Oleh: Ponirin Mika
Ketua MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo, Jurnalis JatimUPdate.id
Baca juga: Jam Sekolah Selama Ramadan 1447 H/2026: Begini Aturannya dan Kegiatan yang Dianjurkan
Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id : Islam bukan sekadar agama ibadah ritual, melainkan sistem kehidupan yang diturunkan oleh Allah SWT untuk membentuk peradaban unggul.
Sebagai agama wahyu, Islam menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk pendidikan sebagai pilar utama peradaban.
Sejak awal kemunculannya, Islam membawa misi peradaban. Al-Qur’an diturunkan tidak hanya sebagai kitab petunjuk ibadah, tetapi juga sebagai sumber ilmu, etika, hukum, dan nilai-nilai sosial. Pendidikan dalam Islam merupakan media pewarisan nilai-nilai tersebut secara sistematis dan transformatif.
Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam pernah mencapai puncak kejayaannya ketika pendidikan menjadi pusat perhatian umat.
Dari Baghdad, Kairo, hingga Cordoba, pendidikan Islam melahirkan ilmuwan, filsuf, dan teknolog yang memberi kontribusi besar bagi dunia.
Peradaban Islam berbeda dengan peradaban Barat yang cenderung sekular dan materialistik. Islam mengintegrasikan dimensi spiritual, akhlak, dan intelektual dalam satu kesatuan utuh.
Pendidikan dalam Islam tidak hanya mencetak manusia pintar, tetapi juga saleh dan bertanggung jawab.
Dalam Islam, pendidikan bertujuan membentuk manusia paripurna (insan kamil), yakni individu yang sadar akan tanggung jawab vertikal kepada Allah dan horizontal kepada sesama makhluk. Inilah visi pendidikan Islam yang membedakannya dari sistem pendidikan lainnya.
Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang pemikir pendidikan Islam asal Malaysia, menegaskan bahwa inti pendidikan Islam adalah proses ta’dib, yakni penanaman adab.
Menurutnya, pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi pembentukan karakter dan pengenalan terhadap hakikat kebenaran.
Al-Attas mengkritik sistem pendidikan modern yang tercerabut dari nilai-nilai transendental. Ia mengingatkan bahwa hilangnya adab adalah sebab utama kerusakan ilmu dan peradaban.
Maka, menurutnya, reformasi pendidikan Islam harus dimulai dari restorasi adab.
Fazlur Rahman, tokoh intelektual Pakistan, menyoroti pentingnya pendidikan Islam yang progresif dan kontekstual.
Ia menekankan bahwa pendidikan Islam harus mampu menafsirkan kembali ajaran wahyu agar relevan dengan tantangan zaman modern.
Fazlur Rahman menyerukan lahirnya sintesis antara tradisi dan modernitas. Baginya, pendidikan Islam perlu menumbuhkan kesadaran kritis tanpa meninggalkan akar spiritualitas. Dengan begitu, umat Islam bisa menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri.
KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim menekankan pentingnya hubungan ruhani antara guru dan murid dalam pendidikan.
Ia mengingatkan bahwa keberkahan ilmu tidak semata pada kurikulum, tetapi pada adab dan akhlak dalam proses pembelajaran.
Menurut Hasyim Asy’ari, pendidikan yang mengabaikan akhlak akan melahirkan generasi yang pintar tetapi tidak amanah.
Inilah yang menjadi penyakit peradaban modern: krisis integritas. Maka pendidikan Islam harus kembali pada nilai-nilai akhlak dan keikhlasan dalam belajar.
Iqbal Ramadhan, seorang akademisi dan aktivis pendidikan Indonesia, menyatakan bahwa pendidikan Islam masa kini harus diarahkan pada pemberdayaan.
Ia menolak pendidikan yang menjadikan peserta didik sebagai objek, dan menekankan pentingnya pendekatan partisipatif.
Baca juga: Jam Masuk Sekolah Saat Ramadan di Bondowoso Dipastikan Berubah, Disdik Tunggu Edaran Pusat
Pendidikan Islam, menurut Iqbal, harus menumbuhkan daya kreasi dan kemandirian peserta didik. Dengan begitu, generasi Islam tidak hanya menjadi konsumen peradaban, tetapi produsen gagasan dan solusi. Pendidikan harus mendorong munculnya agen perubahan.
Abdul Fattah Jalal, pakar kurikulum pendidikan Islam dari Mesir, mengatakan bahwa sistem pendidikan Islam harus mampu melahirkan manusia yang seimbang antara aspek ruhiyah dan jasadiyah.
Pendidikan tidak boleh hanya melatih kecerdasan logika, tetapi juga kecerdasan spiritual dan sosial.
Jalal menekankan pentingnya integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum. Pendidikan Islam yang memisahkan keduanya akan melahirkan dualisme yang merusak.
Justru, integrasi ilmu adalah warisan asli dari peradaban Islam klasik.
Di tengah krisis global—mulai dari degradasi moral, konflik antarbangsa, hingga krisis lingkungan—pendidikan Islam menawarkan solusi integral.
Ia tidak hanya menawarkan keterampilan teknis, tetapi nilai, makna, dan tujuan hidup.
Dunia modern butuh manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak dan bijaksana. Pendidikan Islam, jika dikelola secara profesional dan kontekstual, mampu menjawab kebutuhan tersebut. Ia bisa menjadi kekuatan moral dan intelektual dalam membangun masa depan dunia.
Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki potensi besar menjadi pusat kebangkitan pendidikan Islam dunia.
Pesantren, madrasah, dan lembaga-lembaga pendidikan Islam perlu didukung dan diperkuat perannya sebagai agen peradaban.
Tantangannya adalah bagaimana menjadikan pendidikan Islam tetap berakar pada nilai-nilai tauhid dan tradisi, namun tetap adaptif terhadap perkembangan zaman.
Baca juga: Seni Berjanji
Transformasi kurikulum, metode, serta tata kelola pendidikan menjadi hal yang tak terhindarkan.
Digitalisasi, kecerdasan buatan, dan revolusi industri 5.0 menjadi peluang sekaligus tantangan.
Pendidikan Islam harus hadir di ruang-ruang digital dengan pendekatan dakwah yang humanis, kreatif, dan berakar pada kearifan wahyu.
Untuk itu, diperlukan kolaborasi antara ulama, akademisi, birokrat, dan masyarakat dalam merancang kebijakan pendidikan Islam yang futuristik.
Pendidikan Islam tidak boleh dipandang sektoral, melainkan sebagai fondasi utama pembangunan nasional.
Lembaga-lembaga pendidikan Islam juga harus membekali lulusannya dengan kecakapan hidup (life skills), literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta jiwa kepemimpinan.
Dengan begitu, alumni pendidikan Islam akan mampu bersaing dan memberi kontribusi di tingkat global.
Pendidikan Islam bukanlah warisan masa lalu, melainkan solusi masa depan. Ia bukan hanya untuk umat Islam, tetapi untuk seluruh umat manusia.
Nilai-nilainya bersifat universal: keadilan, kasih sayang, kejujuran, dan kemuliaan akhlak.
Dunia membutuhkan model pendidikan yang tidak mencetak robot-robot akademis, tetapi manusia yang utuh. Pendidikan Islam adalah harapan baru di tengah kebuntuan arah pendidikan global. Ia mampu menjadi cahaya bagi masa depan peradaban.
Maka, membangun kembali kejayaan pendidikan Islam adalah kewajiban bersama. Kita harus menyadari bahwa investasi terbesar umat adalah pada pendidikan. Sebab, dari sanalah akan lahir pemimpin, ilmuwan, ulama, dan agen perubahan yang akan mewujudkan peradaban Islam yang rahmatan lil alamin. (pm/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat