Linimasa Koperasi di Indonesia

Reporter : Ibrahim
Nashir Peneliti Sygma, Mahasiswa S2 Universitas Brawijaya

 

Oleh: Nashir

Baca juga: Pionir di Pulau Jawa, Torasera Nurja Berkah Nurul Jadid Jadi Hub Strategis Ekonomi Rakyat

Peneliti Sygma, Mahasiswa S2 Universitas Brawijaya

Surabaya, JatimUPdate.id - Dalam momentum Hari Koperasi yang akan dimeriahkan pada bulan depan, wacana penguatan koperasi sebagai fondasi ekonomi kerakyatan kembali mengemuka.

Peneliti Sygma, Nashir, mengingatkan pentingnya menengok kembali akar sejarah gerakan koperasi di Indonesia yang sarat dengan semangat kebangsaan dan perjuangan kelas bawah dan dipahami sebagai kekuatan konsolidasi massa dibidang ekonomi yang bersinergi dengan institusi pondok pesantren sebagai wadah konsolidasi umat dibidang keagamaan guna merentas proses perjuangan menuju Indonesia Merdeka.

"Koperasi bukan sekedar wadah simpan pinjam atau distribuasi barang murah. Ia lahir dari semangat perlawanan terhadap ketimpangan dan sebagai alat perjuangan ekonomi kerakyatan," tegas Nashir, Peneliti Sygma Research and Consulting.

Sementara itu senafas dengan pernyataan tersebut, Ferry Juliantono, aktivis yang sejak lama memberdayakan dan membersamai Koperasi yang kini mendapat amanah sebagai  Wakil Menteri Koperasi mengantakan bahwa ada relasi kesejarahan antara koperasi dan perjuangan ekonomi kerakratan yang direntas di era Hindia Belanda menyusul keberadaan entitas lembaga ekonomi itu di tanah air telah ada di era penjajahan. 

Ferry secara khusus dalam berbagai kesempatan menyebutkan bahwa Banyumas dan Kota Purwokerto merupakan lokasi dimana koperasi pertama di Nusantara berdiri oleh tangan dingin Raden Aria Wiratmadja pada 1895 lalu dan kemudian berkembang pesat hingga melahirkan perbankan dari hanya koperasi simpan pinjam serta unit kredit 

"Ada sosok RM Margono Djojohadikusomo yang diketahui dari Buku karyanya berjudul 10 Tahun Koperasi 1930-1940 yang meng cupture bagaimana perkembangan Koperasi-Koperasi di era Hindia Belanda. RM Margono membersamai perkembangan koperasi-koperasi era itu sehingga menjadi sangat relevan bila beliau disebut sebahai pelatak dasar ekonomi kerakyatan yang bersendikan nilai-nilai luhur falsafah Pancasila," ungkap Ferry pekan lalu di Kampus Universitas Jrndral Soedirman, Purwokerto.

Hal ini menegaskan sekaligus menjelaskan bahwa tidak hanya Bung Hatta saja yang bergerak untuk kebesaran Koperasi, namun setidaknya ada dua nama tokoh lainnya yaitu Raden Aria Wiratmadja selaku pendiri Koperasi pertama yang kemudian dikenal sebagai Pendiri Bank Rakyat Indonesia, sosok kedua adalah RM Margono Djojohadisumo yang telah membersamai dan mengembangkan koperasi diera krisis ekonomi global pada masa penjajahan Belanda.

Secara khusus Sygma Research and Consulting kini tengah bergerak untuk menapaki dan mengungkapkan, kalau boleh disebut melakukan tapak tilas atas sejumlah keberadaan situs-situs tua dimana koperasi-koperasi era Hindia Belanda itu pernah hadir berdasarkan buku 10 Tahun Koperasi 1930-1940 karya RM Margono yang dicetak oleh Balai Pustaka pada 1941 itu.

"Dalam perjalanan RM Margono Djojohadikusomo koperasi adalah alat untuk mengangkat harkat rakyat kecil, agar mereka tidak menjadi budak di negeri sendiri," ungkap Nashir.

Diperlukan semangat atau revitalisasi koperasi yang sesuai dengan pemikiran beliau salah satu perlunya melakukan perjalanan spiritual sehingga nantinya terkumpul bukti bukti baru bagaimana margono djojohadikusomo dalam membangun koperasi di indonesia.

Peneliti Sygma, Nashir mengatakan Tim Sygma sudah melakukan kajian mendalam dan perjalanan spiritual terkait koperasi koperasi yang dibentuk dan dibersamai RM Margono Djojohadisumo dan bertekad untuk bisa menulis ulang dengan dikontekstualisasi keberadaan koperasi era kekinian termasuk kini semangat yang menggebu-ngebu untuk pendirian Koperasi Desa Merah Putih pada era Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Koperasi di Era Orde Baru : Birokratisasi

Meski harus diakui bahwa dalam perjalanan koperasi dari masa ke masa telah mengalami kondisi pasang surut. Masuk ke era Orde Baru, koperasi dijadikan alat politik pembangunan.

Pemerintah menggulirkan program besar seperti Koperasi Unit Desa (KUD), yang tampak masif dan terstruktur. Tapi dalam praktiknya, banyak koperasi hanya formalitas. Tanpa pendidikan anggota, tanpa kesadaran kolektif, tanpa transparansi pengelolaan. Koperasi menjadi wadah kosong — alat pendistribusian pupuk, sembako, dan program pemerintah yang ujungnya memanjakan elite desa dan birokrat.

