Oleh: Hadi Prasetyo
Baca juga: Jiwa yang Tenang: Menyelami Samudra Kedamaian dalam Bingkai Tasawuf
Pemerhati Sosial, Politik, Ekonomi, Hukum dan Budaya
Surabaya, JatimUPdate.id : Stress, ketegangan, kecemasan, frustrasi dan sejenisnya, merupakan suatu tekanan kehidupan yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan modern, yang makin bising, penuh persaingan, konflik dan ketimpangan (sosial-ekonomi).
Dalam kehidupan yang demikian akan ada dan mungkin sering muncul kerinduan untuk menikmati hari-hari dengan rasa dan suasana ‘damai-sejahtera’ walau sementara.
Istilah damai-sejahtera disini bukan bermakna tujuan pembangunan dimana tercipta suasana damai sejahtera kehidupan masyarakat, tetapi lebih bermakna upaya manusia (individual) untuk ‘melahirkan suasana ‘damai sejahtera batin’ walaupun hidup dalam alam modernisasi yang penuh kebisingan dan ketegangan.
Tulisan ini lebih merupakan analisis dari sisi filsafat umum sebagai pembelajaran literasi publik.
Ataraxia dan An Jing
Sulit mencari istilah yang spesifik, tetapi menurut literatur ada istilah "Ataraxia" (Yunani Kuno) yang berarti ketaktergoyahan jiwa dari gangguan luar.
Ada pula istilah Mandarin yang lebih jelas yaitu: "An Jing" (安静)-damai – tenang.
Menurut konsep filsafat Taoisme dan Konfusianisme: ketenangan aktif - bukan pasif-, tapi kesadaran penuh dalam kesederhanaan. "安" (ān)* = damai-sejahtera secara batin, "静" (jìng) = ketenangan pikiran ditengah kekacauan.
Relevansinya dalam kehidupan modern, "An" berarti kemampuan bertahan (resilience) tanpa kehilangan esensi diri. "Jing" berarti fokus pada yang esensial, menolak distraksi dunia digital.
Menurut filsuf Laozi, ketenangan bukan berarti lari dari badai, tapi menemukan pusar keheningan di dalamnya.
Konsep "An Jing" mengajak kita berakar dalam keheningan, bukan sekadar bertahan di permukaan. Istilah ini bukan pelarian, tapi seni berdiam di pusat diri sambil bergerak dalam dunia.
Sumber Tekanan dan Kejenuhan Modern
Sekurangnya ada 5 faktor yang menjadi sumber tekanan dan kejenuhan dalam kehidupan modern.
1. Efisiensi yang menjadi beban. Teknologi seharusnya menghemat waktu, tapi justru menghapus batas kerja/istirahat. Email dan notifikasi membuat otak dalam mode siaga 24 jam non-stop. Berdasarkan Studi World Health Organization (2019) menyebut burnout sebagai fenomena global terkait kerja.
2. Persaingan multi-arena. Politik-ekonomi-sosial kini menyatu di medan pertarungan bernama reputasi digital. Media sosial mengubah identitas jadi ‘komoditas yang harus dipamerkan’. Byung-Chul Han dalam The Burnout Society (2015) menyebutnya sebagai ‘masyarakat kelelahan akibat tuntutan berprestasi tanpa musuh nyata’.
3. Mobilitas yang memutus akar. Urbanisasi memisahkan orang dari komunitas asal, tapi ikatan baru di kota cenderung transaksional. ‘Kesepian di keramaian’ jadi epidemi seperti diulas Robert Putnam, Bowling Alone (2000) tentang keruntuhan modal sosial.
4. Kebutuhan hidup yang terinflasi. Iklan dan media menciptakan ‘kebutuhan artifisial’. Hidup tak lagi cukup dengan sandang-pangan-papan, tapi harus dengan gadget terbaru, liburan Instagramable, dll. Studi Barry Schwartz, The Paradox of Choice (2004) mengungkap bahwa semakin banyak pilihan, semakin tinggi kecemasan.
5. Kepadatan fisik dan mental. Kemacetan dan kepadatan kota memicu ‘sensory overload’. Otak manusia belum berevolusi untuk menghadapi stimulasi berlebihan (suara bising, polusi visual, interaksi dipaksakan). Menurut UN Habitat, kota-kota di Asia Tenggara seperti Jakarta dan Manila termasuk yang terpadat di dunia, dengan tingkat polusi suara > 80 dB (ambang risiko WHO).
Perbedaan dengan Sres Zaman lalu
Zaman Pra-Modern Zaman Modern
Stres akut (kelaparan, perang) Stres kronis (tekanan halus terus-menerus)
Komunitas sebagai penyangga Individualisme kompetitif
Ritme alam mengatur waktu Waktu diatur mesin & produktivitas
Sumber literatur lain menyatakan mengapa modernisasi menjadi sumber kejenuhan?:
Hilangnya ‘ritme alam’. Hidup kita dikendalikan deadline, notifikasi, dan efisiensi. Kita terputus dari ritme matahari, bulan, musim, sebagai sesuatu yang dihormati tradisi Timur.
Individualisme ekstrem. Modernitas sering mengasingkan manusia dari jaring relasi bermakna.
Kebisingan dan distraksi. Dunia digital membanjiri kita dengan informasi, tapi mengikis ruang untuk kontemplasi tenang.
Melawan Arus dengan Kearifan Kuno
a. Berdasarkan prinsip kearifan kuno, memprioritaskan tugas esensial, menolak yang tak sejiwa dengan nilai diri bukan berarti malas, tapi fokus pada aliran alamiah energi.
b. Menciptakan ritual harian sederhana (minum teh tanpa gawai, makan malam tanpa TV) perlu untuk memulihkan ritme.
c. Lebih fokus pada apa yang bisa diatur (reaksi diri), lepaskan yang tak bisa diatur (kemacetan, tingkah orang).
d. Teknologi untuk detoks digital. Bisa menggunakan aplikasi seperti Freedom atau Offtime untuk memblokir notifikasi. Atur "zaman batu digital" tiap akhir pekan.
Melawan arus juga bisa dengan merenungkan kata mutiara, seperti Chuck Palahniuk (penulis Fight Club): "Kita menjual waktu hidup untuk membeli barang yang tak kita butuhkan, demi mengesankan orang yang tak kita sukai.".
Atau pepatah Tiongkok: "Bukan kesibukan yang membunuhmu, tapi keributan yang tak berarti." Dan masih banyak kata bijak yang bisa dijadikan reminder.
Kembali ke "Pusat Tenang"
Tekanan modern ibarat angin kencang, kita tidak bisa menghentikannya, tapi bisa membangun ‘mata angin’ dalam diri. Mungkin perlu langkah konkret, misal mulai dengan 1 jam tanpa teknologi tiap hari, cari ruang hijau terdekat (taman/kebun), dan tanya diri: "Apa yang benar-benar kumau, bukan yang diajarkan media?"
Kembali ke yang alami, bukanlah pelarian, tapi penyeimbangan. Seperti kearifan kuno yang tidak menolak peradaban, tapi menekankan keharmonisan antara manusia, masyarakat, dan langit (alam semesta).
Kemajuan harus dilandasi etika dan kearifan, bukan sekadar teknologi.
Prinsip kesederhanaan bermartabat mengajarkan dalam kesederhanaan ritual (seperti penghormatan pada alam, musim), memberikan kedamaian yang hilang di dunia modern.
Pada akhirnya kejenuhan kita bukan kelemahan, tapi sinyal jiwa bahwa ada yang tak seimbang. Seperti filsuf yang hidup di zaman perang dan kekacauan, justru di tengah kegaduhanlah kearifan lahir.
Pohon yang lentur tak patah diterpa angin, memberikan makna bahwa modernisasi tidak perlu ditolak, tetapi dibalut dengan kesadaran.
Kembali ke ‘yang alami dan tenang’ adalah cara merawat akar, agar saat menghadapi badai modern, kita tidak tercabut dari esensi diri. Semoga bermanfaat. (roy/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat