Emper Omah Ndeso, Klaten, 27 Mei 2026.
Ngeli Ning Ora Keli: Wajah Baru Kepemimpinan di Jantung Jawa
Oleh Dr. Agus Andi Subroto
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan, Ketua DPD AFEBSI Jawa Timur.
Klaten, JatimUPdate.id - Di sebuah emper rumah di Klaten, siang ini terasa melambat. Namun, di layar gawai yang saya genggam, waktu justru tampak berpacu luar biasa cepat. Sebuah unggahan IG dari Ibu Astrid Widayani, Wakil Wali Kota Surakarta, melintas.
Di tengah kepungan kabar birokrasi yang kerap kali riuh, sosok ini membawa frekuensi yang berbeda.
Ia mengingatkan saya pada satu adagium klasik Jawa yang kini menemukan urgensinya kembali: Ngeli ning ora keli.
Secara harfiah, ia bermakna menghanyut tapi tidak terbawa arus. Sebuah paradoks yang indah. Di era disrupsi, pemimpin dituntut untuk adaptif—mengikuti arus digitalisasi dan ekonomi kreatif—namun di saat yang sama harus memiliki jangkar yang kuat agar tidak kehilangan jati diri.
Bagi Solo, kota yang berdiri di atas fondasi tradisi namun dipaksa berlari oleh tuntutan modernitas, falsafah ini bukan sekadar pemanis bibir, melainkan strategi bertahan hidup.
Ketertarikan saya pada sosok Ibu Astrid bukan semata karena posisi politiknya sebagai orang nomor dua di Surakarta periode 2025–2030.
Sebagai pendidik, saya melihat ada irisan integritas akademik yang kental di sana. Sebelum melangkah ke Balai Kota, ia adalah seorang rektor.
Rekam jejaknya di dunia pendidikan tinggi, khususnya dalam bidang transformasi bisnis dan kewirausahaan, memberikan warna "teknokratis" pada gaya kepemimpinannya.
Pilihan beliau untuk membawa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Surakarta bergabung dalam jejaring AFEBSI Jawa Tengah mempertegas satu hal: ia percaya pada kolaborasi. Dalam dunia entrepreneurship modern, kepemimpinan tidak lagi bersifat tunggal dan hierarkis.
Ia harus berupa ekosistem. Kewirausahaan kini bukan lagi urusan dagang-menjaga-toko, melainkan cara berpikir (mindset) untuk membaca celah inovasi di tengah sempitnya peluang.
Namun, di jantung kebudayaan Jawa, tantangan bagi pemimpin perempuan seringkali lebih subtil ketimbang sekadar urusan administratif. Masih ada gema skeptisisme yang kerap berbisik pelan: "Opo esoh?" (Apa bisa?).
Sebuah kalimat pendek yang mewakili beban sejarah dan stigma gender yang belum sepenuhnya luruh.
Ibu Astrid tampaknya memilih menjawab keraguan itu bukan dengan retorika yang meledak-ledak. Ia menjawabnya dengan attitude dan kapasitas.
Sebagai perempuan pertama yang memimpin Universitas Surakarta, ia sudah terbiasa membedah keraguan publik menjadi pembuktian prestasi.
Kepemimpinannya adalah perpaduan antara ketegasan seorang akademisi dan kelembutan seorang pengayom.
Ia memimpin dengan "telaten"—sebuah kosakata Jawa yang berarti ketekunan yang penuh kesabaran.
Solo hari ini tidak hanya butuh aspal yang mulus atau gedung yang megah. Solo butuh "nyawa" yang mampu menggerakkan anak muda, UMKM, dan pelaku ekonomi kreatif agar mampu berdiri tegak di pasar global tanpa kehilangan "bau tanah" kelahirannya.
Di sinilah relevansi kepemimpinan yang bervisi kewirausahaan. Seorang pemimpin harus mampu berperan sebagai dirigen bagi orkestra inovasi di kotanya.
Esai ini akhirnya bukan sekadar catatan tentang seorang tokoh. Ia adalah sebuah refleksi tentang harapan.
Bahwa di masa depan, kepemimpinan perempuan di ruang publik tidak perlu lagi dipandang dengan sebelah mata atau diawali dengan pertanyaan "apa bisa?".
Dari Klaten, saya melihat sebuah prototipe kepemimpinan masa depan: yang modern dalam gagasan, namun tetap teduh dalam laku.
Ngeli ning ora keli adalah sebuah janji bahwa kita bisa merangkul masa depan tanpa harus mengkhianati masa lalu. Dan barangkali, melalui tangan-tangan yang telaten seperti Ibu Astrid, harapan itu sedang ditenun menjadi kenyataan.
Editor : Redaksi