Dari
Surabaya, JatimUPdate.id — Seminar Nasional Linguistik Indonesia (SENALA) kembali digelar oleh Program Studi Linguistik Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial, Budaya, dan Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Baca juga: Polri Terus Dorong Personel Asah Kemampuan di Era Digital
Mengusung tema “Transformasi Linguistik di Era Big Data”, SENALA #2 menghadirkan wajah baru dalam kajian linguistik kontemporer, mempertemukan bahasa, budaya populer, dan teknologi digital.
Acara ini dibuka dengan penuh semangat oleh Ketua Panitia, Dewi Puspa Arum, S.Pd., M.Pd., yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa SENALA bukan hanya ajang ilmiah, tetapi juga ruang kolaborasi lintas generasi dan institusi.
“Kami ingin menghadirkan ruang dialog bagi para akademisi dan mahasiswa untuk membicarakan isu-isu linguistik yang aktual dan relevan dengan konteks digital hari ini,” ungkap Dewi Puspa.
Sesi plenary pertama diisi oleh Karlina Denistia, Ph.D. dari Universitas Sebelas Maret.
Ia memukau peserta dengan paparan berjudul “Korpus dan Analisis Linguistik dalam Era Digital” yang menyoroti bagaimana teknologi seperti Google Ngram Viewer dan korpus daring seperti Leipzig dapat digunakan untuk mengkaji tren kebahasaan, termasuk analisis kata dan slogan dalam produk komersial.
Materinya mengajak peserta melihat pentingnya pendekatan korpus sebagai metode kuantitatif sekaligus kualitatif yang memungkinkan analisis pola penggunaan bahasa dalam skala besar.
Sementara itu, Nazarudin, M.A. dari Universitas Indonesia, membawa perspektif yang lebih humanistik dalam presentasinya tentang “Revitalisasi dan Pelestarian Bahasa Daerah melalui Digitalisasi”.
Baca juga: Kampanye Digital Dalam Pemilu 2024 Mendorong Pemilih Lebih Mengenal Calon
Ia mengungkap bagaimana banyak bahasa daerah saat ini berada di ambang kepunahan, dan bagaimana peran digitalisasi—melalui kamus digital, dokumentasi audio-visual, hingga integrasi ke dalam platform media sosial—dapat menjadi strategi untuk menghidupkan kembali bahasa-bahasa tersebut.
Koordinator Program Studi Linguistik Indonesia, Dr. Endang Sholihatin M.Pd., menyambut baik antusiasme peserta yang hadir dari berbagai daerah di Indonesia.
“Transformasi digital telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Melalui SENALA ini, kami ingin mengajak para peserta melihat bagaimana kajian linguistik bisa turut berperan dalam menjawab tantangan zaman,” ujar Endang Sholihatin.
Dr. Achmad Fawaid, moderator kegiatan juga menambahkan bahwa salah satu keunikan SENALA tahun ini adalah keberanian membahas bahasa populer generasi muda seperti “Skibidi”, “Sigma”, dan “Delulu” dalam konteks linguistik dan budaya digital.
“Kami ingin menunjukkan bahwa tidak ada batasan tema dalam linguistik; bahkan kata-kata viral pun punya nilai ilmiah untuk dikaji,” jelasnya.
Baca juga: UB Deklarasikan Diri Sebagai Artificial Intellegence Dan Digital Campus
SENALA #2 juga menampilkan berbagai pemakalah dari kalangan dosen dan mahasiswa, baik secara paralel maupun poster presentation.
Seminar ini diharapkan menghasilkan kontribusi intelektual yang nantinya akan dihimpun dalam bentuk prosiding ilmiah nasional.
Sebagai penutup, panitia menyampaikan bahwa SENALA akan terus menjadi ruang untuk membumikan kajian linguistik di tengah cepatnya perubahan teknologi dan budaya.
Seperti yang disampaikan oleh salah satu peserta, “Di SENALA, saya merasa bahasa tidak lagi hanya tentang kata dan tata bahasa, tetapi juga tentang data, visual, dan suara digital.” (pm/roy)
Editor : Ibrahim