Oleh : Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Communiy of Critical Social Research, Probolinggo, Jurnalis JatimUPdate.id.
Baca juga: Museum Gubug Wayang Mojokerto Gelar "Visit Culture," Ajak Generasi Muda Cintai Sejarah
Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id - Dunia saat ini mengalami perubahan yang sangat cepat dan dinamis, ditandai dengan kemajuan teknologi, globalisasi, dan transformasi sosial yang masif.
Perubahan ini membawa banyak peluang, namun sekaligus memunculkan tantangan besar, terutama bagi generasi muda. Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa harus dibekali dengan kemampuan adaptasi, keterampilan hidup, serta nilai-nilai moral dan spiritual agar mampu menghadapi kompleksitas masa depan.
Dalam konteks ini, MBG (Moral, Budi Pekerti, dan Generasi) menjadi pendekatan penting dalam membentuk fondasi karakter anak.
MBG tidak hanya berbicara tentang pengajaran etika, tetapi juga mencakup pembentukan kepribadian, penguatan nilai-nilai kebangsaan, serta penanaman kecerdasan sosial-emosional yang berkelanjutan.
Anak-anak tidak cukup hanya pintar secara akademik, tetapi juga harus memiliki integritas, empati, dan kemampuan berpikir kritis.
Seiring dengan perubahan zaman, banyak tantangan baru yang muncul. Dunia digital misalnya, telah membuka akses informasi tanpa batas bagi anak-anak.
Namun, di sisi lain, hal ini juga menimbulkan risiko seperti paparan konten negatif, penyalahgunaan media sosial, hingga berkurangnya interaksi sosial yang sehat.
Dalam situasi ini, peran MBG menjadi semakin vital sebagai benteng moral yang menjaga anak tetap pada jalur yang benar.
Selain tantangan teknologi, anak-anak masa kini juga menghadapi kompetisi global yang ketat. Dunia kerja dan kehidupan sosial di masa depan akan menuntut keterampilan yang lebih kompleks dibandingkan masa sekarang.
Oleh karena itu, pendidikan yang menekankan MBG sejak dini akan memberikan bekal yang kuat untuk menghadapi tantangan tersebut, tidak hanya dalam konteks lokal, tetapi juga global. Keluarga, sekolah, dan masyarakat memegang peranan penting dalam implementasi MBG.
Sinergi antara ketiganya akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan karakter anak. Pendidikan karakter tidak dapat berjalan sendiri, melainkan harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan semua pihak untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi anak-anak saat ini adalah krisis identitas dan moral. Akses informasi yang terlalu luas sering kali membuat mereka bingung dalam menentukan mana yang benar dan salah.
MBG hadir untuk memberikan kompas moral yang kuat agar anak-anak dapat memilah informasi dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang benar.
Selain itu, perubahan gaya hidup yang serba cepat sering kali membuat anak kehilangan makna kehidupan yang sesungguhnya. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesederhanaan, dan tanggung jawab mulai terpinggirkan.
Melalui MBG, anak-anak dapat diarahkan untuk kembali memahami pentingnya nilai-nilai tersebut sebagai fondasi kehidupan yang bermakna. Dunia kerja di masa depan akan sangat berbeda dengan saat ini.
Banyak pekerjaan yang saat ini ada akan tergantikan oleh kecerdasan buatan dan otomatisasi. Oleh karena itu, anak-anak harus dipersiapkan dengan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.
MBG dapat berperan dalam menanamkan keterampilan ini melalui pendekatan pendidikan yang holistik. Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah isu kesehatan mental.
Tekanan akademik, ekspektasi sosial, dan pengaruh media sosial sering kali memicu stres, kecemasan, bahkan depresi pada anak-anak.
Pendidikan MBG dapat membantu mereka mengembangkan kecerdasan emosional, mengenali perasaan diri sendiri, serta membangun ketahanan mental untuk menghadapi berbagai tekanan hidup.
MBG juga memiliki peran besar dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan di tengah arus globalisasi. Anak-anak perlu memahami identitas budaya dan jati diri bangsa agar tidak mudah terombang-ambing oleh pengaruh budaya luar.
Dengan bekal nilai nasionalisme, mereka dapat menjadi generasi yang terbuka terhadap dunia namun tetap bangga dan teguh pada akar budayanya. Selain peran keluarga, sekolah merupakan institusi penting dalam implementasi MBG.
Baca juga: Pj. Sekdaprov Jatim Ajak Generasi Muda Kuasai Teknologi Untuk Songsong Indonesia Emas 2045
Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai tempat pembentukan karakter. Kurikulum yang terintegrasi dengan pendidikan moral dan nilai-nilai kehidupan akan memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan anak.
Guru juga harus berperan sebagai teladan yang baik. Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dan rasakan.
Keteladanan guru dalam bersikap jujur, disiplin, dan berempati akan menjadi pelajaran hidup yang tak ternilai bagi para siswa. Masyarakat sekitar pun tidak kalah penting dalam mendukung pembentukan karakter anak.
Lingkungan sosial yang positif akan memberikan ruang bagi anak untuk belajar berinteraksi, menghargai perbedaan, dan mengembangkan rasa tanggung jawab sosial.
Oleh karena itu, sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu terus ditingkatkan. Dalam dunia digital, literasi digital menjadi bagian tak terpisahkan dari MBG. Anak-anak perlu dibekali dengan kemampuan berpikir kritis dalam menyaring informasi, memahami etika berinternet, serta memanfaatkan teknologi secara positif.
Literasi digital bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga soal tanggung jawab moral dalam menggunakan teknologi. Kreativitas dan inovasi juga harus menjadi fokus dalam pendidikan MBG.
Anak-anak perlu didorong untuk berpikir di luar kebiasaan, menciptakan solusi bagi masalah-masalah nyata, dan berani mengambil risiko. MBG dapat membantu menanamkan nilai pantang menyerah, kerja keras, dan keberanian dalam menghadapi tantangan.
Ide Kreatif Penerapan MBG
Penerapan MBG dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan kreatif. Salah satunya adalah melalui pembelajaran berbasis proyek yang menggabungkan aspek akademik dengan nilai-nilai moral.
Misalnya, proyek sosial yang melibatkan siswa dalam kegiatan kemanusiaan akan melatih empati dan kepedulian mereka terhadap sesama. Selain itu, penggunaan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung implementasi MBG.
Aplikasi pembelajaran interaktif yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan melalui permainan edukatif dapat membuat anak-anak belajar dengan cara yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan mereka.
Baca juga: Yuhronur: HMI Dapat Menjadi Transformasi Generasi Muda Mewujudkan Good Society
Pendekatan seni dan budaya juga dapat menjadi media efektif dalam membentuk karakter anak. Melalui kegiatan seperti drama, puisi, atau musik, anak-anak dapat belajar tentang nilai-nilai seperti kerja sama, keberanian, dan kejujuran secara kontekstual.
Program mentoring atau pendampingan juga merupakan strategi yang efektif. Anak-anak dapat didampingi oleh figur panutan yang memberikan arahan dan inspirasi dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Hubungan yang dekat antara mentor dan anak akan menciptakan ruang dialog yang konstruktif dan mendalam.
Kolaborasi lintas sektor, seperti antara sekolah, lembaga swadaya masyarakat, dan dunia industri, juga dapat memperluas cakrawala anak dalam memahami realitas kehidupan. Mereka akan belajar tentang tanggung jawab sosial, etika kerja, serta pentingnya berkontribusi bagi masyarakat.
Kesimpulan
MBG (Moral, Budi Pekerti, dan Generasi) adalah fondasi penting dalam membentuk karakter anak menghadapi masa depan yang penuh tantangan.
Pendidikan karakter tidak boleh dipandang sebagai tambahan, melainkan sebagai inti dari proses pembelajaran itu sendiri.
Dunia yang terus berubah menuntut anak-anak tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga integritas, empati, dan kemampuan berpikir kritis.
Nilai-nilai tersebut akan menjadi bekal utama mereka dalam menghadapi kompleksitas kehidupan global yang tidak menentu.
Penerapan MBG memerlukan kerja sama semua pihak: keluarga, sekolah, masyarakat, bahkan pemerintah. Sinergi ini akan menciptakan ekosistem pendidikan yang holistik dan berkelanjutan dalam membentuk generasi masa depan. Berbagai pendekatan kreatif dapat dilakukan untuk mengintegrasikan MBG ke dalam kehidupan anak, mulai dari pembelajaran berbasis proyek, literasi digital, hingga kegiatan seni dan budaya.
Semua itu bertujuan untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan relevan. Dengan MBG sebagai dasar, anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral, berjiwa sosial tinggi, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Mereka akan menjadi generasi penerus bangsa yang mampu membawa perubahan positif bagi dunia. (pm/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat