Belanda Potong Tubuh Ki Boncolono, Legenda Maling Sakti Budiman yang Ditakuti di Kediri

Reporter : Ibrahim
Situs makam Ki Boncolono

Kediri,JatimUPdate.id – Nama Ki Boncolono melegenda sebagai sosok sakti dari Kediri, Jawa Timur. Ia dikenal bukan hanya karena kesaktiannya, tetapi juga karena perlawanan terbukanya terhadap ketidakadilan penjajah Belanda dan antek-anteknya. Dalam berbagai cerita tutur, Ki Boncolono kerap menyatroni harta kekayaan kompeni dan membaginya kepada rakyat jelata. Aksi-aksinya membuatnya dicap sebagai “maling budiman”.

“Ki Boncolono adalah pencuri yang ambigu dalam tindak tanduk susilanya, tetapi sakti mandraguna,” tulis peneliti asal Australia, George Quinn, dalam buku Wali Berandal Tanah Jawa.

Baca juga: We Are Persikmania The Real Purple Dideklarasikan, Dukung Persik Kediri dengan Semangat Satu Tekad

Kisahnya mencuat usai Perang Jawa (1825–1830), ketika kompeni Belanda menerapkan tanam paksa demi mengisi kas negara yang terkuras. Rakyat dipaksa menanam komoditas ekspor seperti kopi, teh, dan tembakau, bahkan tetap dibebani pajak meski bertani di tanah sendiri. Penindasan itu memantik amarah Ki Boncolono.

Sebagian masyarakat percaya, Ki Boncolono adalah sosok yang sama dengan Maling Gentiri, saudara dari Maling Kapa  dua tokoh pencuri sakti yang merupakan murid dari Sunan Ngerang, ulama besar dari pesisir utara Jawa. Mereka dikenal hanya merampok orang kaya yang zalim dan membagikan hasilnya kepada fakir miskin.

Di Kediri, Ki Boncolono tak bergerak sendiri. Ia didukung Tumenggung Mojoroto, Tumenggung Poncolono, serta para muridnya. Aksi penjarahan terhadap aset dan antek-antek kompeni kian masif hingga membuat Belanda murka.

Pemerintah kolonial lalu mengeluarkan perintah tegas: Ki Boncolono harus ditangkap, hidup atau mati. Namun, perburuan itu tidak mudah. Ki Boncolono dikenal sakti mandraguna dan dicintai rakyat. Dalam banyak kisah, ia mampu menembus bangunan lewat lubang sekecil apapun hanya dengan berkas cahaya. Ia juga diyakini menguasai ilmu pancasona atau rawa rontek, yang membuatnya tak bisa mati selama tubuhnya menyentuh tanah.

Akhirnya, dengan sayembara berhadiah, kompeni berhasil menjebaknya. Tubuh Ki Boncolono dipotong menjadi dua bagian dan dipisahkan oleh Sungai Brantas. Kepala dan tubuhnya dimakamkan di tempat berbeda strategi untuk melumpuhkan kekuatan ilmu pancasona yang diyakini akan lenyap jika bagian tubuh terpisah dan tak menyatu dengan tanah.

Baca juga: Resmi Gunakan Stadion Gelora Joko Samudro, Berikut Harga Tiket Laga Persik Kediri Vs Madura United

Menurut catatan George Quinn, tubuh Ki Boncolono dimakamkan di puncak Bukit Maskumambang, Kecamatan Mojoroto, di sebelah barat Sungai Brantas. Di puncak bukit itu, jasadnya yang tanpa kepala dibaringkan bersebelahan dengan makam Tumenggung Poncolono dan Tumenggung Mojoroto. Situs makam ini dipugar pada 2004 dengan pembangunan 555 anak tangga menuju puncak.

Pemugaran dilakukan setelah keturunan Ki Boncolono menyerahkan situs itu kepada Pemkot Kediri. Prasasti penyerahan ditandatangani oleh Japto Soerjosoemarno, Ketua Umum Pemuda Pancasila, yang merupakan keturunan ketujuh Ki Boncolono.

Sementara itu, kepala Ki Boncolono disebut dimakamkan di sebuah punden bernama Ringin Sirah di timur Sungai Brantas, tepatnya di perempatan Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Joyoboyo, Kota Kediri. Nama "Ringin Sirah" merujuk pada pohon beringin tua yang tumbuh di lokasi tersebut.

Baca juga: Dipastikan Diusung Kembali oleh PDIP, Bagaimana Peluang Mas Dhito di Pilkada Kediri 2024 ?

Warga Kediri percaya pemisahan tubuh dan kepala Ki Boncolono adalah simbol pemisahan antara pemimpin dan rakyat.

“Dengan cara begitu mereka melumpuhkan rakyat Indonesia. Diceraikannya pemimpin dari rakyat dengan tujuan untuk menjajah kami dan merampok kami,” tulis George Quinn dalam Wali Berandal Tanah Jawa. 

Tulisan ini secara khusus dipungut Redaksi JatimUPdate.id, disunting dan diedit dari Grup MPW Pemuda Pancasila Jawa Timur, pada Senin Malam (30/06/2025). (roy/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru