Pemimpin yang Kita Butuh, Bukan yang Mereka Jual
Catatan Redaksi - "Apakah masyarakat butuh pemimpin berlatar birokrasi, pencitraan, atau welas kepada wong cilik?"
Pertanyaan ini bukan hanya refleksi teoretis namun gugatan terhadap sosok kepemimpinan.
Sayangnya, dalam realitas politik kita, ketiga aspek ini sering kali sengaja dipisahkan menjadi komoditas eceran yang dijual terpisah kepada publik. Kita dipaksa memilih satu menu, sambil memaklumi cacat pada menu lainnya.
Mari kita preteli satu per satu. Pemimpin dengan modal tunggal "latar belakang birokrasi" sering kali hanya sekrup dari mesin jenuh yang bernama status quo.
Mereka hafal di luar kepala tentang regulasi dan tata kelola administratif, namun kerap kali gagap dan beku saat menghadapi kedaruratan kemanusiaan.
Birokrasi tanpa empati hanya melahirkan kepemimpinan robotik, tertib di atas kertas, namun mati rasa terhadap penderitaan riil wong cilik.
Di kutub lain, kita disuguhi industri politik kosmetik berbasis pencitraan. Ini adalah jenis kepemimpinan paling manipulatif.
Di era digital, kemiskinan dan penderitaan sosial tidak lagi dilihat sebagai masalah struktural yang harus dituntaskan. Namun cuma latar belakang foto (background) demi mendongkrak popularitas.
Ketika "welas asih kepada wong cilik" direduksi menjadi konten media sosial, maka empati telah berubah menjadi komoditas dagang.
Sentuhan fisik di lapangan hanyalah transaksi musiman yang usai begitu kamera dimatikan.
Kita harus jujur dan tegas, kebutuhan paling fundamental dan tidak bisa ditawar oleh masyarakat welas asih kepada wong cilik.
Namun, welas asih itu tidak boleh berhenti sebagai sentimen moral, air mata buatan, atau cuma bagi-bagi bantuan sosial di depan kamera.
Welas asih harusnya keberpihakan ideologis pada kaum rentan. Sebab itu merupakan kompas moral yang mendikte ke mana arah kebijakan dibuat.
Welas asih harus mampu menggerakkan dan menjinakkan kekakuan birokrasi agar bekerja demi kepentingan wong cilik.
Ketika seorang pemimpin memiliki welas asih, setiap lembar regulasi yang ditandatanganinya alat untuk memotong mata rantai ketimpangan, bukan justru melindungi kepentingan segelintir elite.
Teknokrat yang kaku memandang manusia hanya sebagai angka statistik dalam laporan anggaran.
Sementara pemimpin narsistik memandang kemiskinan sebagai panggung sandiwara. Kita harus menolak keduanya.
Sudah saatnya kita menuntut standar kepemimpinan. Masyarakat berhak mendapatkan pemimpin yang menjadikan welas asih sebagai ruh utama kekuasaannya.
Ini merupakan komitmen kemanusiaan yang tidak bisa dibeli, yang menggunakan instrumen birokrasi bukan untuk membentengi kekuasaan, serta menegakkan keadilan bagi mereka yang selama ini terpinggirkan.
Editor : Redaksi