Di Balik Euforia SNBP, Ada Banyak yang Memilih Diam
Oleh : Miftahul Huda, M.Psi
JatimUPdate.id - Hasil SNBP (Seleksi Nasional Berbasis Prestasi) 2026 yang diumumkan pada Selasa, 31 Maret 2026 pukul 15.00 WIB mencatat sebanyak 178.981 siswa dinyatakan lolos dari total 806.242 pendaftar. Artinya, ada lebih dari 600 ribu siswa yang harus menerima kenyataan tidak diterima di jalur ini.
Hasilnya memang sudah seminggu di umumkan, namun saya masih melihat euphoria-nya sampai hari ini. Maka saya ingin memberikan jawaban dan menemani mereka yang belum berhasil dalam SNBP dari sudut sederhana psikologi.
Di momen ini sebenarnya yang membuat berat bukan di hasilnya, melainkan cara kita dan lingkungan memaknainya. Mengapa? Karena di ruang sosial, baik lingkungan sekitar mauupun media sosial yang tampak hanya 178,981 siswa yang lolos.
Mereka muncul dengan euphoria ucapan selamat, desain poster sekolah, bahkan selebrasi dengan konten-konten tiktok, dll. Sementara itu 600 ribu lebih siswa memilih diam dan mencoba baik-baik saja. Akhirnya, realitas terbaik, yang sedikit terlihat seperti mayoritas, namun justru banyak yang merasa sendirian.
Sedikit kita uraikan dengan kacamata Psikologi Sosial, ini sangat masuk akal. Manusia memang cenderung menilai dirinya dari apa yang terlihat di sekitarnya. Ketika yang terlihat keberhasilan orang lain, maka yang muncul adalah perbandingan.
Masalahnya, perbandingan ini tidak seimbang dengan realitasnya. Kita terlalu membandingkan proses diri sendiri yang penuh usaha, lelah, keraguan, ketakutan, dengan hasil akhir orang lain yang sudah rapi dalam postingan media sosial dan siap dipamerkan.
Sampai sini akhirnya banyak siswa mulai goyah. Mereka tidak sekadar kecewa karena tidak lolos, tapi mulai mempertanyakan dirinya: “Saya kurang apa?” Padahal kalau ditarik ke data tadi, peluang lolos itu memang terbatas. Ini bukan semata soal pintar atau tidak, tapi juga soal sistem seleksi yang ketat, kuota, dan persaingan yang tidak sederhana.
Yang mungkin juga sering kali terjadi, kegagalan ini langsung dihubungkan dengan harga diri. Dalam istilah psikologi, ini berkaitan dengan Self-esteem. Ketika seseorang terlalu menggantungkan nilai dirinya pada satu hasil, maka satu kegagalan bisa terasa seperti runtuhnya seluruh kepercayaan diri. Padahal realitanya tidak sesederhana itu.
Belum lagi efek media sosial yang memperkuat perasaan “tertinggal”. Ketika teman-teman mulai upload ucapan selamat, memakai atribut kampus impian, atau sekadar menulis “Alhamdulillah lolos”, yang tidak lolos sering merasa tertinggal jauh. Ini yang sering disebut sebagai Fear of Missing Out atau FOMO. Bukan iri dalam arti sempit, tapi ada rasa ketinggalan momen yang dianggap penting dalam hidup.
Padahal kalau kita tarik napas sedikit lebih panjang, SNBP itu hanya satu jalur dari sekian banyak jalan. Masih ada UTBK, jalur mandiri, UM-PTKIN (Jalur KEMENAG) bahkan jalan hidup yang sama sekali berbeda dari bayangan awal. Tapi karena narasi yang berkembang di sekitar kita terlalu menekankan SNBP sebagai “jalur prestisius”, maka yang tidak lolos seolah merasa pintunya sudah tertutup.
Sebelum menjadi dosen, saya selama 2 tahun pernah mendampingi siswa dalam proses ini, saya justru sering menemukan cerita yang sebaliknya. Banyak siswa yang dulu tidak lolos jalur awal, tapi justru berkembang lebih baik setelah masuk lewat jalur lain. Ada yang awalnya merasa “kalah”, tapi di kampus malah menemukan arah, percaya diri, dan prestasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Dari situ kelihatan bahwa perjalanan seseorang itu tidak ditentukan oleh satu pintu yang terbuka atau tertutup.
Maka yang perlu pelan-pelan kita ubah adalah cara pandang. Bahwa tidak lolos SNBP bukan berarti gagal dalam hidup. Itu hanya berarti jalurnya berbeda. Dalam bahasa yang lebih sederhana: bukan berhenti, tapi belok sedikit. Di fase seperti ini, yang dibutuhkan bukan sekadar motivasi kosong, tapi cara berpikir yang lebih sehat. Dalam psikologi dikenal istilah Growth Mindset, keyakinan bahwa kemampuan itu bisa terus berkembang, tidak berhenti di satu hasil saja.
Dengan cara pandang ini, kegagalan tidak dilihat sebagai akhir, tapi sebagai bagian dari proses. Dan mungkin, yang juga penting untuk kita semua, belajar merayakan dengan lebih bijak. Boleh bahagia, boleh bangga. Tapi jangan sampai perayaan itu tanpa sadar membuat yang lain merasa kecil. Karena kalau melihat data tadi, yang sedang berjuang itu justru jauh lebih banyak. (*)
Editor : Redaksi