Lucyana Li "Catatan yang Sempat Hilang"

Reporter : Redaksi
Ilustrasi

Surabaya,JatimUPdate.id - Langit di ujung senja itu berwarna jingga, menyisakan kilau keemasan di cakrawala. Di kafe kecil di sudut kota, aroma kopi robusta bercampur dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Nanda duduk di dekat jendela, menyeruput teh chamomile hangat, matanya sesekali melirik ke pintu masuk. 

Ia menunggu seseorang yang sudah lama tak ia temui, seseorang yang dulu begitu akrab bagai keluarga. Nanda, kini mengabdikan hidupnya sebagai pendidik di sebuah sekolah menengah di pinggiran kota. 

Baca juga: Jam Sekolah Selama Ramadan 1447 H/2026: Begini Aturannya dan Kegiatan yang Dianjurkan

Rambutnya yang mulai dihiasi uban tipis diikat rapi, dan senyumnya masih menyimpan kehangatan yang sama seperti saat ia masih menjadi agen rahasia. 

Dulu, hidupnya penuh adrenalin, menyusup di malam gelap, menjalankan misi berbahaya bersama timnya, termasuk Arman. 

Namun, setelah kontraknya sebagai agen berakhir, Nanda memilih jalan yang berbeda. Ia ingin hidupnya lebih bermakna, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk bangsa dan negara. 

Kini, ia menanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada murid-muridnya, berharap mereka tumbuh menjadi generasi yang mencintai tanah air.

Pintu kafe berderit pelan, dan sosok yang ditunggu akhirnya muncul. Arman, dengan jaket jeans putih melangkah masuk. Wajahnya yang dulu selalu tegang kini tampak lebih rileks, meski garis-garis usia mulai terlihat di sudut matanya. 

Ia tersenyum lebar saat melihat Nanda, lalu melangkah cepat menuju mejanya.

“Nanda! Lama nggak ketemu, ya,” sapa Arman, suaranya penuh semangat. Ia menarik kursi dan duduk, memesan kopi hitam tanpa gula kepada pelayan yang lewat.

Nanda tertawa kecil. “Kamu nggak berubah, Arman. Masih suka kopi pahit, masih suka datang terlambat.”

Arman mengangkat bahu, tersenyum. “Kebiasaan lama susah hilang. Tapi kamu, lihat, sekarang jadi guru! Dulu kita kejar-kejaran di lapangan, sekarang ngajar anak-anak tentang Pancasila.”

Nanda mengangguk, matanya berbinar. “Ini panggilan hati, Arman. Aku ingin anak-anak tahu negara ini punya harapan, asal mereka mau berjuang untuknya. Lagipula, aku sudah capek main kucing-kucingan dengan bahaya.”

Arman tertawa, tapi ada sedikit kesedihan di matanya. Sebab, setiap bertemu dengan dia, diingatkan terhadap banyak kenangan yang menyayat hati.

“Kamu beruntung, Nan. Sekarang jadi guru, namum apapun aktivitas kita, kita harus jalani sebahagia mungkin, bersyukur atas apa yang Tuhan kasih. Tapi kadang, rindu masa lalu itu suka datang tiba-tiba.”

Nanda memandang Arman dengan penuh pengertian. Ia tahu, di balik senyum lebar dan sikap santainya, Arman menyimpan banyak cerita. 

Mereka memang sudah lama tak bertemu, tapi komunikasi mereka tak pernah benar-benar putus. Meski jarak memisahkan, Nanda di Jakarta dan Arman sering berpindah-pindah, akhirnya memutuskan menetap disalah satu kota besar. Namun, telepon dan pesan singkat membuat mereka tetap terhubung. 

Arman sering bercerita tentang hidupnya, tentang bagaimana ia mencoba menikmati setiap hari dengan penuh syukur, meski hidup sendiri setelah kehilangan Pita, istrinya.

Arman pernah menikah dua kali. Pernikahan pertamanya berakhir karena perbedaan visi hidup saat menjadi agen rahasia. Ia sering meninggalkan istrinya dan hanya punya waktu sedikit untuk berbagi kasih. 

Setelah itu, ia bertemu Pita, seorang janda dengan dua anak, yang juga mantan agen. Pita adalah sosok yang penuh semangat, cerdas, dan tangguh. 

