Surabaya,JatimUPdate.id – Lagu Manusia ciptaan Aceh Rock Band yang dirilis pada 1993 membawa pesan moral yang keras dan jujur.
Liriknya berbicara tentang kemerosotan nurani manusia yang terjebak dalam tipu daya, keserakahan, dan kekuasaan.
Baca juga: Analisis Lirik “Tangguh” Kobe: Semangat Perlawanan dari Jiwa yang Tak Mau Tumbang
Dengan diksi sederhana namun menghantam, lagu ini menjadi semacam doa muram di tengah dunia yang kehilangan arah.
Pengulangan kata manusia-manusia di setiap baris awal bukan cuma repetisi, melainkan penegasan tudingan.
Sebutan seperti terkutuk, penipu, penindas, dan pemeras menggambarkan wajah sosial yang bobrok.
Aceh Rock Band menulisnya tanpa simbol rumit langsung dan apa adanya, seperti menampar kesadaran pendengar.
Imaji yang dibangun juga kuat. Baris derita anak manusia sejak lahir Adam dan Hawa mengaitkan penderitaan manusia masa kini dengan akar sejarah keberadaan manusia itu sendiri.
Baca juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian III
Sementara frasa dunia pun semakin gila menandai puncak kekacauan moral yang tak lagi terbendung.
Gaya bahasa dalam lagu ini berpadu antara religius dan satir. Ada peringatan spiritual dalam bait apa yang akan kau bawa ‘tuk menghadap Yang Kuasa, disusul ancaman moral pada baris neraka akan menanti bila setan kita ikuti.
Keseluruhan lirik menggambarkan hubungan sebab-akibat antara dosa, keserakahan, dan kehancuran batin manusia.
Ritmenya cenderung lambat tapi tegas, menyesuaikan karakter lirik yang penuh penekanan moral.
Baca juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian II
Tidak ada permainan rima yang rumit, karena kekuatan lagu ini justru terletak pada pengulangan dan tekanan nada yang mempertegas pesan.
Manusia bukan hanya lagu rock biasa, melainkan kritik sosial dan spiritual tentang hilangnya nurani.
Aceh Rock Band dengan lantang mengingatkan, segala kekuasaan, tipu daya, dan keserakahan akan berakhir pada satu hal: pertanggungjawaban di hadapan Yang Kuasa.
Editor : Miftahul Rachman