Anak Desa Banturejo Belajar Berkarya, Dari Celengan Kecil hingga Kripik Pisang

Reporter : Deki Umamun Rois
Suasana hangat dan penuh tawa mewarnai posko Mahasiswa Pengabdian Masyarakat Tematik (PMT) di Dusun Sromo, Desa Banturejo, Ngantang, Minggu (27/7/2025).

Malang, JatimUPdate.id – Suasana hangat dan penuh tawa mewarnai posko Mahasiswa Pengabdian Masyarakat Tematik (PMT) di Dusun Sromo, Desa Banturejo, Ngantang, Minggu (27/7/2025).

Anak-anak desa tidak sekadar bermain, melainkan belajar menabung dengan cara yang menyenangkan—mengubah pandangan mereka tentang uang dari sekadar untuk dibelanjakan menjadi alat membangun masa depan.

Baca juga: Wabup Malang Apresiasi Peran Strategis GP Ansor

Program ini digagas oleh mahasiswa PMT-3 kelompok 12 yang bertugas di Dusun Sromo. Mereka menghadirkan kegiatan edukatif dengan celengan sebagai alat utama.

Anak-anak diajak menuliskan impian mereka, seperti membeli sepeda, membantu keluarga, atau membuka usaha kecil. Impian itu menjadi motivasi kuat untuk mulai menyisihkan uang jajan secara rutin.

“Menabung bukan soal besar kecilnya uang, tapi konsistensi dan kebiasaan yang terbentuk,” ujar salah satu mahasiswa PMT.

Selain menabung, anak-anak juga belajar mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan cara yang sederhana dan interaktif. Mereka mulai memahami bahwa uang bukan hanya untuk jajan tapi juga bisa menjadi modal masa depan.

Antusiasme warga pun terlihat, dengan orang tua yang mulai mendampingi anak-anak mereka di rumah dan membuat celengan bersama sebagai upaya mendukung literasi keuangan sejak dini.

Tak jauh dari Dusun Sromo, di Dusun Banu, Desa Banturejo, muncul cerita sukses yang tak kalah inspiratif. UMKM Kripik Pisang Dusun Banu yang lahir dari tangan ibu rumah tangga setempat kini semakin dikenal luas. Berbekal hasil panen pisang lokal dan bantuan mahasiswa PMT, usaha ini berkembang pesat.

Baca juga: Musorkablub KONI Malang 2026: Pemilihan Ketua Umum Berlangsung Panas, Protes Mewarnai Pemilihan Ketua

Mahasiswa PMT membantu mulai dari teknik pengolahan, inovasi rasa, pembuatan kemasan, hingga strategi pemasaran digital. Suani, ketua kelompok pengolah, mengatakan, “Kami tidak hanya menjual pisang, tapi juga menjual cita rasa dan kebanggaan desa.”

UMKM ini menghadirkan kripik pisang dalam berbagai varian, seperti original gurih dan manis karamel, dengan standar kebersihan dan kemasan modern yang menarik.

Yang membedakan UMKM ini adalah semangat kolektif warga desa. Dari petani hingga pemuda, semua terlibat dalam proses produksi. Sebagian keuntungan disisihkan untuk kegiatan sosial dan pelatihan kewirausahaan bagi generasi muda desa.

Produk kripik pisang ini kini telah menembus pasar oleh-oleh lokal dan mulai menerima pesanan dari luar desa. Keberhasilan ini membuktikan bahwa produk desa bisa bersaing dengan barang dari kota besar.

Baca juga: Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik, Mahasiswa UNITRI Berdayakan Desa Jombok

“Dari pisang lokal, tumbuh mimpi global,” kata Suani penuh optimisme.

Dari celengan kecil di Dusun Sromo hingga kripik pisang unggulan di Dusun Banu, Desa Banturejo menunjukkan bagaimana kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat desa mampu menciptakan perubahan positif.

Literasi keuangan dan pemberdayaan UMKM menjadi fondasi masa depan yang lebih mandiri dan berdaya saing tinggi. Semoga kisah ini menginspirasi desa lain untuk menggali potensi lokal dan membangun masa depan dengan semangat bersama. (dek/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru