Kuliner Legenda di Kawasan Herritage, Bandar Grissee

Achmad Rubai : Warung Kare Ayam Pelabuhan Bu Mani, Kenangan Romantisme, Cita Rasa Khas Tak Terlupakan

avatar Zainal Abidin
  • URL berhasil dicopy
Tokoh Masyarakat Gresik, Achmad Rubai bersama jurnalis JatimUPdate.id di depan warung Kare Ayam Pelabuhan Bu Mani, Jumat (27/03/2026). (Foto JatimUPdate.id)
Tokoh Masyarakat Gresik, Achmad Rubai bersama jurnalis JatimUPdate.id di depan warung Kare Ayam Pelabuhan Bu Mani, Jumat (27/03/2026). (Foto JatimUPdate.id)

Bandar Grissee, Gresik, JatimUPdate.id - Kawasan Herritage, Kota Tua Gresik, Bandar Grissee, merupakan wilayah kuliner dengan kesejarahan panjang atas sejumlah pusat jajanan dan warung makan legendaris.

Salah satu warung makan legendaris berlokasi di wilayah pelabuhan Gresik itu adalah Warung Kare Ayam Pelabuhan Bu Mani yang sudah beraktivitas usaha kuliner pada 1985.

Secara khusus tim Redaksi JatimUPdate.id berkesempatan mencicipi sarapan nasi kare ayam yang bercita rasa sangat khas dan rasanya terstandarisasi secara konsisten yang sangat terjaga.

Pada Jumat pagi (27/03/2026), seusai beribadah subuh, Tim JatimUPdate.id secara khusus diajak oleh Tokoh Masyarakat Gresik, Achmad Rubai untuk menikmati cita rasa Nasi Ayam Kare Warung Bu Mina.

"Alhamdulillah, pagi ini terasa nikmat, sarapan di Warung Kare Ayam Pelabuhan Bu Mani yang legendaris dimana telah berusia 41 tahun alias berdiri pada 1985," ungkap Rubai kepada JatimUPdate.id.

Mantan anggota DPRD Jatim 1999-2004, 2004-2009 dan DPR RI 2009-2014 itu, mengakui dirinya sangat punya romantis kesejarahan dengan Warung Makan Ayam Kare Pelabuhan Bu Mani tersebut.

"Ada romantisme dalam kehidupan saya terkait warung Kare ayam legendaris yang berada di Kawasan Herritage Bandar Grissee ini, 1987 saat saya baru menikah, Ibu Mertua membelikan sarapan menantu kesayangannya ini dengan menu Kare ayam ini," ungkap pria kelahiran Madura yang menikah di Gresik pada 23 Agustus 1987 itu.

Suami Dr Herlin itu, menyatakan kekagumannya tentang cita rasa khas Kare ayam Warung Bu Mani yang tidak berubah dari tahun ke tahun hingga generasi ketiga tersebut.

"Sejak makan pertama hingga hari ini, cita rasa khas Kare ayamnya tetap terjaga, ada quality control yang konsisten sehingga rasa itu tetap sama," tegas alumnus IAIN Sunan Ampel yang kini menjadi Universitas Islam Negara Sunan Ampel itu.

Kare Ayam, Ayam Adun

Mbak Mahmudah, generasi ketiga, cucu Bu Mani, pengelola Warung Kare Ayam Pelabuhan Bu Mani menyatakan usahanya ini adalah aktivitas ekonomi keluarga.

"Alhamdulillah saat ini sudah generasi ketiga yang menjalankan usaha warung kare ayam. Warung Bu Mani ini buka mulai lepas subuh, jam 05.00 - 09.00. Tapi kalau ramai pengunjung kadang jam 07.00 sudah selesai," kata Mbak Mahmudah sambil menyuguhkan nasi kare ayam.

Mbak Mahmudah menyatakan bahwa setiap harinya warung kare ayamnya ini bisa menghabiskan sedikitnya 15 ekor ayam kampung khusus.

"Kalau hari biasa 15 ekor, namun bila rame saat hari-hari khusus liburan bisa menghabiskan 27 ekor ayam kampung khusus lehernya berbulu merah. Disebut Ayam Adun," kata Mbak Mahmudah. (za/yh)