Biro Trans7 Jatim Disegel Santri: Kami Merasa Diremehkan, Siap Terima Konsekuensi 

Reporter : Ibrahim
Santri segel Kabiro Trans7 di Jalan Yos Sudarso

Surabaya,JatimUPdate.id - Biro Trans7 Jawa Timur yang berkantor satu atap dengan Bank Mega di Jalan Yos Sudarso Surabaya disegel oleh puluhan santri, Kamis (16/10).

Penyegelan dilakukan setelah mereka melakukan orasi. Penyegelan itu dilakukan sebagai bentuk protes atas tayangan yang dinilai melecehkan pesantren.

Baca juga: Hari Santri Nasional, Muhammad Saifuddin: Santri Harus Melek Digital Tapi Tetap Berakhlak

Koordinator aksi, Assyiqun, mengatakan penyegelan dilakukan setelah tuntutan massa tidak diindahkan. 

“Ya Alhamdulillah, hari ini kita sudah mengambil keputusan dan kita sudah berhasil menyegel Bank Mega hingga sampai tuntutan kita dipenuhi,” ujarnya kepada wartawan di lokasi.

Assyiqun menjelaskan dua tuntutan utama massa. Pertama, meminta agar CEO atau pemilik Trans7 sowan ke ponpes Lirboyo

Kedua, mereka menuntut boikot terhadap Trans7 di Jawa Timur sebagai bentuk tekanan agar kasus tidak dianggap remeh.

Baca juga: Tradisi yang Disalahpahami: Antara Cinta Santri dan Bias Cara Pandang Modern

“Kami minta CEO atau bosnya Trans7, Choirul Chairul Tanjung sowan ke Ponpes Lirboyo langsung, bukan adiknya. Yang kedua, tuntutan kami agar supaya Trans7 diboikot di Jawa Timur. Karena kalau tidak begini, mereka akan meremehkan kami,” kata Assyiqun.

Menurutnya, persoalan sudah muncul sejak tanggal 13, namun hingga kini belum ada itikad baik dari CEO Trans7 untuk sowan dan minta maaf ke Ponpes Lirboyo 

Karena itu massa merasa terpaksa mengambil langkah penyegelan. 

Baca juga: Santri Melawan Dua Arus: Tambang Serakah di Kangean dan Framing Trans7 yang Menyakiti Pesantren

“Jadi jangan terpaksa kami bertindak seperti ini. Karena ini sudah tanggal berapa? Dan masalah ini kan sudah dari tanggal 13. Tapi sampai detik ini kok masih diremehkan seperti itu,” katanya.

Meski menyadari konsekuensi tindakan mereka akan berdampak pada aspek hukum, Assyiqun menegaskan santri siap menanggung risiko. 

“Wah kami sangat menerima konsekuensinya, bagi kami siapapun yang menghina atau melecehkan Kiai kami maupun pesantren, ya kami harga mati, kami harus bela mati-matian,” demikian Assyiqun. (Roy)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru