kemendukbangga Dorong Program Gizi dan Keluarga Berencana 

Sayangnya, praktik ini sulit dibuktikan di permukaan. Semua transaksi dibungkus rapi dengan administrasi formal yang tampak sah. Tanpa audit mendalam, penyimpangan ini mengalir terus-menerus, membebani APBD secara tidak langsung.

Masyarakat umum jarang diberi tahu tentang proses di balik perjalanan dinas itu. Mereka hanya melihat wajah-wajah pejabat yang tersenyum di bandara, tanpa mengetahui ada industri besar yang ikut menggerogoti keuangan daerah.

Baca juga: Bangun Sister City, AH Thony: Kunjungan ke Luar Negeri Merupakan 'Konsekuensi Logis'

"Di balik satu tiket perjalanan, tersembunyi harga yang dibayar rakyat tanpa pernah diajak bicara."

*) Oleh Yuris P Hidayat, CEO Jatim update.id

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru