Pelajaran dari Iran dan Sebatang Rokok di Tepi Sungai

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi

 

Oleh: Hijrah Saputra

Pengamat Sosial, alumni UIN Sunan Ampel, alumni Universitas Jember

 

 

Bondowoso, JatimUPdate.id - Selama beberapa hari terakhir, dunia telah memusatkan perhatiannya pada Iran di semua bentuk media. Banyak orang terpesona oleh kemampuan negara itu untuk menahan tekanan dunia dari Amerika Serikat dan sekutunya.

Konflik menunjukkan serangan timbal balik dari teknologi yang saling terkait dan tidak sesederhana itu.

Media sosial dari seluruh dunia menyaksikan peristiwa ini. Banyak yang bertanya: siapa Iran? Bagaimana sebuah negara dapat hidup di bawah tekanan dan tetap menunjukkan kekuatan yang tidak boleh diremehkan?

Embargo yang telah berlangsung lebih dari empat dekade membuat Iran sering dipersepsikan terbelakang karena tekanan geopolitik, tetapi dalam beberapa bidang ilmu justru menunjukkan perkembangan yang menarik.

Namun, waktu terkadang menyembunyikan informasi penting tentang bagaimana suatu bangsa membangun dirinya.

Dari sudut pandang sistem pendidikan, pertanyaan yang muncul justru lebih menarik. Apa yang mereka kembangkan dan apa yang mereka teliti sehingga temuan para cendekiawan mereka diperhitungkan? Beberapa bidang sains menunjukkan perkembangan yang cukup menonjol dari Iran. 

Misalnya, Iran menunjukkan tingkat produktivitas yang cukup tinggi di bidang nanoteknologi, sehingga publikasi ilmiah para peneliti di tingkat dunia cukup produktif. Universitas seperti Universitas Tehran dan Universitas Teknologi Sharif juga cukup aktif dalam riset di bidang sains dan teknik.

Negara yang terus-menerus diabaikan tidak selalu menuju kemunduran. Bahkan, dalam situasi tertentu, kemunduran justru memunculkan kegigihan yang mengejutkan.

Dalam sepak bola, tim bertabur bintang memang sering menang. Namun, ketika sebuah tim meraih kesuksesan meskipun diremehkan karena tidak memiliki pemain terkenal, hal itu sungguh menakjubkan, bahkan sulit dipercaya.

Sekarang, sebagian besar orang melihat ke sana. Bukan hanya karena konflik. Ini juga tentang bagaimana sebuah bangsa di bawah tekanan seperti ini membangun dirinya sendiri. Atau apakah ini hanya kebetulan sejarah?

Ibnu Khaldun, dalam Muqaddimah (1377), di mana beliau menyitir bahwa peradaban bergerak dalam sebuah siklus. Ada masa kebangkitan, masa stagnasi, dan kemudian masa kemunduran. Namun, seringkali dari situ muncul pusat-pusat kekuasaan baru. Kekuasaan baru lahir dari kemampuan untuk bertahan menghadapi kesulitan.

Beberapa hari sebelum Ramadan, saya sedang duduk di sebuah kedai kopi. Dekat sebuah jembatan kecil. Sungai di bawahnya cukup dalam, dan airnya mengalir deras.

Seorang pemuda duduk sendirian di salah satu sudut jembatan. Sebatang rokok di tangannya, sesekali ia menghisapnya. Asapnya perlahan mengepul.

Saya bertanya padanya, dan dia mengatakan bahwa dia baru saja lulus dari universitas ternama. Jurusan pendidikan. 

Tak ayal, kami berbincang ringan. Topiknya Pendidikan.

Sebagai permulaan, saya mengajukan pertanyaan yang cukup sederhana.
Bagaimana dengan sekolah-sekolah yang menerima siswa yang tidak terlalu berprestasi, namun tetap mampu menghasilkan lulusan yang baik?

Jika sebuah sekolah menerima siswa yang sudah berprestasi dan kemudian menghasilkan lulusan yang lebih baik, itu mungkin mudah. ​​Atau jika beberapa siswa yang berprestasi tidak berkembang karena siswa berprestasi tidak berkembang di lingkungan yang buruk, itu juga sesuatu yang sering terjadi. Atau terkadang, semuanya berjalan dengan sendirinya.

Namun bagaimana jika input yang tidak biasa menghasilkan output yang baik?

Pemuda itu tampak bingung.

Dia menghisap rokoknya dalam-dalam. Kepulan asap tebal keluar dari mulutnya, lalu dia mengibaskan tangannya untuk memecah gumpalan asap di udara.

Untuk beberapa saat, dia memandang sungai yang mengalir deras di bawah jembatan.

Lalu dia berkata pelan,
"Bukankah hidup ini penuh dengan disrupsi [gangguan]?"

Kami diam. Hari itu kami berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Kesempatan tidak dibagikan secara merata kepada setiap orang, tetapi itu juga tidak berarti setiap orang ditakdirkan untuk selamanya berada dalam keterbatasan. Terkadang, kita lupa bahwa waktu memiliki caranya sendiri untuk bergerak. Beberapa hari kemudian, di bulan Ramadan, percakapan itu kembali terlintas di benak saya.

Hari itu terasa berat. Setelah mengaji di sebuah musholla kecil, perasaan mengantuk yang samar-samar pun datang.

Seorang rekan diskusi menyeletuk sesuatu yang sederhana namun mendalam. "Menunduk kepada guru sangat mulia. Namun, budaya berdiskusi jauh lebih penting. Disitulah pemikiran mulai tumbuh".

Pernyataan itu sepertinya berhubungan dengan percakapan yang kita lakukan di tepi sungai beberapa hari sebelumnya. Atau, mungkin, itu hanya hubungan dalam pikiran saya sendiri.

Selama ini kita sering memilih jalur pendidikan yang dianggap paling aman. Berada di lingkungan orang-orang sukses diyakini akan mengantarkan seseorang menuju kesuksesan. Namun jalan itu tidak selalu lurus.

Sebagian orang lahir di lingkungan biasa, tetapi tumbuh menjadi luar biasa. Sebagian lagi berada di lingkungan yang baik, tetapi tidak berkembang sesuai harapan. Sebagian lainnya sama sekali tidak berkembang, dan menjadi tidak terlihat.

Bulan Ramadan adalah salah satu pelajaran paling sederhana yang mengajarkan hal ini.

Puasa sering disebut sebagai pendidikan pertama bagi manusia. Dengan menahan diri dari makanan, kita belajar mengendalikan diri dari keinginan-keinginan kecil sehari-hari. Dari sinilah manusia belajar menjadi dewasa. Sedikit demi sedikit, seperti sungai yang mengikis batu. Seringkali kita baru melihat hasilnya setelah beberapa waktu.

Dari sini, orang-orang belajar satu hal. Kedewasaan sering kali berasal dari kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri.

Di tengah berbagai perang dan konflik di dunia saat ini, ada satu hal yang bisa disepakati: semua konflik itu melelahkan dan tidak ada yang benar-benar menang. Pada akhir konflik, semua pihak yang terlibat pasti akan mengalami kerugian. Seolah-olah konflik dan perang yang berlangsung itu adalah sebuah zero sum game yang berlangsung sangat panjang.

Sungai yang mengalir di bawah jembatan itu seperti kehidupan kita; ia mengalir dengan caranya sendiri. Terkadang mengalir dengan tenang, dan terkadang mengalir dengan deras dan tak terduga.

Pemuda itu kemungkinan besar benar.

Hidup memang penuh dengan disrupsi.

Mungkin dari sinilah umat manusia mulai belajar untuk tumbuh dewasa. Atau setidaknya, mencoba untuk memahaminya.

Wallahu a'lam bish showab