Oleh : MS.As-Syadizli*
Jakarta, JatimUPdate.id - Kemarin, Selasa (19/8), salah satu media online nasional di akun medsosnya mengunggah konten dengan judul sensasional : KNPI Jilat Kekuasaan Dorong Saraswati Jadi Calon Ketum. Judul itu menyiratkan seakan-akan langkah KNPI itu sebagai sebuah langkah untuk merapat ke kekuasaan. Padahal, bila menilik dari perjalanan KNPI beberapa tahun belakangan ini, justru langkah dan upaya penyelamatan untuk menyatukan KNPI memang perlu untuk dilakukan.
Baca juga: Teladan Saraswati??
Beberapa hari sebelumnya, Ketua Umum Tunas Indonesia Raya (TIDAR), Rahayu Saraswati, menghadiri acara Rapat Pimpinan Paripurna Nasional DPP KNPI di bawah kepemimpinan Putri Khairunnisa. “Sosok Rahayu Saraswati membawa harapan baru bagi konsolidasi pemuda lintas organisasi dan latar belakang,”demikian kata Ketua Umum DPP KNPI Putri Khairunisa kepada awak media.
Harus diakui, saat ini, payung pemuda Indonesia ini mengalami keterbelahan menjadi beberapa kubu dan sejak lama menyimpan paradoks. Di satu sisi, organisasi ini memiliki sejarah panjang sebagai rumah besar gerakan kepemudaan, lahir dari semangat Sumpah Pemuda dan menjadi wadah berhimpun puluhan organisasi anak muda dari berbagai latar belakang. Namun di sisi lain, realitas kontemporer KNPI justru diwarnai fragmentasi berkepanjangan. Kepemimpinan yang terbelah, kepentingan politik yang bersilang, hingga klaim-klaim legitimasi yang saling tumpang tindih menjadikan KNPI lebih sering tampil dalam wajah konflik ketimbang persatuan.
Fenomena perpecahan ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah KNPI masih mampu menjadi payung pemuda Indonesia? Atau ia akan semakin redup, ditinggalkan oleh generasi yang tumbuh dengan paradigma baru? Di tengah kegamangan itu, muncul gagasan tentang perlunya figur pemersatu, seseorang yang tidak sekadar hadir sebagai ketua umum secara formalitas belaka, melainkan juga harus memiliki kemampuan untuk menghadirkan kepercayaan, meredakan ego politik, dan menghidupkan kembali semangat kolektivitas kepemudaan.
Salah satu nama yang belakangan mulai disebut-sebut sebagai harapan pemersatu itu adalah Rahayu Saraswati, sang Ketua Umum Tunas Indonesia Raya (TIDAR).
Fragmentasi KNPI: Cermin Politik Nasional
Untuk memahami mengapa sosok pemersatu begitu dibutuhkan, kita perlu menengok lebih dalam pada akar perpecahan KNPI. Sejak reformasi 1998, dinamika organisasi kepemudaan ini kerap menjadi perpanjangan tangan partai politik. Banyak partai besar yang melihat KNPI sebagai “ladang kaderisasi” dan basis legitimasi moral di kalangan pemuda. Akibatnya, setiap momentum kongres seringkali diwarnai perebutan pengaruh, hingga melahirkan lebih dari satu versi kepemimpinan.
Fenomena KNPI yang terbelah sebenarnya tak jauh berbeda dari realitas politik Indonesia secara umum. Fragmentasi partai, polarisasi kepentingan, hingga persaingan elite menjadi bayangan yang terus menyelimuti organisasi kepemudaan ini. Bagi publik muda yang makin kritis, kondisi tersebut jelas menjadi ironi. Alih-alih menjadi ruang persatuan dan inovasi, KNPI justru dianggap tenggelam dalam perebutan kursi dan legitimasi.
Di titik inilah muncul kebutuhan akan figur pemersatu: sosok yang tidak hanya memiliki akses pada elit politik, tetapi juga mampu merangkul berbagai kubu dan mengartikulasikan kembali cita-cita kepemudaan yang lebih segar.
Saraswati Joyohadikusumo hadir dengan sejumlah modal penting yang membuat namanya patut dipertimbangkan sebagai simbol pemersatu. Pertama, ia mewakili generasi baru. Di tengah kepemimpinan KNPI yang kerap didominasi figur laki-laki dengan basis politik konvensional, Saraswati menghadirkan wajah baru, perempuan, dan progresif. Identitas ini sendiri sudah cukup untuk memberi warna berbeda dalam tubuh organisasi.
Kedua, Saraswati memiliki sosial kapital dan politik yang kuat. Latar belakangnya sebagai seorang aktivis perempuan membuat ia punya akses pada jejaring elit nasional, tetapi pada saat yang sama ia juga tampil dengan kapasitas pribadi: berpendidikan, berwawasan global, serta aktif dalam berbagai kegiatan keorganisasian. Kombinasi ini memberi peluang baginya untuk menjembatani kepentingan yang kerap bertabrakan di tubuh KNPI.
Ketiga, Saraswati seperti membawa narasi emansipasi dan inklusivitas. Kepemimpinan perempuan dalam organisasi sebesar KNPI bukan sekadar simbol, tetapi juga pesan kuat bahwa era baru sudah datang. Generasi muda tidak lagi bisa dipimpin dengan pola lama yang hierarkis dan maskulin, melainkan membutuhkan gaya kepemimpinan kolaboratif, setara, dan adaptif dengan tantangan zaman.
Tantangan Menjadi Pemersatu
Meski demikian, harapan besar terhadap Saraswati tentu harus diiringi kesadaran akan tantangan yang ia hadapi. Penulis memetakannya menjadi tiga tantangan yang harus siap dihadapi Saraswati bila nantinya ia benar-benar didapuk menjadi Ketua Umum KNPI.
Baca juga: Rahayu Saraswati Serukan Pemuda Jadi Mitra Kritis Pemerintah Prabowo
Pertama, ada risiko stigma dinasti politik. Sebagai bagian dari keluarga besar yang identik dengan pemegang kekuasaan politik nasional saat ini, Saraswati bisa saja dibaca sebagai representasi kepentingan elite tertentu. Padahal, seorang figur pemersatu justru dituntut harus tampil independen, mengedepankan kepentingan pemuda secara luas.
Kedua, dinamika internal KNPI yang sudah lama terpecah tidak mudah dipulihkan hanya dengan kehadiran seorang figur semata. Butuh strategi kelembagaan yang sistematis: rekonsiliasi antar-kubu, pembenahan aturan main, hingga konsolidasi program yang benar-benar relevan dengan anak muda terutama anak-anak Gen Z. Jika tidak, pemersatu hanya akan berhenti pada tataran simbolik tanpa perubahan struktural.
Ketiga, Saraswati harus menghadapi tantangan relevansi generasi. Bagi anak muda hari ini, isu-isu seperti ekonomi kreatif, teknologi digital, iklim, dan kesetaraan jauh lebih penting ketimbang rebutan kursi jabatan. Jika Saraswati ingin diterima sebagai pemimpin sejati, ia harus mampu menawarkan program nyata yang menjawab kebutuhan riil generasi Z dan milenial, bukan sekadar mengelola konflik internal.
Potensi Simbolik dan Strategis
Meski banyak tantangan, potensi yang dimiliki Saraswati tetap signifikan. Kehadirannya bisa menjadi reset button bagi KNPI. Dengan figur perempuan muda sebagai pemimpin, organisasi ini bisa memulai narasi baru: dari konflik menuju kolaborasi, dari politik kursi menuju inovasi program.
Lebih jauh, Saraswati juga bisa memainkan peran strategis sebagai jembatan komunikasi antara kaum muda dan negara. KNPI selama ini masih memposisikan diri sebagai mitra pemerintah, tetapi relasi itu sering tereduksi menjadi sekadar formalitas. Jika dipimpin figur dengan akses politik luas dan kredibilitas sosial, KNPI bisa kembali berfungsi sebagai wadah artikulasi kepentingan pemuda yang lebih efektif.
Selain itu, figur Saraswati dapat mengembalikan KNPI pada citra awalnya: rumah besar yang inklusif. Dengan kemampuan komunikasi dan jejaring yang ia miliki, ia berpeluang merangkul kubu-kubu KNPI yang selama ini berseteru, membangun kompromi baru, dan memperkuat kembali legitimasi organisasi di mata publik.
Baca juga: Ferry Kurnia: Revisi UU Pemilu Harus Berpihak pada Demokrasi
Karenanya, jika saja benar Rahayu Saraswati, yang juga Ketua Umum TIDAR ini hendak diusung sebagai pemersatu KNPI, ada beberapa langkah krusial yang sekiranya perlu untuk diperhatikan dan menjadi catatan. Pertama, rekonsiliasi internal. Langkah pertama adalah mempertemukan kubu-kubu KNPI yang terbelah dalam forum bersama. Tujuannya bukan sekadar bagi-bagi jabatan, melainkan menyusun konsensus baru tentang arah organisasi.
Kedua, KNPI perlu membenahi aturan main, memastikan mekanisme pemilihan dan pengambilan keputusan lebih transparan dan akuntabel. Tanpa reformasi, figur pemersatu hanya akan menjadi kosmetik belaka. Ketiga, reposisi programatik. KNPI harus bergerak dari sekadar “organisasi politik” menjadi organisasi kepemudaan yang relevan dengan zaman. Isu-isu seperti digitalisasi, green economy, hingga pemberdayaan perempuan perlu diangkat sebagai agenda utama.
Keempat, kepemimpinan inklusif. Saraswati, atau siapa pun pemimpin KNPI berikutnya, harus menunjukkan sikap merangkul semua golongan: lintas partai, lintas agama, lintas gender, dan lintas generasi. Hanya dengan cara ini KNPI bisa kembali dipercaya publik.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang siapa yang mampu menyatukan KNPI adalah pertanyaan tentang masa depan kepemudaan Indonesia itu sendiri. Apakah kita masih membutuhkan KNPI sebagai rumah besar pemuda, ataukah organisasi ini akan dibiarkan terfragmentasi hingga kehilangan relevansinya dengan arus zaman yang terus bergerak?
Dalam kerangka itu, nama Saraswati Joyohadikusumo layak untuk diketengahkan dan hadir sebagai harapan baru. Ia membawa wajah segar, modal sosial-politik, serta simbol emansipasi yang bisa menjadi energi pemersatu. Namun, harapan itu tidak bisa hanya bertumpu pada figur. Ia harus diiringi langkah-langkah nyata: rekonsiliasi, reformasi, dan reposisi agenda kepemudaan.
Saraswati memang bukan jawaban tunggal, tetapi ia bisa menjadi jembatan penting menuju era baru KNPI: organisasi kepemudaan yang lebih inklusif, progresif, dan relevan. Di tengah dunia yang berubah cepat, pemuda Indonesia membutuhkan wadah persatuan, dan mungkin, di tangan figur seperti Saraswati, harapan itu bisa kembali menyala. Semoga! (*).
*Penulis adalah Pengurus DPP KNPI*
Editor : Redaksi