Surabaya,JatimUPdate.id - Di Kadipaten Surya Kencana, awal musim gugur tahun itu ditandai dengan kabar yang mengejutkan. Dhamar Bimantara, salah satu pejabat Balairung Kadipaten yang dikenal lantang berbicara, berdiri di hadapan rakyat dan menyampaikan keputusan besar.
Ia mengumumkan perjalanan dinas para bangsawan dipangkas separuhnya, tepat lima puluh persen sebagai wujud kepatuhan pada titah Kerajaan Pusat yang tengah menyerukan efisiensi di seluruh wilayah kekuasaannya.
Baca juga: Analisis Lirik “Tangguh” Kobe: Semangat Perlawanan dari Jiwa yang Tak Mau Tumbang
"Jika dahulu anggaran perjalanan mencapai tujuh puluh empat peti emas, kini hanya tiga puluh lima peti yang kita gunakan. Lebih dari dua puluh lima peti emas berhasil kita selamatkan," ujar Dhamar penuh keyakinan, membuat rakyat yang hadir di alun-alun bertepuk tangan riuh.
Suasana saat itu penuh harapan. Rakyat percaya penghematan ini akan membuat kas kadipaten lebih banyak dialihkan untuk memperbaiki jalan rusak, irigasi sawah, atau membantu petani yang gagal panen.
Mereka melihat Dhamar sebagai sosok yang berani memangkas kenyamanan bangsawan demi kepentingan bersama.
Namun, hanya berselang beberapa hari setelah pengumuman itu, kabar beredar cepat dari mulut ke mulut. Kereta-kereta kuda milik Balairung terlihat berangkat menuju Kerajaan Pusat.
Roda-rodanya meninggalkan jejak di tanah berdebu, sementara rakyat kecil di pasar dan persawahan hanya bisa menatap dengan mata penuh tanda tanya.
"Apakah benar perjalanan itu masih bagian dari sisa lima puluh persen?" bisik seorang pedagang kain kepada kawannya.
"Entahlah. Kalau baru empat hari setelah janji itu, lalu kereta kembali berjalan, bagaimana mungkin penghematan itu nyata?" sahut kawannya sambil geleng kepala.
Di bawah pohon beringin alun-alun, para petani berkumpul sambil meletakkan cangkul. Mereka heran, apakah ucapan Dhamar di balairung cuma tebar pesona agar rakyat bertepuk tangan?
Seorang pemuda desa dengan suara nyaring bertanya, "Apakah kita hanya diberi janji manis agar mereka mendapat pujian, padahal kenyataannya tetap sama?"
Baca juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian III
Seorang ibu paruh baya menimpali, "Kalau benar dipangkas lima puluh persen, mengapa kereta tetap berangkat seperti biasa? Tidakkah itu berarti janji hanyalah bayangan?"
Kegelisahan rakyat semakin menjadi. Mereka merasa antara kata dan perbuatan Balairung ada jurang yang dalam. Pengumuman penghematan yang semula dianggap langkah berani kini mulai dipertanyakan.
Di balairung sendiri, Dhamar Bimantara tetap mencoba meyakinkan rekan-rekannya. "Dengan pemangkasan ini, kita harus rela merogoh kantong pribadi. Namun, rakyat harus tetap kita layani." Tetapi bisikan di kalangan rakyat sudah terlanjur membesar.
"Jika benar mereka memakai kantong pribadi, mengapa kereta-kereta itu tetap dibiayai kas kadipaten?" celetuk seorang buruh angkut di pelabuhan.
Dialog rakyat itu berlanjut dari kedai ke kedai, dari sawah ke pasar.
"Aku rasa, ini semua hanya permainan kata," ucap seorang guru desa.
Baca juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian II
"Atau barangkali, janji itu tak lebih dari sandiwara di panggung balairung," sahut seorang tetua kampung.
"Kita ini hanya penonton," tambah pemuda desa, "yang setiap kali harus bertepuk tangan, meski tahu lakon yang dimainkan palsu."
Hari-hari berikutnya, rakyat makin menyadari pengumuman pemangkasan separuh perjalanan mungkin hanyalah cara Balairung menjaga citra di hadapan Kerajaan Pusat.
Sebab kenyataannya, perjalanan dinas tidak benar-benar berhenti.
Kereta kuda terus melaju, meninggalkan debu di jalanan kadipaten. Sementara rakyat kecil hanya bisa menatap dan bertanya-tanya, apakah janji lima puluh persen itu pernah ada, atau sejak awal hanyalah ilusi yang sengaja dipertontonkan?
Editor : Redaksi