Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 09/05/2026
Homeless Media dan Penulis Independen
Oleh Abdul Rohman Sukardi
Pengamat Sosial, Politik dan Hukum
Jakarta, JatimUPdate.id - Transformasi media digital melahirkan homeless media Sebutan bagi kondisi ketika konten tidak lagi “bertempat tinggal” dalam institusi media tertentu. Tetapi mengalir lintas platform digital yang dikendalikan algoritma.
Informasi tidak lagi dimonopoli redaksi. Melainkan diproduksi dan disebarkan oleh jaringan individu, kreator, dan sistem platform.
Dalam ekosistem ini, penulis independen menjadi aktor penting. Menggeser struktur lama media.
Secara ekonomi, pergeseran ini terlihat jelas. Lebih 70�lanja iklan global kini mengalir ke platform digital dan ekosistem berbasis algoritma. Sementara media tradisional terus mengalami penurunan pendapatan.
Sejumlah laporan industri juga menunjukkan penurunan signifikan pendapatan iklan media berita sejak era pra-pandemi. Pengiklan kini lebih memilih platform seperti Google, Meta, dan TikTok yang menawarkan penargetan audiens berbasis data.
Akibatnya, pusat ekonomi media bergeser. Dari institusi editorial ke infrastruktur platform.
Kita andaikan seperti ini: platform (TikTok, YouTube, X, Instagram) adalah jalan raya. Algoritma adalah polisi lalu lintas yang menentukan arus perhatian. Kreator, penulis, dan jurnalis independen adalah kendaraan di jalan. Audiens adalah tujuan akhir dari seluruh arus perhatian.
Dalam sistem ini, siapa yang menguasai arus—bukan sekadar isi—menentukan dominasi pengaruh.
Dalam konteks tersebut, penulis independen menjadi bagian inti ekonomi kreator yang terus berkembang. Nilai ekonomi kreator global kini mencapai ratusan miliar dolar dan terus bertumbuh. Didorong model monetisasi langsung seperti langganan, donasi, dan sponsor.
Mereka tidak lagi bergantung pada institusi media. Tetapi membangun hubungan langsung dengan audiens. Menjadikan individu sebagai “media itu sendiri”.
Secara teoritis, ini selaras dengan konsep attention economy dari Herbert A. Simon. Bahwa kelimpahan informasi menciptakan kelangkaan perhatian.
Dalam kondisi ini, algoritma menggantikan redaksi sebagai gatekeeper. Menentukan apa yang terlihat dan apa yang tenggelam.
Fenomena ini juga mencerminkan platformization. Ialah ketika distribusi informasi sepenuhnya dimediasi oleh sistem digital yang memonetisasi interaksi. Bukan sekadar konten.
Namun, perubahan ini bersifat ambivalen. Penulis independen memperluas demokratisasi informasi, mempercepat sirkulasi gagasan, dan membuka ruang suara baru tanpa institusi. Mereka unggul dalam kecepatan, kedekatan audiens, dan kemampuan memicu viralitas.
Tetapi mereka juga rentan terhadap ketergantungan algoritma. Rentan terhadap ketidakstabilan ekonomi, dan absennya standar verifikasi ketat.
Media konvensional tidak hilang, tetapi bergeser fungsi. Ia menjadi institusi verifikasi, investigasi mendalam, dan sumber legitimasi informasi. Sementara itu, homeless media dan penulis independen menguasai lapisan utama perhatian publik.
Lanskap media modern tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki “rumah” informasi. Tetapi oleh siapa yang mampu mengendalikan arus perhatian dalam sistem yang terus bergerak tanpa pusat tetap.
Jakarta, ARS ([email protected]). Eskponen aktivis 98. Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.
Editor : Redaksi