Toko Wan Cu Sidoarjo Bertahan Sejak 1933, Simpan Jejak Sejarah dan Nostalgia di Tengah Modernisasi
Sidoarjo, JatimUPdate.id - Di tengah geliat modernisasi pusat Kota Sidoarjo, sebuah toko lawas di Jalan Gajah Mada tetap berdiri kokoh melintasi zaman.
Bernama Toko Rejo ini lebih dikenal masyarakat sebagai Toko Wan Cu, yang telah eksis sejak 1933 dan menjadi saksi perkembangan perdagangan sejak era kolonial.
Didirikan oleh The Thwan Tjioe, seorang tokoh keturunan Tionghoa yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan perjuangan, toko ini mempertahankan keasliannya hingga kini.
Bangunan tua dengan pintu-pintu kayu asli masih digunakan, menghadirkan nuansa klasik yang kontras dengan dinamika kota modern.
Pewaris generasi ketiga, Effendy Tedjokusumo, mengungkapkan dirinya mulai terlibat mengelola toko sejak 2008, mendampingi sang ayah, The Hwei Kwan, yang meneruskan usaha keluarga sejak 1965.
"Setelah papa meninggal pada 2016, saya melanjutkan untuk menjaga dan melestarikan toko ini," ujar Effendy saat ditemui di tokonya, Jumat (24/4/2026), sebagaimana dikutip dari laman detik.com.
Ia menjelaskan, nama “Wan Cu” berasal dari pelafalan masyarakat terhadap nama sang kakek, The Thwan Tjioe.
Seiring waktu, sebutan tersebut justru lebih populer dibandingkan nama resminya, Toko Rejo.
Sejak awal berdiri, Toko Wan Cu dikenal menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari perlengkapan rumah tangga hingga alat usaha kecil.
Sejumlah barang klasik masih dipertahankan, seperti timbangan duduk, lampu teplok, lampu petromaks, serta perlengkapan sembahyang seperti hio atau dupa.
Tak hanya itu, toko ini juga menjual aneka jajanan jadul seperti permen jahe, permen minyak kayu putih, hingga manisan khas yang kini semakin jarang ditemukan.
"Barang-barang lama itu tetap kami pertahankan karena masih ada yang mencari. Ada nilai sejarah sekaligus nostalgia di situ," kata Effendy yang merupakan Alumni SMAN 1 Sidoarjo angkatan 1992 itu.
Namun, perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi tantangan tersendiri.
Kehadiran ritel modern dan platform belanja daring membuat sebagian produk lama mulai ditinggalkan.
"Dulu kami jual kue kaleng dan kurma saat Lebaran, sekarang sudah tidak lagi karena orang lebih memilih belanja di minimarket. Jadi kami menyesuaikan dengan kebutuhan yang masih dicari," ujarnya.
Meski menghadapi tantangan zaman, Effendy tetap optimistis usaha keluarga ini akan terus bertahan.
Ia berkomitmen menjaga nilai historis toko sembari beradaptasi dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.
"Yang penting kami tetap melayani masyarakat. Sambil mempertahankan sejarah, kami juga terus beradaptasi agar tetap relevan," tutupnya.
Setidaknya Toko Wancu layak untuk dijadikan wisata sejarah dan seharusnya, toko tersebut bangunannya dijadikan dan diusulkan sebagai Cagar Budaya mengingat sejarah panjangnya sejak 1933 telah berdiri eksis sebagai cerminan perniagaan di era Hindia Belanda.(detik.com/ih/roy)
Editor : Ibrahim