Surabaya,JatimUpdate.id - Bulan Juli memiliki arti mendalam bagi PDI Perjuangan dan Ibu Megawati Soekarnoputri. Pada 27 Juli 1996 tidak hanya dikenang sebagai peristiwa rekayasa penguasa Orde Baru saat itu terhadap kehendak rakyat yang mengukuhkan Ibu Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDI pada saat itu.
Operasi politik dan fisik yang berujung pada penyerbuan kantor PDI di Jalan Diponegoro dikenang hingga saat ini sebagai titik balik perlawanan rakyat, bangkitnya kesadaran kritis rakyat, dan semangat juang untuk mewujudkan Indonesia Raya berdasarkan konstitusi Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Baca juga: Kawal Perbaikan Rutilahu, Sarinah PDIP Surabaya Hadir di Tengah Kesulitan Warga
Pada saat ini PDI Perjuangan kembali diuji dengan kriminalisasi Sekjen Hasto Kristiyanto karena dikenal kritis menyuarakan kebenaran pada saat kepemimpinan Jokowi, sehingga proses-proses persidangan yang minim bukti dan fakta digelar sedemikian rupa untuk menjebloskan Sekjen Hasto Kristiyanto ke penjara.
Apabila kita melihat kembali sejarah, Bung Karno pernah menyampaikan bahwa kemerdekaan adalah jembatan emas untuk mengantarkan bangsa Indonesia kepada kemakmuran dan keadilan sosial. Pada saat ini kita harus dipaksa memilih pada persimpangan jembatan emas itu. Pada pilihan pertama adalah menuju Indonesia Raya yang membawa keselamatan bagi kaum marhaen, yaitu dunia sama rata sama rasa. Dan pada pilihan berikutnya hanya memberikan akses kepada kaum borjuis menuju dunia sama ratap sama tangis.
Kondisi bangsa saat ini memiliki kesamaan situasi pada saat Nabi Musa bersama para pengikutnya mampu lolos dari penindasan Firaun dengan menyeberangi Laut Merah atas kuasa Tuhan Yang Maha Kuasa.
Sebelum dapat menginjakkan kaki di tanah yang dijanjikan, Nabi Musa bersama para pengikutnya harus mempersiapkan diri, mental, dan semangat juang sebagai satu kaum dengan mengembara di padang pasir selama 40 tahun hingga di Gunung Sinai.
Baca juga: Armuji Nahkodai PDIP Surabaya, Arif Fathoni Ucapkan Selamat
Nabi Musa di Gunung Sinai mendapatkan wahyu berupa 10 perintah Allah, di antaranya pada poin nomor 9: jangan bersaksi dusta tentang sesamamu.
Proses peradilan yang dilalui Sekjen Hasto Kristiyanto dapat dilihat sebagai pendidikan politik dan pendidikan hukum bangsa Indonesia, di mana tidak ada bukti yang jelas dan keterangan saksi yang bias semakin menguatkan bahwa Sekjen Hasto Kristiyanto merupakan korban politik kekuasaan karena memegang teguh prinsip perjuangan yang diajarkan Bung Karno dan Ibu Megawati Soekarnoputri.
Di penghujung bulan Suro ini adalah waktu yang tepat untuk kita berani menyuarakan keadilan dan kebenaran bahwa sistem hukum dan peradilan harus betul-betul ditegakkan dengan memberikan vonis bebas kepada Sekjen Hasto Kristiyanto berdasar fakta dan bukti yuridis. Apabila keadilan dan kebenaran tidak ditegakkan maka sama saja bangsa ini meruntuhkan langit pengharapan bagi rakyat dan para pendiri bangsa yang telah berkorban demi terciptanya kemerdekaan, ketenteraman, dan kedamaian.
Baca juga: Adi Sutarwijono Beri Selamat Armuji, Soliditas PDI Perjuangan Surabaya Semakin Kuat
Ibu Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden ke-5 Republik Indonesia, Ketua Umum PDI Perjuangan dan Ibu Rakyat sungguh memegang teguh prinsip Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti, di mana pada saat beliau dan PDI Perjuangan ditimpa ketidakadilan demi ketidakadilan, tetap memegang teguh nilai kebenaran kolektif yang membawa kemaslahatan orang banyak.
Kita semua berdoa, berharap, berjuang sebagai kader PDI Perjuangan dan warga negara Indonesia agar negara serta peradilan mampu memberikan rasa keadilan dan memulihkan nama baik Sekjen Hasto Kristiyanto. Semoga Tuhan Yang Kuasa, Allah SWT, menyertai dan meridai perjuangan kita semua. MERDEKA!!!
*) Oleh: Achmad Hidayat, Kader PDI Perjuangan Kota Surabaya
Editor : Ibrahim