Musik Rock Bicara: Dari Korupsi, Fitnah, hingga Rakyat yang Cuma Bisa Bermimpi

avatar Ibrahim
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi

Surabaya,JatimUPdate.id – Derasnya arus musik populer kerap membuat lagu-lagu rock dengan muatan kritik sosial seperti tenggelam. 

Padahal, sejumlah karya justru menyimpan potret tajam tentang kondisi negeri mulai dari kekacauan, manipulasi, hingga suara rakyat yang nyaris tak terdengar.

Dalam lagu Negeri Api milik Power Metal, situasi digambarkan tanpa tedeng aling-aling. Liriknya berbicara tentang bencana, konflik, hingga provokasi yang memicu kerusuhan. 

Rakyat disebut menjadi korban, sementara kekuasaan justru memainkan peran dalam menciptakan kekacauan.

Gambaran itu seperti menemukan penyebabnya dalam lagu Fitnah dari Edane. Di sini, kebohongan, provokasi, dan ujaran kebencian tampil sebagai pemicu utama. 

Liriknya keras, bahkan cenderung kasar, namun justru menegaskan bagaimana fitnah bisa memecah masyarakat dan mendorong konflik terbuka.

Dampaknya tergambar dalam Tragedi milik Boomerang. Lagu ini membawa pendengar pada situasi paling pahit, korban sipil, reruntuhan, hingga kehidupan yang berubah menjadi ketakutan. Tidak ada lagi ruang aman yang tersisa hanya ledakan dan jerit tangis.

Jika ditarik lebih dalam, kritik kemudian mengarah pada akar persoalan melalui Koruptor dari Red Spider. Dengan gaya satir dan frontal, lagu ini menyindir praktik korupsi yang sistematis, termasuk lemahnya efek jera. 

Koruptor digambarkan bukan hanya sebagai pelaku tunggal, tetapi bagian dari jaringan yang lebih besar.

IDUL FITRI 1447H JATIM UPDATE

Peringatan atas kondisi tersebut muncul dalam Tengara milik Cassanova. Liriknya menyebut bencana, kelaparan, hingga hilangnya kemanusiaan sebagai “tengara” tanda ada yang salah dalam cara manusia menjalani kehidupan. 

Namun, kritik paling tajam justru terletak pada sikap manusia yang memilih menutup mata.

Di titik akhir, suara itu berubah menjadi lebih personal melalui Andai Ku Jadi Raja dari /rif

Lagu ini menggambarkan posisi rakyat kecil yang hanya bisa melihat, membayangkan, dan bermimpi menjadi penguasa. 

Realitasnya, mereka tetap berada di bawah bahkan diibaratkan sebagai “alas kaki” bagi para raja.

Rangkaian lagu tersebut jika dibaca secara utuh membentuk satu benang merah, dari kekacauan negara, penyebab konflik, dampak kemanusiaan, akar korupsi, peringatan moral, hingga suara rakyat yang terpinggirkan. (Roy)