Gresik, JatimUPdate.id– Gerakan Penolak Lupa (GEPAL) menggelar kegiatan Reuni Gerakan Menuju HUT RI ke-80 pada Minggu (10/8/2025) dengan mengusung tema “Refleksi Bukan Solusi”.
Baca juga: PWI - DPRD Gresik Gelar Dialog Publik Smart Budgeting dan Smart Revenue Dorong Kemandirian Daerah
Acara ini menjadi ajang konsolidasi, transformasi pengetahuan, dan berbagi pengalaman antar pegiat pergerakan di Kabupaten Gresik, dengan tujuan merumuskan kembali bentuk gerakan ideal ke depan.
Sejumlah elemen hadir dalam kegiatan ini, mulai dari kelompok mahasiswa seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi pemuda seperti Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), hingga berbagai organisasi masyarakat, LSM, dan NGO di Gresik.
Di antaranya Pemuda Pancasila Gresik, PATTIRO Gresik, REPDEM Gresik, FORKOT Gresik, MGPK, KNPI Gresik, KASBI, SPSI, PAL, GENPATRA, SRMI Gresik, Pemuda Muhammadiyah Gresik, PSB, dan lainnya.
Kegiatan semakin meriah dengan penampilan grup band lokal, antara lain Shanty Sena, Bunga Bangsa, dan Attitude. GEPAL juga menghadirkan tokoh-tokoh pergerakan Gresik tahun 1998 untuk berbagi pengalaman dan gagasan demi kemajuan bangsa, khususnya di tingkat lokal.
Mantan aktivis 1998 yang kini menjadi anggota DPRD Gresik, Yuyun Wahyudi, menilai kegiatan seperti ini perlu rutin dilaksanakan.
Baca juga: Miliki Jumlah Desa Mandiri Terbanyak, Jawa Timur Pimpin Transformasi Desa Berkelanjutan
“Selain untuk menemukenali masalah-masalah kerakyatan saat ini, kegiatan ini bisa menjadi media serap aspirasi dan pembagian ruang gerak sesuai spektrum gerakan masing-masing organisasi dan individu. Jadi bukan sebatas romantisme semu semata,” ujar Yuyun.
Sementara itu, Achmad Humaidi atau Memed dari Forum Mahasiswa Jombang (FORMAJO) berharap pergerakan ke depan mampu membangun kesadaran kritis massa.
“Tema Refleksi Bukan Solusi ini tepat. Gerakan harus melampaui refleksi, agar kesadaran yang dibangun bukan kesadaran semu,” tegasnya.
Baca juga: Pengabdian Tanpa Batas TPP Terbaik Gresik Meninggal Di Lokasi Tugas Jilid II
Ketua GEPAL, Abdul Wahab, mengungkapkan ide kegiatan ini lahir dari keprihatinan atas kondisi bangsa yang dinilai semakin menjauh dari rakyat.
“Banyak kebijakan yang tidak pro rakyat dan perilaku yang menjauh dari nilai-nilai perjuangan. Di usia bangsa ini, kami ingin mengajak berbagai elemen untuk duduk bersama, menilai kembali apakah kemerdekaan kita sudah seperti cita-cita Tan Malaka—kemerdekaan 100%—atau justru seperti yang dikatakan Widji Thukul bahwa kemerdekaan itu seperti nasi, dimakan menjadi tai,” pungkasnya.
Pewarta Anang Firdaus (red/roy)
Editor : Ibrahim