Mayoritas Warga Jatim Pilih “Fokus Kerja”, Abaikan Aksi Jalanan

Reporter : Redaksi
komunitas pengemudi ojek online (ojol) yang menilai stabilitas daerah jauh lebih bermanfaat dibanding aksi-aksi provokatif yang kerap berakhir ricuh.

Surabaya, JatimUPdate.id – Gelombang demonstrasi dengan berbagai tuntutan politik yang belakangan digelar oleh segelintir kelompok ternyata tidak banyak menggoyahkan warga Jawa Timur. Alih-alih ikut turun ke jalan, mayoritas masyarakat justru memilih untuk berdiri di belakang Gubernur Khofifah Indar Parawansa lewat gerakan yang mereka sebut “Jatim Fokus Kerja.”

Gerakan ini muncul bukan karena instruksi, melainkan tumbuh secara spontan dari berbagai elemen masyarakat. Salah satunya datang dari komunitas pengemudi ojek online (ojol) yang menilai stabilitas daerah jauh lebih bermanfaat dibanding aksi-aksi provokatif yang kerap berakhir ricuh.

Baca juga: PMII Perjuangan Unitomo: Peredaman Live TikTok Rugikan Akses Informasi Publik

Rochmad, koordinator komunitas ojol di Surabaya, menegaskan bahwa mayoritas pengemudi lebih memilih bekerja dibanding menghabiskan waktu dalam aksi jalanan. Ia menilai banyak tuntutan demonstran tidak rasional dan tidak sejalan dengan kewenangan pemerintah daerah.

“Menuntut penurunan pajak misalnya, itu kewenangan nasional, bukan daerah. Kalau dipaksakan justru bisa bikin kacau sistem yang sudah berjalan,” ujarnya, Minggu (24/8).

Menurut Rochmad, pengemudi ojol dan masyarakat kecil pada umumnya lebih merasakan manfaat nyata ketika bisa bekerja dengan tenang. “Demo ujung-ujungnya cuma jadi panggung segelintir orang. Sementara kami butuh pemasukan harian. Jadi lebih baik kerja, bukan ikut gaduh,” tambahnya.

Dukungan publik terhadap Gubernur Khofifah bukan tanpa alasan. Sejumlah capaian pemerintahan selama ini dianggap memberi dampak langsung bagi masyarakat, mulai dari penguatan ekonomi, pemerataan pembangunan, hingga peningkatan kerja sama dengan pemerintah pusat.

Baca juga: Ketum Aliansi Madura Indonesia Kutuk Keras Demo Anarkis di Depan Gedung Negara Grahadi

Fahrudin, tokoh masyarakat yang turut hadir dalam deklarasi “Jatim Fokus Kerja”, menyebut gerakan ini sebagai bentuk kedewasaan politik masyarakat Jawa Timur.

“Kita ingin Jatim tetap stabil. Ekonomi bisa bergerak, pembangunan berlanjut. Jangan sampai energi rakyat terbuang hanya untuk agenda politik jangka pendek,” tegasnya.
“Demo Gak Ngasih Makan”

Hal senada datang dari Rohmatin, salah satu pengemudi ojol perempuan. Ia menilai aksi demonstrasi tidak memiliki manfaat langsung bagi masyarakat kecil.

“Demo gak ngasih makan. Lebih baik cari rezeki halal. Kalau soal pajak atau kebijakan besar, semua ada aturannya. Gubernur gak bisa asal bikin keputusan hanya karena desakan massa,” ucapnya dengan logat khas Jawa Timuran.

Baca juga: GEMPAR Jatim Tegaskan Sikap atas Aksi Demonstrasi di Depan Gedung Grahadi

Fenomena “Jatim Fokus Kerja” kini dianggap sebagai simbol stabilitas. Gerakan ini seolah menjadi pernyataan sikap masyarakat yang lebih mengutamakan pembangunan daripada larut dalam hiruk pikuk politik.

Selama kepemimpinan Khofifah sesuai aturan, kami akan terus mendukung. Yang penting daerah ini aman, tenteram, dan rakyat bisa bekerja.” (dpr)

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru