Oleh: Ponirin Mika
Jurnalis JatimUPdate.id, Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo
Baca juga: Abdul Mu’ti: Pendidikan Tak Boleh Hanya Cetak Orang Pintar, Tapi Khalifah yang Memakmurkan Bumi
Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id : Isu anak-anak jalanan, termasuk yang tergabung dalam Kelompok Dampingan Masyarakat (KDM), sejak lama menjadi persoalan kompleks di berbagai daerah.
Mereka yang hidup di luar sistem, sering kali kehilangan akses terhadap pendidikan formal, layanan kesehatan, dan rasa aman. Di tengah kondisi ini, lahirlah sebuah pendekatan alternatif yang disebut pendidikan barak.
Pendidikan barak bukanlah bangunan permanen atau sekolah dalam pengertian formal.
Ia adalah ruang sosial yang sengaja dirancang menyerupai barak—sederhana, fungsional, dan fleksibel. Namun isinya sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan, kedisiplinan, dan pembebasan. Di tempat seperti inilah anak-anak marginal didampingi untuk menemukan kembali martabat dan masa depannya.
Kronologi munculnya pendidikan barak berangkat dari keresahan para pegiat sosial yang melihat anak-anak jalanan tersisih dari sistem pendidikan. Banyak dari mereka tidak memiliki akta kelahiran, Kartu Keluarga, atau bahkan alamat tetap. Kondisi ini membuat mereka nyaris tak tersentuh kebijakan pendidikan pemerintah.
Maka dimulailah upaya menghadirkan pendidikan di tempat-tempat yang bisa mereka akses dengan mudah: lahan kosong, tenda darurat, bahkan kolong jembatan.
Barak pertama kali dirintis oleh sekelompok relawan yang bekerja sama dengan tokoh masyarakat dan pesantren.
Mereka menyediakan ruang, waktu, dan tenaga untuk membuka akses belajar. Di sinilah proses pendidikan berlangsung dengan cara-cara yang tak biasa: tanpa seragam, tanpa ujian tertulis, tapi penuh kedekatan dan kepercayaan.
Tujuan utama dari pendidikan barak adalah mengembalikan hak belajar bagi anak-anak yang selama ini dikucilkan. Pendidikan ini tidak bertujuan mencetak nilai, melainkan memulihkan harga diri. Sebab terlalu lama mereka hidup dalam stigma: peminta-minta, pengamen, anak nakal, atau anak gagal.
Barak menjadi rumah yang aman. Anak-anak belajar membaca, menulis, berhitung, tapi juga belajar tentang rasa hormat, kerja sama, dan rasa tanggung jawab. Lebih dari itu, mereka belajar mengenali diri sendiri dan menyusun ulang harapan-harapan hidup yang sempat pudar.
Pendidikan barak juga dimaksudkan untuk memutus rantai marginalisasi. Ia bukan hanya proyek sosial, tetapi proses penyadaran bahwa setiap manusia, sekecil apapun keberadaannya, berhak mendapatkan masa depan yang lebih baik.
Melalui proses belajar yang hangat dan manusiawi, anak-anak KDM mulai membangun kepercayaan diri dan memahami bahwa mereka bukan beban masyarakat, melainkan bagian dari solusinya.
Baca juga: Remaja Masjid Agung At-Taqwa Bondowoso Gelar Pesantren Romadhon ke-45 dan Latihan Kepemimpinan
Strategi pendidikan di barak sangat kontekstual. Guru bukanlah satu-satunya sumber ilmu, tetapi fasilitator yang mendengarkan dan menemani. Materi disusun berdasarkan pengalaman hidup anak-anak. Kisah-kisah mereka menjadi pintu masuk untuk memahami dunia, mengenali tantangan, dan mencari solusi bersama.
Tak ada buku teks baku. Yang ada adalah dialog, teater jalanan, gambar-gambar di atas kardus bekas, dan cerita-cerita lisan yang kaya nilai. Semua ini dilakukan dengan semangat kesetaraan—tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua belajar, semua tumbuh.
Salah satu kekuatan dari pendidikan barak adalah pendekatannya yang inklusif. Ia merangkul semua anak tanpa mempersoalkan latar belakang agama, suku, atau keluarga. Di sinilah terlihat bahwa pendidikan tidak harus mahal dan birokratis untuk bisa bermakna.
Namun tentu saja, pendidikan barak tidak lepas dari tantangan. Dukungan pemerintah sering minim, pendanaan terbatas, dan keberlanjutan menjadi pertaruhan. Di sinilah pentingnya membangun jejaring dengan pesantren, organisasi masyarakat sipil, dan tokoh lokal yang peduli pada masa depan anak-anak.
Beberapa barak di Probolinggo bahkan berhasil mencetak alumni yang kini sudah kembali ke pendidikan formal. Ada yang masuk sekolah paket, ada pula yang berani mendaftar ke pesantren. Ini adalah bukti bahwa pendekatan alternatif bisa menjadi jembatan transformatif.
Yang menarik, pendidikan barak tidak hanya mengubah anak-anak, tapi juga para pengajarnya. Mereka belajar tentang kesabaran, empati, dan pentingnya ketulusan dalam mendampingi manusia yang terluka. Pendidikan, dalam bentuk ini, menjadi proses timbal balik yang memperkaya semua pihak.
Kultur pesantren yang egaliter, nilai-nilai gotong royong, dan tradisi “ngemong” menjadi inspirasi utama dari model pendidikan ini. Maka tak heran jika pesantren menjadi mitra penting dalam menghidupkan barak.
Baca juga: Menuju Puasa Melampaui Ritualisme, Menuju Transformasi Spiritual
Pendidikan barak adalah semacam kritik terhadap sistem pendidikan nasional yang kerap eksklusif dan tidak peka terhadap realitas sosial. Ia menunjukkan bahwa pendidikan bisa hadir dalam bentuk paling sederhana, tetapi tetap bermakna dalam.
Lebih jauh lagi, barak menjadi tempat berlatih hidup bersama. Anak-anak belajar menghargai perbedaan, menyelesaikan konflik secara damai, dan berbagi tanpa pamrih. Semua ini menjadi bekal penting untuk hidup di masyarakat.
Dari tenda-tenda darurat, dari papan-papan bekas, dan dari semangat segelintir orang, pendidikan barak menjelma menjadi ruang harapan. Ia mengajarkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari atas, tapi bisa tumbuh dari bawah—dari cinta yang konkret kepada sesama.
Pendidikan barak adalah laboratorium sosial. Ia tidak hanya menawarkan pengetahuan, tapi juga penyembuhan. Ia tidak menjanjikan ijazah, tapi menawarkan arah hidup. Di sanalah, pendidikan menemukan makna terdalamnya: membebaskan manusia dari ketakutan dan ketidakberdayaan.
Dalam konteks Probolinggo dan sekitarnya, pendidikan barak adalah simbol bahwa masyarakat kita masih memiliki energi kolektif untuk saling merawat. Ketika negara abai, rakyat bangkit. Ketika sistem menutup pintu, nurani membuka jendela.
Dan pada akhirnya, pendidikan barak mengajarkan kepada kita bahwa sekolah bisa hadir di mana saja, selama ada kemauan untuk mendengarkan, mendampingi, dan mencintai. Barak hanyalah bentuk. Yang penting adalah ruhnya: kemanusiaan. (pm/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat