Indonesia Dorong ASEAN Sebagai Destinasi Utama Investasi Global

Reporter : Shofa
Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal (KSPM), Prof. Dr. Tirta Nugraha Mursitama, Ph.D., hadir mewakili Menteri Investasi dan Hilirisasi/ Kepala BKPM dalam acara. ASEAN Investment Area (AIA) Council menggelar pertemuan ke-28 di Kuala Lumpur.

 

Jakarta, JatimUPdate.id — ASEAN Investment Area (AIA) Council menggelar pertemuan ke-28 di Kuala Lumpur pada 23 September 2025.

Baca juga: Mega Investasi Dan Kebocoran Sistemik

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian pertemuan ASEAN Economic Ministers (AEM) ke-57 dan berlangsung pada 22–26 September 2025.

Pertemuan ini menjadi ajang penting bagi para Menteri Investasi dari seluruh Negara ASEAN untuk merumuskan arah kebijakan, memperkuat kerja sama, dan memperdalam integrasi ekonomi kawasan.

Salah satu agenda penting adalah menegaskan kembali peran AIA Council sebagai forum strategis dalam menjaga daya tarik ASEAN sebagai destinasi investasi global.

Baca juga: Prof Tirta : Kalangan Pers Mesti Terlibat Aktif Dalam Membumikan Program Investasi

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani berkali-kali menegaskan tentang menariknya kawasan ASEAN sebagai destinasi investasi, “Oleh karena itu, Indonesia sangat mendukung dan menyampaikan kembali komitmen Indonesia sebagai penggerak investasi ASEAN. Yakni dengan menyeimbangkan kepentingan nasional dan komitmen integrasi Kawasan. Sehingga, ASEAN tetap kompetitif sebagai destinasi investasi internasional.”

Selanjutnya, sebagai bagian dari upaya memperkuat komitmen tersebut, dalam pertemuan AIA Council, Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal (KSPM), Prof. Dr. Tirta Nugraha Mursitama, Ph.D., hadir mewakili Menteri Investasi dan Hilirisasi/ Kepala BKPM. Tirta Mursitama menyampaikan apresiasi atas dukungan berkelanjutan dari UNESCAP, UNCTAD, ASEAN Secretariat, ASEAN CCI, dan ERIA dalam mendorong berbagai inisiatif investasi.
“Pada forum ini, Indonesia menegaskan dukungan penuh terhadap inisiatif ASEAN RIPAP untuk menarik lebih banyak investasi ke kawasan, sekaligus menekankan peran penting ASEAN dalam rantai pasok global sebagaimana tercermin dalam ASEAN Investment Report (AIR) 2025. Serta mendukung kajian mengenai Global Minimum Tax yang menyoroti perlunya penyesuaian strategi kebijakan investasi kawasan termasuk Indonesia.” ucap Tirta Mursitama.
Sebagaimana diketahui, sejak dibentuk pada 1998, ASEAN Investment Area (AIA) telah menjadi tonggak penting dalam mendorong liberalisasi investasi regional. Yakni melalui penghapusan hambatan dan pembukaan akses yang lebih luas. AIA juga dirancang untuk menciptakan iklim investasi kondusif dan kompetitif. “Bagi Indonesia, inisiatif ini membuka peluang memperkuat daya tarik Foreign Direct Investment (FDI) sekaligus meningkatkan posisi strategisnya di kawasan.” tegas Tirta.
Pertemuan AIA Council membahas tiga agenda penting. Salah satu agenda utamanya adalah penyampaian ASEAN Investment Report (AIR) 2025. Laporan ini menyoroti peran penting ASEAN sebagai pusat rantai pasok global, dengan FDI mencapai USD 226 miliar pada 2024 ditengah tekanan ekonomi global. Selain itu, laporan ini memuat dukungan integrasi ekonomi, menekankan perlunya penerapan kerangka kerja rantai pasok yang komprehensif dan penguatan kemitraan strategis. Tujuannya adalah mengatasi kesenjangan kebijakan, tantangan infrastruktur, keterbatasan tenaga kerja, serta tekanan eksternal proteksionis.

Baca juga: Perkuat Fondasi Diplomasi Investasi melalui Penyusunan Bahan Posisi Perjanjian Internasional

 

Indonesia sendiri, mencatat pertumbuhan FDI 13% menjadi USD 24 miliar, terutama di sektor manufaktur EV, pertambangan, perdagangan, dan kesehatan. Pencapaian ini secara otomatis memperkuat posisi Indonesia sebagai hub investasi dan produksi penting di Kawasan ASEAN. “Tentu saja, kinerja positif dapat terwujud melaui program-progam unggulan Pemerintah diantaranya hilirisasi industri, reformasi kemudahan berusaha, dan pengembangan konektivitas serta praktik keberlanjutan.” tegas Tirta.
Selain itu, forum ini juga membahas mengenai ASEAN Regional Investment Promotion Action Plan (RIPAP) yang dikembangkan bersama United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP), ASEAN Coordinating Committee on Investment (CCI), dan Sekretariat ASEAN. Tirta Mursitama menjelaskan, “RIPAP bertujuan menarik lebih banyak investasi asing dengan mempromosikan ASEAN sebagai kawasan yang potensial, khususnya di sektor-sektor unggulan. Dukungan berkelanjutan UNESCAP terhadap pengembangan RIPAP diharapkan dapat mendorong arus investasi lebih besar di tengah ketidakpastian global.”
Agenda lain yang mendapat perhatian adalah terkait isu Global Minimum Tax (GMT). Indonesia mendorong ASEAN untuk menyesuaikan strategi promosi investasi dengan beralih dari insentif berbasis pendapatan ke insentif berbasis aktivitas, seperti kredit R&D atau subsidi tenaga kerja, sekaligus memperkuat tata kelola dan infrastruktur non-pajak. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga daya saing, memastikan keadilan pajak, dan memperkokoh posisi ASEAN sebagai destinasi investasi di tengah dinamika global.
Pertemuan ini menegaskan tekad ASEAN untuk terus memperkuat kerja sama investasi meski menghadapi ketidakpastian global. Termasuk dinamika pajak internasional dan tekanan proteksionisme. Indonesia mendorong ASEAN untuk memperdalam integrasi ekonomi, menyelaraskan regulasi, serta mengalihkan insentif dari berbasis pendapatan menjadi berbasis aktivitas, disertai penguatan infrastruktur dan pengembangan talenta. “Upaya kolektif ini diharapkan tidak hanya memperkuat diplomasi investasi kawasan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, sehingga ASEAN tetap menjadi kawasan investasi yang tangguh, kompetitif, dan relevan di tengah persaingan global.” urai Tirta.

Editor : Miftahul Rachman

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru