Oleh: Hadi Prasetyo
Baca juga: Festival Rangkarang di Randutatah, Upaya Desa Lestarikan Seni dan Dongkrak Ekonomi Warga
Pemerhati Masalah Sosial, Politik, Ekonomi, Hukum dan Budaya
Surabaya, JatimUPdate.id : Tulisan ini anggap saja sebagai latihan kontemplasi untuk semua umur, sambil sekilas melakukan literasi umum wawasan futurologis.
Mungkin menarik untuk membayangkan kilas balik sejarah peradaban dan teknologi, sejak ribuan tahun sebelum masehi, hingga saat ini, dan fantasi tentang dunia didepan berabad-abad lagi.
Lompatan Peradaban dan Teknologi
Sebagai kerangka literasi, ada 5 lompatan besar peradaban dan teknologi
1. Revolusi Pertanian (10.000 SM) . Menurut Yuval Noah Harari, ‘Sapiens’ (2014) , era itu ditandai dengan berburu bergeser ke bertani. Mulai berkembang inovasi seperti irigasi, domestikasi hewan/tanaman (dosmetikasi adalah proses penjinakan dan penyesuaian hewan atau tumbuhan liar untuk hidup bersama dan memenuhi kebutuhan manusia). Perkembangan ini berdampak pada lahirnya permukiman dan hierarki sosial .
2. Revolusi Perunggu dan Besi (3300–1200 SM). Menurut Charles Freeman, ‘The Closing of the Western Mind’ (2002), pada masa ini berkembang teknologi peleburan logam, roda, tulisan (paku, hieroglif), yang menjadi ciri peradaban Mesir, Mesopotamia, dan Lembah Indus dan berdampak pada perkembangan militer yang kuat dan aktivitas perdagangan jarak jauh.
3. Zaman Klasik dan Golden Age (500 SM–500 M). Menurut Joseph Needham, ‘Science and Civilisation in China’ (1954), pada masa ini filsafat dan matematika berkembang, seperti di Yunani (Archimedes, Aristoteles), di India (angka desimal), di Tiongkok (kertas, kompas). Pada abad 8-13, matematikawan Arab seperti Al-Khwarizmi dan Ibn Yunus membuat kontribusi besar dalam pengembangan aljabar, geometri, dan trigonometri. Di bidang infrastruktur ada perkembangan yang signifikan misal tipologi jalan Romawi, Akuaduk dll.
4. Revolusi Ilmu Pengetahuan dan Industri (1500–1900 M). Menurut David Landes, ‘The Unbound Prometheus’ (1969), masa ini dikenal sebagai era Renaissance, misal ditandai oleh lahirnya percetakan (Gutenberg) dan teleskop (Galileo). Pada masa ini terjadi revolusi industri: mesin uap (James Watt), rel kereta api dll. Perkembangan ini berdampak pada urbanisasi masal serta lahirnya kolonialisme.
5. Era Digital dan AI (1940–kini). Menurut Walter Isaacson, ‘The Innovators’ (2014) pada masa ini berkembang komputer pada tingkat awal ENIAC (1945), lalu Internet (ARPANET, 1969), komputer mainframe 1970-1980an), komputer desktop dengan RAM terbatas, Lap Top-Note Book, hingga komputer berkecepatan tinggi (1990-sekarang).
Pada masa ini ada perkembangan di bidang biologi yaitu Biotech dengan ditemukannya teknologi DNA (1953), CRISPR (2012). Dibidang komputasi ada Artificial Intelligent (AI) Deep Learning (2010-an), ChatGPT (2022).
Berdasarkan gambaran 5 lompatan tersebut dapat dilihat adanya pola perkembangan yang berciri akselerasi eksponensial, dimana seolah perubahan 10,000 tahun menjadi 100 tahun dan menjadi 10 tahun.
Faktor pendorong akselerasi tersebut justru disebabkan oleh perang, perdagangan, komunikasi, dan kolaborasi lintas budaya. Implikasi yang dirasakan saat ini adalah makin meningkatnya ketimpangan teknologi, krisis iklim, ‘disrupsi identitas manusia, kejenuhan pada modernisasi, kebisingan, ketegangan sosial, kepadatan gedung, kemacetan lalu lintas dsb).
Sebagai catatan setiap "lompatan" lahir dari akumulasi pengetahuan sebelumnya. Batu pertama komputer modern adalah gerigi Antikythera (Yunani, 100 SM), dan ‘kompas Han’ berawal dari batu lodolite Neolitikum.
Satu poin pembelajaran penting bahwa kita (manusia) bukan pencipta, tapi perakit warisan peradaban.
Jika ingin mendalami lompatan peradaban dan teknologi, bisa ditemukan dalam studi spesifik, misal:
Mokyr, J. (2016). ‘A Culture of Growth: The Origins of the Modern Economy’ (tentang inovasi).
Rosling, H. (2018). ‘Factfulness’ (data percepatan global).
Kontemplasi Kehidupan dalam Lompatan Peradaban-Teknologi
Kalau suatu perkembangan digambarkan seperti grafik linier atau eksponensial yang semakin meningkat, dan dikombinasi dengan filosofi bahwa segala sesuatu ada batas puncaknya dan ada pula batas titik terendahnya (nadir), menarik untuk direnungkan apakah perkembangan peradaban dan teknologi terus meningkat tanpa batas atau akan decline suatu saat? Ini renungan yang tidak sederhana, bergantung pada perspektif dan faktor kritis.
Model Pertumbuhan dan Batasnya.
Pertumbuhan linear bersifat konstan namun lambat. Sesuai untuk periode stabil, tapi kurang menggambarkan percepatan teknologi mutakhir.
Baca juga: Pelajaran Adab dari Jombang untuk Ruang Redaksi Jakarta
Pertumbuhan eksponensial, sesuai dengan hukum Moore (komputasi), kemajuan AI, atau bioteknologi. Tetapi eksponensial tidak berarti tanpa batas.
Batas fisik akan dihadapkan pada kendala sumber daya terbatas (energi, mineral langka), serta hukum termodinamika.
Batas Sosial-Ekologis dihadapkan pada kendala perubahan iklim, kepunahan massal, ketimpangan sosial yang bisa memicu ‘collapse’ (seperti teori "Limits to Growth", Club of Rome, 1972).
Batas Kognitif, dihadapkan pada kendala apakah otak manusia bisa mengikuti kompleksitas sistem yang diciptakannya?
Filsafat Puncak & Nadir dalam Peradaban
Banyak filsuf (seperti: Ibnu Khaldun, Spengler, Toynbee) melihat peradaban sebagai siklus dimana ada proses rise menuju peak dan kemudian decline. Dalam sejarah bisa dilihat dari fakta empirik perkembangan kerajaan Romawi, Dinasti Han dll.
Ada katalis untuk meningkat atau menurun. Krisis (perang, wabah, bencana) bisa jadi titik balik menuju inovasi (misal: Pasca perang Dunia II memicu ledakan teknologi).
Teknologi mungkin terus naik, tapi peradaban (nilai, kohesi sosial, keberlanjutan) bisa ‘decline’ jika tak seimbang (disinggung oleh Yuval Noah Harari dalam "Homo Deus").
Skenario Masa Depan
Berandai-andai tentang masa depan, bisa direnungkan 3 kemungkinan skenario:
a. Singularitas dan Pertumbuhan Abadi (skenario optimis). Teknologi (AI, nanoteknologi) bisa memecahkan masalah sumber daya, seperti diulas oleh Ray Kurzweil ("The Singularity Is Near") yang memprediksi "ledakan kecerdasan" pasca-2030.
b. Collapse dan Penurunan (skenario pesimis). Bencana ekologis/nuklir mengembalikan peradaban ke "zaman kegelapan baru", seperti diulas oleh Jared Diamond ("Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed") tentang analisis keruntuhan peradaban masa lalu. Juga Paul Ehrlich ("The Population Bomb") tentang risiko kelebihan populasi.
c. Stabilisasi Dinamis (skenario realistis). Pertumbuhan melambat, peradaban menemukan keseimbangan baru, seperti diulas oleh Kate Soper ("Post-Growth Living") terkait ekonomi berkelanjutan tanpa obsesi pertumbuhan. Juga Bruno Latour ("Down to Earth") terkait adaptasi di Antroposen (pemikiran Paul Crutzen, ahli kimia atmosfer, tentang dampak besar aktivitas manusia pada lingkungan dan ekosistem bumi).
Baca juga: Pendidikan Islam: Solusi Peradaban Masa Depan
Catatan Penutup
Ketika perkembangan mulai decline menuju titik nadir sesungguhnya itu bukan takdir.Sejarah menunjukkan peradaban bisa menghindari ‘collapse’ melalui inovasi institusional (misal: Protokol Montreal untuk meyelamatkan lapisan ozon).
Tantangan Kritis Abad 21 adalah:
Transisi energi hijau,
Regulasi teknologi disruptif (AI, rekayasa genetik),
Kerjasama global menghadapi krisis iklim.
Perkembangan teknologi cenderung eksponensial dalam jangka pendek-menengah, tapi peradaban manusia tidak otomatis mengikuti. Risiko decline nyata jika:
Pertumbuhan mengabaikan keberlanjutan ekologis/keadilan sosial
Inovasi tak diimbangi kebijaksanaan kolektif.
Kesemuanya ada pada pilihan kita sekarang. Seperti kata filsuf Prancis Bruno Latour:
"The issue is not whether we will change, but how we will navigate the change." (roy/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat