Surabaya,JatimUPdate.id – Lagu “Nyanyian Badai” yang dipopulerkan Mel Shandy pada 1991 menyimpan kekuatan lirik yang unik.
Tidak cuma bernuansa mistis, lagu ini menghadirkan imaji apokaliptik yang pekat dengan simbol kehancuran dan kritik sosial.
Baca juga: Mahkota Para Bayangan (Bagian 2)
Bait awal, pilihan diksi yang digunakan sudah menegaskan suasana mencekam.
“Awan hitam dari arah utara, nyanyian badai, gemuruh bersahutan,” tidak hanya melukiskan fenomena alam, tetapi juga memberi kesan ancaman yang terus menghantui.
Lirik ini juga sarat dengan kata konkret seperti awan, badai, darah, buku, petir, hujan, laut, bumi.
Semua kata tersebut hadir bukan cuma sebagai benda nyata, melainkan diberi nyawa melalui metafora dan personifikasi. Imaji visual tampak kuat lewat frasa “air hujan ungu, air laut merah,” sedangkan imaji auditif muncul pada “jerit petir memekak.”
Baca juga: Warkop Ekspektasi Bagian 2: Bara di Ruang Tamu (Seri 1)
Penggunaan gaya bahasa repetisi menjadi ciri khas lain dalam lagu ini. Bait dongengan buku-buku, cerita hantu yang terus diulang membangun suasana horor sekaligus menjaga ritme tetap menghentak, selaras dengan karakter musik rock yang dibawakan Mel Shandy.
Secara tema, lirik “Nyanyian Badai” menggambarkan bukan hanya kerusakan alam, melainkan juga lahirnya “penguasa baru” yang membawa “kenikmatan semu.”
Simbol ini dapat dibaca sebagai alegori tentang kekuatan gelap yang menyesatkan, baik dalam konteks kuasa politik maupun mitologi mistis.
Baca juga: Warkop Ekspektasi: Pertemuan Senja (Bagian 1)
Tipografi lirik pun ikut mempertegas karakter lagu. Penggunaan seruan “ha-ha-ah” menjadi aksen teatrikal yang menambah kesan dramatis dan menyeramkan.
Unsur ini bukan cuma pengisi nada, tetapi juga bagian dari penyampaian pesan yang mendalam.
Editor : Yuris. T. Hidayat