Pada era Orde Baru itu bisa dikatakan bahwa Koperasi seolah-olah  kehilangan roh historisnya, mengingat kemudian keberadaan Koperasi Unit Desa banyak mengalami kegagalan di lapangan, meski tidak bisa dipungkiri pada masa Orde Baru juga berhasil menjaga konsistensi dan eksistensi sejumlah koperasi sektor usaha peternakan sapi perah yang memproduksi Susu hingga saat ini tetap bertahan terbukti dengan eksistensi Gabungan Koperasi Susu Indo esia yang hingga saat ini masih kuat berdiri.

Orde Baru juga masih bisa membuat Koperasi Wanita bertahan dan membesar hingga era kekinian, artinya Koperasi  bila ditangani dengam benar dan partisipasi anggota kuat maka entitas ekonomi rakyat itu dipastikan bisa bertahan bahkan membesar.

Koperasi di Era Reformasi: Antara Peluang dan Kekosongan

Setelah Reformasi 1998, Sistem Ekonomi terbuka semakin mempercepat perekonomian mengarah ke pendulum liberalisasi.

Baca juga: Koperasi Diminta Perkuat Program Makan Bergizi

Koperasi yang tidak siap justru makin terpinggirkan. Sebagian besar mati suri, tak mampu bersaing dengan korporasi dan pasar bebas.

Ironisnya, dalam kebijakan ekonomi nasional, koperasi kerap dilabeli "ekonomi rakyat" tapi tak pernah menjadi pilar utama.

Banyak koperasi berubah menjadi lembaga simpan-pinjam yang justru meniru lembaga keuangan konvensional, bahkan tidak jarang terjerembab menjadi koperasi fiktif.

Namun, di balik kerapuhan itu, kita menyaksikan benih-benih harapan baru.

Era digital melahirkan koperasi-koperasi inovatif: koperasi digital petani, koperasi pekerja lepas, koperasi pangan lokal, koperasi syariah berbasis komunitas, dan bahkan koperasi energi bersih.

Mereka lahir dari keresahan yang sama: rakyat merasa terpinggirkan dari ekonomi formal dan platform raksasa.

Dengan model baru yang memanfaatkan teknologi, koperasi kini mulai menemukan bentuk modernnya.
Margono dan Tantangan Zaman Baru

Dalam konteks hari ini, warisan pemikiran Margono sangat relevan. Ia menekankan bahwa koperasi bukanlah alat administratif, tapi alat pendidikan dan pembebasan rakyat.

“Dalam penelusuran jejak koperasi yang dibentuk Margono: koperasi kredit yang tak hanya menyediakan akses modal, tapi juga melatih kejujuran, tanggung jawab, dan solidaritas anggota”, ujar Nashir peneliti Sygma.

Nashir melihat koperasi sebagai tempat rakyat belajar mengelola diri sendiri dalam ekonomi.

Baca juga: Menteri Sosial ; Bansos Reguler Dimulai Februari 2026

Inilah yang hilang dari koperasi modern kita: kesadaran kolektif dan orientasi ideologis. Tanpa keduanya, koperasi hanya menjadi lembaga ekonomi biasa yang mudah tergilas pasar.

Maka, kebangkitan koperasi di era digital tidak cukup dengan aplikasi dan teknologi. Ia harus dihidupi dengan semangat sejarah, dengan nilai gotong royong, dan dengan kesadaran bahwa koperasi adalah jalan alternatif dari sistem kapitalisme yang tak adil.

Sebagaimana saya tegaskan, jika kita lupa sejarah koperasi, maka yang kita bangun hanyalah kapitalisme dalam bungkus baru — berlabel rakyat, tapi tetap menindas.

Saat ini kita tidak hanya berada diruang retorika belaka teatpi harus ada gerakan pembaruan.

Oleh sebab itu Peneliti Sygma Research itu tawarkan beberapa point revitalisasi koperasi harus dimulai dari :
1. Pendidikan koperasi berbasis sejarah dan nilai — bukan sekadar pelatihan manajemen.
2. Modernisasi koperasi dengan teknologi, tetapi tetap berbasis komunitas.
3. Penerapan prinsip demokrasi ekonomi dalam praktik, bukan hanya teori.
4. Kebijakan pemerintah yang mendukung koperasi sebagai gerakan rakyat, bukan proyek birokrasi.
Koperasi adalah warisan pemikiran paling orisinal dalam sejarah ekonomi Indonesia.

Tugas Bangsa Indonesia hari ini adalah menyambungkan kembali akar sejarah itu dengan realitas zaman baru.

"Bangsa Indonesua tidak sedang memutar ulang masa lalu. Kita sedang membangkitkan kembali ruh kolektif, etika solidaritas, dan mimpi besar: membangun ekonomi Indonesia yang adil, mandiri, dan berpijak pada kaki rakyatnya sendiri," ungkap Nashir.

Best practise masa Hindia Belanda tentang keberadaan Koperasi telah terbukti dengan kemampuannya meredam gejolak dan dampak krisis ekonomi global era 1930-1940 dengan sangat baik, tentunya pengalaman itu tidak akan salah untuk ditiru dan kembali disemangati pada era kekinian.

Kalau era Hindia Belanda saja Koperasi bisa berkembang dan tercatan serta diakui sukses oleh Kerajaan Belanda yang menjajah Bumi Nusantara, masak di era kekinian disaat Bangsa Indonesia yang telah Merdeka ini tidak bisa kembali sukses di sektor ekonomi kerakyatan dengan menempatkan Soko Guru pada institusi Koperasi?

InsyaAllah, Dengan keberadaan institusi Koperasi Desa Merah Putih, kesejahteraan dan kemandirian ekonomi Bangsa menuju Indonesia Emas 2045 akan bisa terwujud, Aamiin YRA. (roy/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru