Jakarta, JatimUPdate.id - Kyai dan ulama mengapresiasi langkah pemerintah yang menulis kiprah para ulama dalam membangun Indonesia. Melalui penulisan biografi para ulama diharapkan bisa menjadi sumber inspirasi dan keteladanan bagi masyarakat Indonesia.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang KH Muhammad Idror Maimoen mengatakan peran kyai dan ulama terdahulu luar biasa dalam memperkuat altar kebangsaan.
Baca juga: Membeberkan Kisah Perempuan yang Menyayat Hati lewat Puisi Esai dan AI
"Penulisan buku tentang peran Kyai Faqih Maskumambang yang diinisiasi Bappenas patut kita apresiasi. Tokoh Maskumambang memiliki peran penting pada masa awal pendirian NU," ujar KH Idror Maimoen saat Peluncuran dan Bedah Buku “Kyai Faqih Maskumambang: Peradaban Santri dan Altar Kebangsaan” yang diselenggarakan Bappenas di Auditorium Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, kemarin.
Menurut KH Idror Maimoen buku tersebut menjadi momen penting dalam menggali warisan pemikiran ulama Nusantara yang membentuk peradaban dan jati diri kebangsaan Indonesia. "Kami para generasi muda sering diceritakan oleh kakek kami, Kyai Zubair tentang pertemuan-pertemuan para kyai zaman dulu dan menghasilkan berbagai ide dan karya besar," imbuhnya.
Dalam peluncuran buku tersebut hadir Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional /BAPPENAS Amich Alhumami, Sekjen PPP M Arwani Thomafi, Pengasuh Ponpes Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfuz, Pengasuh Ponpes Al Anwar Sarang KH. M Idror Maimoen dan KH Adzfar Ammar yanv merupakan perwakilan keluarga Kyai Faqih Maskumambang.
Baca juga: Ratusan Peserta Hadiri Bedah Buku Evaluasi Pencalonan Pilkada Jawa Tengah 2024
Sementara itu, KH. Abdul Hakim Mahfudz, akrab disapa Gus Kikin Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur mengungkapkan bahwa semangat warisan Kyai Faqih Maskumambang tidak hanya hidup dalam kitab-kitab klasik atau tradisi pengajian, tetapi juga dalam dinamika masyarakat akar rumput.
Kyai Faqih mencontohkan pengajian Yasin As’ani di Jogon, yang menggambarkan bagaimana nilai-nilai keagamaan, harapan, dan perbedaan pandangan fiqih hidup berdampingan secara konstruktif di tengah masyarakat.
“Masya Allah, apa yang terjadi di Jogon, dimana berbagai unsur masyarakat seperti ibu-ibu, pokja, dan para pemuda turut serta dalam pengajian Yasin As’ani menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki harapan besar terhadap agama sebagai penopang peradaban,” ujarnya.
Baca juga: P2KM UIN Jakarta Sukses Gelar Kuliah Umum dan Bedah Buku Pertautan Muslim Indonesia Tiongkok
Bahkan dalam perbedaan pandangan, mereka tetap menyampaikan pendapat dengan penuh adab dan rasa saling menghargai. Menurut Gus Kikin, semangat inilah yang juga pernah hidup dalam pribadi Kyai Faqih Maskumambang, ulama kelahiran Gresik tahun 1857, yang dikenal sebagai ahli tafsir, tauhid, dan fiqih, serta menjadi salah satu tokoh yang meletakkan dasar kelahiran Nahdlatul Ulama. Lewat pendidikan dan karya-karyanya, Kyai Faqih tidak hanya memperkuat identitas santri, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan yang moderat.
Sementara itu Deputi Bappenas Amich Alhumami mengatakan penerbitan buku dan launcing tersebut ini diinisiasi oleh LP3ES, sebagai bagian dari ikhtiar menggali warisan keilmuan pesantren dalam konteks Indonesia modern.Buku ini menjadi refleksi penting bagi generasi muda dalam membumikan kembali pemikiran Islam Nusantara sebuah Islam yang santun, terbuka, dan berkebangsaan. (*)
Editor : Redaksi