Kota Kinabalu, Malaysia — JatimUPdate.id , 26 September 2025. Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan diplomasi budaya lewat Pagelaran Wayang Kulit “Dewa Ruci” di Aula Utama Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Sabah. Acara pukul 08.00–11.00 MYT ini merupakan kolaborasi Direktorat Kerja Sama UB dan SIKK dalam rangka program Globalizing Universitas Brawijaya (GUB) 2025.
Pertunjukan dipimpin Ki Rachmad Dian Kuncoro dari Sanggar Seni Gumelaring Sasangka Aji (GSA), didampingi Tri Sulo, Nurhanief, Arjuno Trio Sasminto, Nikolen Pujiningtyas, dan Muhammad Rizky Kurniawan. Alur dibuka dengan pengantar tokoh dan simbol wayang, disusul adegan yang menonjolkan pengendalian diri, kejujuran, dan pengabdian. Prof. Soni Sukmawan membuka sesi dengan mengaitkan pesan moral Dewa Ruci dengan sikap belajar, kepemimpinan, dan etos kolaboratif.
Baca juga: Peringati HUT TNI ke -78, Makorem 084/BJ Surabaya Gelar Wayang Kulit
Lakon Dewa Ruci—kisah laku spiritual Bima mencari “air kehidupan”—dipilih karena selaras dengan Karakter Brawijayan: integritas, ketangguhan, kerja sama, dan keberanian menghadapi tantangan. Nilai-nilai tersebut disampaikan melalui narasi komunikatif, iringan gamelan, dan dialog interaktif agar mudah dipahami lintas usia dan latar belakang.
“Kegiatan ini adalah ikhtiar mengenalkan budaya kepada pelajar SIKK, diaspora Indonesia, dan warga Malaysia di Sabah, sekaligus inisiasi Program Festival Anak Indonesia di Sekolah Luar Negeri,” ujar Abdul Aziz Jaziri, M.Sc., Ketua Tim Karakter Brawijaya.
Baca juga: Bausastra Urip, Belajar Kepada Wibisana
Direktur Direktorat Kerja Sama UB, Prof. Agung Sugeng Widodo, menambahkan, “Pagelaran Wayang Kulit Karakter Brawijayan menjadi media pengenalan budaya dan nilai yang dapat diaktualisasikan pada diri kita, khususnya warga negara Indonesia di Sabah.”
Dr. Abdul Hair Bin Beddu Asis dari Universiti Malaysia Sabah (UMS) yang turut hadir menyampaikan kesan positifnya. “Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan; ia membuka ruang dialog antara tradisi Nusantara dan masyarakat Sabah. Nilai kejujuran, disiplin, dan gotong royong yang tersaji dalam lakon Dewa Ruci relevan bagi pendidikan karakter,”
Baca juga: Wayang Krucil Kediri Dari Padepokan Cipto Mudho Laras Ikuti Festival Wayang Sedunia Di Bali
UB menegaskan komitmennya memperkuat identitas budaya dan kebangsaan di ranah global sekaligus mempererat jejaring dengan diaspora Indonesia, komunitas lokal di Sabah, dan pemangku kepentingan pendidikan di Malaysia. Seni pertunjukan dipandang sebagai jembatan dialog lintas budaya yang mudah diakses, menghibur, dan sarat edukasi karakter.
Program ini menjadi etalase GUB 2025: inisiatif UB mengintegrasikan internasionalisasi, keberlanjutan, dan penguatan karakter melalui kolaborasi lintas negara. Pagelaran di SIKK menunjukkan implementasi nyata yang inklusif, berdampak, dan berkelanjutan.
UB menyampaikan apresiasi kepada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kota Kinabalu, SIKK Sabah, jajaran guru dan pelajar, perwakilan Universiti Malaysia Sabah (UMS), serta komunitas Indonesia di Kota Kinabalu.
Harapannya, kolaborasi seni–pendidikan ini dapat menjadi agenda rutin dan memperkaya ekosistem pembelajaran yang berakar pada kearifan Nusantara, sekaligus adaptif terhadap konteks global. (*)
Editor : Redaksi