Mereka sering ditugaskan bersama dalam beberapa misi, dan chemistry di antara mereka tumbuh seiring waktu. 

Arman dan Pita akhirnya menikah, hidup bahagia bersama, meski hanya sebentar. Pita merawat anak keduanya, Lucyana Li, sementara anak pertamanya ikut dengan ayah kandungnya. 

Sayangnya, kebahagiaan mereka terhenti tragis ketika Pita meninggal dalam kecelakaan mobil. Arman ingin merawat Lucyana, yang saat itu baru berusia dua tahun, tetapi keluarga Pita bersikeras mengambil alih pengasuhan. 

Arman, yang saat itu masih berjuang dengan duka, akhirnya menyerahkan Lucyana kepada mereka.

“Gimana kabar Lucyana?” tanya Nanda, mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih sensitif. Ia tahu Arman jarang membicarakan anak tirinya, tapi Nanda selalu penasaran, ingin tahu dimana sekarang anak sahabatnya tersebut.

Arman menghela napas panjang. “Aku nggak tahu, Nan. Mungkin dia sudah SMA sekarang. Keluarga Pita nggak pernah membiarkan aku dekat-dekat. Aku cuma bisa berdoa dia baik-baik saja.”

Nanda mengangguk pelan. Ia tahu Arman tak pernah menyesali masa lalunya, tapi luka kehilangan Pita dan Lucyana sepertinya masih tersisa. 

Saat bertemu Nanda, Arman selalu bilang ia ingin hidup bahagia, seperti orang-orang yang ia lihat di sekitarnya, hidup normal, rukun, dan penuh kegembiraan. 

Ia juga sering bercanda tentang mencari pengganti Pita, tapi Nanda tahu itu bukan hanya candaan. Arman rindu memiliki keluarga lagi, seseorang untuk berbagi tawa dan cerita di penghujung hari.

Hari mulai gelap, dan mereka berpisah dengan janji untuk bertemu lagi. Nanda balik ke penginapan bertemu suaminya lalu kembali ke Jakarta esok pagi.

Baca juga: Jam Masuk Sekolah Saat Ramadan di Bondowoso Dipastikan Berubah, Disdik Tunggu Edaran Pusat

Sementara Arman kembali ke rutinitasnya yang sederhana namun penuh syukur. Ia sering menghabiskan waktu dengan teman-teman lamanya, berbagi cerita, dan beranda tawa

Arman adalah tipe orang yang bisa menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil, secangkir kopi di pagi hari, tawa anak-anak tetangga yang bermain di halaman, atau obrolan ringan dengan penjual sayur di gang.

Namun, di sudut hatinya, ia tak menampik merindukan sesuatu yang lebih seseorang yang bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan Pita.

Beberapa minggu kemudian, Nanda sedang menyiapkan materi pelajaran di apartemennya ketika ponselnya berdering. Nomor tak dikenal. 

Ia mengangkat, dan suara di ujung telepon terdengar ragu-ragu namun penuh harap. “Halo, Tante Nanda? Ini Lucyana. Lucyana Li.”

Nanda terdiam sejenak, mencoba mencerna nama itu. “Lucyana? Anaknya Pita?” tanyanya, hatinya langsung dipenuhi kenangan tentang sahabatnya itu.

“Iya, Tante. Aku... aku menemukan catatan Mama. Ada surat yang bilang kalau aku sudah besar, aku harus menghubungi Tante Nanda untuk bertemu dengan Om Arman. Ada foto juga, kami bertiga waktu aku kecil.”

Nanda merasa dadanya menghangat. Ia teringat Pita, wanita tangguh yang selalu punya rencana cadangan, bahkan untuk masa depan anaknya. 

Surat itu, yang menunjuk ke Nanda sebagai jembatan untuk menghubungkan Lucyana dengan Arman, adalah bukti betapa Pita mempercayainya. 

“Kamu di mana sekarang, Luc? Kita atur pertemuan, ya. Om Arman pasti senang banget tahu kamu menghubungi.”

Lucyana menjelaskan ia kini tinggal di salah satu kota di Jawa Tengah dan sudah SMA. Ia menemukan kotak kecil berisi catatan dan foto-foto lama milik Pita saat membersihkan gudang rumah neneknya. Di dalamnya, ada surat tulisan tangan Pita yang berbunyi:

Lucyana sayang, jika kamu membaca ini, artinya kamu sudah besar. Hubungi Tante Nanda. Dia akan membantu kamu menemukan Om Arman, ayah tirimu. Dia sangat mencintaimu, seperti aku mencintaimu. Kalian berdua pantas saling mengenal.

Nanda segera menghubungi Arman, menceritakan tentang telepon dari Lucyana. Arman terdiam di ujung telepon, suaranya bergetar saat berkata, “Nan, ini beneran? Lucyana nyari aku?”

“Iya, Arman. Dia mau ketemu. Aku atur pertemuan kalian, ya? Di kafe yang sama, minggu depan?” Nanda berusaha menenangkan Arman, yang terdengar begitu emosional.

Arman setuju, meski suaranya masih penuh keharuan. Nanda merasa campur aduk senang karena akhirnya Arman bisa bertemu kembali dengan Lucyana, namun juga haru mengingat Pita, yang seolah masih hadir melalui surat itu.

Baca juga: Seni Berjanji

Minggu berikutnya, di kafe yang sama, Nanda tiba lebih awal bersama Lucyana. Gadis berusia 17 tahun itu tampak gugup, memegang kotak kecil berisi foto dan surat Pita. Nanda menepuk pundaknya lembut. “Tenang, Luc. Om Arman orang baik. Dia pasti senang banget ketemu kamu.”

Ketika Arman masuk, matanya langsung tertuju pada Lucyana. Wajahnya, yang begitu mirip dengan Pita, membuat Arman terpaku. Nanda bangkit, memeluk Arman singkat, lalu berkata, “Arman, ini Lucyana. Lucyana, ini Om Arman, ayah tirimu.”

Arman menatap Lucyana, matanya berkaca-kaca. “Lucyana... kamu sudah besar,” katanya, suaranya parau. Lucyana tersenyum malu-malu, lalu membuka kotak kecil itu dan menunjukkan foto lama: Arman, Pita, dan Lucyana kecil, tertawa di tepi pantai. “Ini yang Mama simpan,” ujar Lucyana. “Dan ini suratnya.”

Arman membaca surat Pita, air matanya akhirnya tumpah. Ia tak bisa menahan keharuan. “Aku nggak nyangka, Luc. Aku pikir aku nggak akan ketemu kamu lagi.”

Lucyana memeluk Arman, dan Nanda, yang menyaksikan dari samping, tersenyum sambil mengusap air matanya sendiri. 

Ia merasa Pita sedang tersenyum dari atas sana, melihat rencananya berhasil menyatukan dua orang yang ia cintai.

Mereka menghabiskan sore itu dengan berbagi cerita. Lucyana menceritakan kehidupannya, sekolahnya, dan mimpinya menjadi dokter. 

Arman menceritakan masa lalunya dengan Pita, misi-misi gila yang mereka jalani, dan bagaimana Pita selalu membuatnya merasa hidup. 

Nanda ikut menimpali, menceritakan kenangan lucu tentang Pita yang selalu jadi penutup dalam setiap misi mereka. Ada tawa, ada air mata, tetapi yang terpenting, ada ikatan yang mulai terjalin kembali.

Setelah pertemuan itu, Arman merasa hidupnya berubah. Ia masih menjalani hari-harinya dengan penuh syukur, tapi kini ada harapan baru. Ditambab lagi Lucyana sering berkomunikasi, dan mereka membangun hubungan yang dulu terputus. 

Arman juga mulai terbuka untuk mencari cinta baru, seseorang yang bisa menerima dirinya dan berbagi kebahagiaan sederhana seperti yang ia lihat di sekitarnya. Ia ingin hidup guyub, rukun, dan penuh tawa, seperti yang ia impikan.

Nanda, yang melihat perubahan itu, hanya tersenyum saat mereka bertemu lagi. “Kamu lihat, Arman? Pita selalu punya cara untuk bikin kita bahagia, bahkan setelah dia pergi.”

Arman mengangguk, menyeruput kopi pahitnya. “Iya, Nan. Kita harus menikmati hidup ini apapun kondisinya. Menciptakan kebahagiaan. Karena bahagai itu hadir atas prakarsa kita sendiri," kata Arman.

*)Oleh: Roy Arudam

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru