Ali Mufthi Kenang Hidup Santri: Dari Wesel Pos hingga Panggung Politik

avatar M Aris Effendi
  • URL berhasil dicopy
Ali Mufthi saat berfoto di salah satu ruangan di  Pondok Pesantren Salafiyah Al-Utsmani, Bondowoso, Sabtu (2/5/2026). Ketua DPD Golkar Jatim itu mengenang saat dirinya menjalani kehidupan ponpes.
Ali Mufthi saat berfoto di salah satu ruangan di Pondok Pesantren Salafiyah Al-Utsmani, Bondowoso, Sabtu (2/5/2026). Ketua DPD Golkar Jatim itu mengenang saat dirinya menjalani kehidupan ponpes.

 

Bondowoso, JatimUPdate.id, – Dari kehidupan sederhana di pesantren hingga kini berada di panggung politik nasional, Ali Mufthi kembali mengenang masa lalunya sebagai santri.

Dalam kunjungannya ke Pondok Pesantren Salafiyah Al-Utsmani, Sabtu (2/5/2026), ia membagikan kisah yang membentuk jalan hidupnya—termasuk pengalaman menunggu kiriman uang lewat wesel pos.

Jalan menuju Pondok Pesantren Salafiyah Al-Utsmani di Dusun Beddian, Desa Jambesari, Kecamatan Jambesari Darus Sholah, Bondowoso, terbentang di antara hamparan sawah hijau. Suasana teduh itu seolah membawa ingatan kembali ke masa-masa mondok.

Di lingkungan seperti itulah, Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur sekaligus anggota Komisi V DPR RI itu seakan kembali pada dirinya yang dulu—seorang santri yang hidup dalam kesederhanaan.

Karena itu, kehadirannya di Ponpes Al-Utsmani bukan sekadar agenda silaturahmi dan kuliah umum dalam momentum Hari Pendidikan Nasional. Lebih dari itu, ia seperti menapaki kembali jejak batin yang pernah membentuknya.

Ali Mufthi pun tidak memulai dengan pidato tentang politik atau pembangunan. Di hadapan ratusan santri dan mahasiswa, ia justru membuka ingatan tentang masa-masa yang jauh dari kemudahan.

“Tidak ada kehidupan yang lebih membahagiakan selain saat berada di pondok pesantren,” ujarnya.

Kalimat itu meluncur tenang, seolah menyusuri kembali waktu.

Ia kemudian mengenang satu hal sederhana yang kini nyaris hilang: wesel pos. Dulu, kiriman uang dari orang tua tidak datang dalam hitungan detik.

Ia harus menunggu—berhari-hari. Kadang dengan cemas, kadang dengan sabar. Namun justru di sanalah, menurutnya, pelajaran hidup bekerja.

“Kondisi itu melatih kemandirian, kesabaran, dan ketangguhan,” katanya.

Dari pengalaman itu, ia menilai pesantren bukan sekadar tempat belajar ilmu agama. Pesantren adalah ruang pembentukan karakter—tempat seseorang belajar hidup dalam keterbatasan tanpa kehilangan arah.

Nuansa hangat itu juga terasa sepanjang kunjungannya di Ponpes Al-Utsmani. Ia memulai dengan silaturahmi di kediaman pengasuh, lalu berkeliling melihat lingkungan pondok yang asri.

Di sela-sela itu, ia menyapa santri dan berbincang santai. Tidak ada protokol yang kaku—percakapan mengalir sebagaimana adanya.

Dalam sesi kuliah tamu, ia berdialog dengan santri dan mahasiswa. Namun, momen yang paling membekas justru terjadi di luar forum tersebut.

Ali Mufthi memilih masuk ke kamar santri putra.

Di ruang sederhana, dengan perlengkapan seadanya, ia duduk bersama para santri. Ia lebih banyak mendengar daripada berbicara—sesekali tersenyum, sesekali mengangguk.

Di akhir pertemuan kecil itu, ia memanjatkan doa.

Bagi para santri, kehadiran itu terasa dekat.

“Senang sekali, beliau tidak hanya ceramah, tapi juga datang langsung ke kamar, ngobrol dengan kami. Jadi terasa lebih dekat dan memberi motivasi,” ujar salah satu santri, Alfan Zaki.

Dalam suasana yang hangat itu, Ali Mufthi menitipkan pesan sederhana namun kuat.

“Yang penting tetap baik hati, tetap menjunjung tinggi adab. Taat kepada pengasuh, rajin berdoa untuk bangsa dan negara. Karena pesantren ini penjaga NKRI,” ujarnya.

Pesan itu sederhana, tetapi mengandung keyakinan panjang: bahwa kekuatan pesantren tidak hanya terletak pada pengetahuan, melainkan pada nilai.

Ia pun menegaskan, pesantren tidak hanya melahirkan generasi cerdas, tetapi juga pribadi yang tangguh menghadapi perubahan zaman.

“Terus belajar yang baik. Dari pesantren ini lahir generasi yang kuat,” ujarnya.

Di tengah percakapan itu, ia juga mengungkap alasan mengapa hampir selalu menyempatkan diri mengunjungi pesantren di setiap daerah yang ia datangi.

“Karena rindu pesantren. Pesantren itu home base kita,” katanya.

Ungkapan itu seperti menutup lingkaran cerita—antara masa lalu dan masa kini.

Di Ponpes Al-Utsmani, yang menjadi salah satu pesantren tertua di Bondowoso, pertemuan itu bukan sekadar agenda seremonial. Ia menjadi ruang untuk mengingat, menegaskan, sekaligus menyambungkan kembali nilai-nilai yang pernah membentuknya.

Di tengah hamparan sawah yang tenang, pesan itu terasa sederhana: dari ruang-ruang sunyi pesantren, masa depan bangsa kerap kali disiapkan tanpa banyak suara. (ries/mmt)