Bagikan Paket Makanan Bergizi, PDIP Surabaya Tegaskan Komitmen Zero Stunting

Reporter : Ibrahim
Cegah stunting; PDIP Surabaya bagikan 308 paket makanan bergizi

Surabaya,JatimUPdate.id – DPC PDIP Kota Surabaya membagikan 308 paket makanan bergizi kepada keluarga balita stunting di kawasan Kapas Lor, Tambaksari, sebagai bagian dari komitmen menuju zero stunting.

Plt Ketua DPC PDIP Surabaya, Yordan M Bataragoa, menilai stunting sebagai ancaman serius bagi masa depan bangsa. Menurutnya, masalah ini bukan sekadar soal pertumbuhan fisik, melainkan juga berdampak pada kecerdasan anak.

Baca juga: Armuji Bantah PAW Ketua DPRD Surabaya Mengerucut Tiga Nama: “Jare Sopo?”

“Kalau balita sudah stunting, ke depan akan sulit berkembang. Potensinya terhambat. Satu anak stunting pun sudah terlalu banyak,” tegas Yordan, Senin (18/8).

Ia menambahkan, setiap anak berhak tumbuh sehat jasmani maupun rohani. Karena itu, PDIP Surabaya memastikan kebijakan pemerintah kota terkait penanganan stunting harus berjalan maksimal.

Yordan menyebut PDIP Surabaya telah menugaskan seluruh jajaran kader melakukan pendataan, pemantauan, hingga melaporkan perkembangan kondisi anak stunting di wilayah masing-masing.

Baca juga: Aroma 2029 di Surabaya: Armuji, Kandang Banteng, dan Manuver Dini Kekuasaan

“Karena persoalan stunting menjadi atensi khusus dari Ketua Umum PDI Perjuangan Ibu Megawati Sukarno Putri. Apalagi kita ini partai pengusung wali kota dan wakil wali kota, jadi harus memastikan program benar-benar sampai ke masyarakat,” ujarnya.

Penanggung Jawab Program Surabaya Menuju Zero Stunting DPC PDIP Surabaya, Khusnul Khotimah, mengungkapkan angka stunting di Surabaya terus mengalami penurunan.

Baca juga: Rebut Kembali Kepercayaan Rakyat, PDIP Surabaya Gelar Konsolidasi Dapil 4

Menurutnya data Dinas Kesehatan mencatat, pada 2021 prevalensi stunting sebesar 28,9 persen, turun drastis menjadi 4,8 persen pada 2022, dan kembali turun menjadi 1,5 persen pada 2023. Hingga 2025, tercatat 308 balita terindikasi stunting.

“Kalau sekarang sudah nol pun, enam bulan lagi bisa muncul kasus baru. Karena ada anak lahir dengan kondisi bawaan tertentu. Jadi harus terus dipantau dan ditangani,” jelas Khusnul. (*Roy)

Editor : Miftahul Rachman

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru